Minggu, 16 Agustus 2015

Sebuah surat untuk Indonesia

Dari : Stephanie Dwiputri Suciadi, warga negaramu

Selamat ulang tahun yang ke-70!

Sebetulnya aku ingin memberikan hadiah untukmu. Satu-satunya yang terpikirkan adalah donor darah. Tapi belum tentu bisa terlaksana karena tergantung faktor Hb dan lain-lain. Aku bukan orang yang suka membuat video, jadi aku tidak akan membuat video sebagai hadiahmu. Aku juga bukan ilustrator yang akan menghadiahkan gambar untukmu. Aku tidak ahli membuat puisi juga. Jadi aku membuat surat ini sebagai hadiah untukmu.

Pertama-tama aku mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Atas kesediaannya menjadi tanah airku, dan menerimaku sebagai warga negaramu. Atas keluargaku yang boleh lahir dan tinggal di sini. Atas orang-orang baik yang membantuku menjalani hidup secara langsung maupun tidak langsung. Atas alam yang indah sebagai tempatku melepas penat. Atas sumber daya yang melimpah yang membantuku tumbuh dan berkembang sampai sebesar ini (iya, aku sungguh-sungguh besar karena makananmu enak-enak, terutama Indomie (y)). Dan terakhir, untuk pendidikan yang boleh aku jalani di sini sampai SMA. Aku sangat berterima kasih dengan adanya sekolah-sekolah tersebut yang mendidik aku menjadi lebih pintar dan dewasa.

Aku minta maaf karena aku belum bisa membanggakanmu ataupun memberikan sesuatu yang berguna untukmu. Aku belum menjadi siapa-siapa.

Mungkin kamu kecewa, tapi aku juga pernah kecewa. Aku kecewa dengan birokrasi yang rumit, dengan pemerintahan yang pernah diisi oleh orang-orang tidak pantas, kurangnya moral dan etika masyarakat, kriminalitas yang terjadi, ketidakadilan, kesenjangan sosial, dan banyak lagi.

Aku mungkin sama dengan masyarakat lain yang mengeluh tanpa berbuat. Tapi aku berjanji, untuk kembali lagi dan memperbaiki hal-hal yang mengecewakanku. Aku janji, aku pasti kembali. Untukmu, Indonesia.

Aku kurang dari tiga Indonesia!