Rabu, 12 Juni 2019

Snow White's Dark Side

This week is like a turning point for all the fairy tales I read and watch, especially Disney's movies. On Monday, I watched Snow White in German (Schneewittchen) in my German Class. I couldn't concentrate to watch the film since my teacher kept talking and explaining the story. He also told us the original story written by Brothers Grimm, where the Queen is Snow White's birth mother, Snow White was just a 7-year-old girl and at the end of the story, the Queen was forced to dance on burning-red iron shoes until she died.

After watching the film, I realized that Snow White is stupid because she was tricked by the Queen THREE TIMES! It's really stupid to not learn from experience, right? And I also realized that Snow White's only advantage is her beauty and cheerful character maybe. In rude Bahasa I would likely to say, "Cuma modal cantik dan dicium pangeran". (Kayaknya Ami pernah ngomong ini pas SMA, deh)
I know it's fiction, but it just doesn't make sense to make a character live happily ever after just because she is beautiful. You need to be smart and a hard worker to survive, don't you?

Today (Wednesday), the teacher continued to talk about the movie and also the original story. He said that originally, the prince was pictured as a stupid pedophile, certainly not an idolized character like in Disney's stories. And he also said that Snow White was the one who forced her own mother to dance on the burning shoes. In the movie, Snow White is pictured as a cheerful girl, but maybe, she is happy because she knows that she is more beautiful than the Queen and deep inside, she is much meaner than the Queen.

It reminds me of Strategic Cinderella and suddenly, I doubted all the fairy tales, especially about princesses, I know.
I used to be happy to read stories about a princess who fell in love with a prince and get married and live happily ever after. I thought fairy tales are real stories polished with magical elements and I believed that I could learn life value from fairy tales. I grew up believing that I can be a princess and someday I will marry a prince.
However, knowing the original story of Snow White, made me think that fairy tales are just tales, with neither moral nor life value.

Is this a part of growing up and being an adult? LOL

I think watching modern Disney or Pixar movies like Brave, the Princess and the Frog, Tangled, etc. has more value since the characters show how they pursue what they want and how they work hard to achieve their dreams.

Minggu, 12 Mei 2019

TED Talk

I'm currently addicted to TED Talk.

Sebelum gw tergila-gila ini, gw udah pernah nonton TED Talk beberapa kali. Baik di pelajaran sekolah, atau karena keinginan sendiri. Alasan utama kenapa gw suka sama TED Talk adalah karena gw bisa mendengar ide-ide dari berbagai macam profesional secara relatif singkat, tapi tetap menginspirasi. Sebelum gw kenal TED talk, gw hampir gak pernah nonton seorang profesional menjelaskan bidangnya. Biasanya yang disorot itu kan presiden, politikus, artis, dan sebagainya terkait dengan kehidupan pribadi mereka. Tapi hampir gak ada kesempatan untuk denger pembicaraan pengusaha sukses, peneliti, penulis buku, dan lainnya kalo bukan di seminar-seminar khusus. Tapi TED ini menyediakan video oleh orang-orang yang sebelumnya jarang disorot, atau bahkan gak pernah dikenal, secara gratis buat ditonton di Youtube dan di Website nya sendiri. Ya, kalian tau lah gw suka yang gratis-gratis.

Hal lain yang bikin gw suka sama TED adalah dia memotivasi gw di saat gw putus asa. Misalnya, waktu gw hampir menyerah belajar basic matematika murni tentang turunan dan integral (mata kuliah wajib nih) yang banyak ngafalin teori-teori matematika ribet yang gw pikir gak akan berguna, gw mencari video tentang teori matematika, yang bisa membangkitkan semangat gw belajar. Dan ketemulah sama video ini:


If you want to tell someone that you will love them forever, you can give them a diamond. But if you want to tell them that you'll love them forever and ever, give them a theorem! However, you'll have to demonstrate, that your love doesn't stay a conjecture.  
Dengan penjelasan yang menarik dan perumpamaan yang bagus, semudah itu gw kembali semangat buat belajar teori matematika.

Biarpun TED ini gak ngajarin detailnya ilmu tersebut, justru itulah kelebihannya. TED Talk ngasih tau kita apa yang menarik dari suatu ilmu/tema. Kalau kita tertarik, kita bisa belajar lebih lanjut dari buku atau media lain. TED adalah sarana untuk mengeksplorasi bidang-bidang yang kita tidak tahu sebelumnya, tanpa harus membaca buku tebal untuk tahu daya tariknya.

Terus di saat gw ngenes (gw emang selalu ngenes sampe sekarang), gw juga menemukan video ini:


Dan gw menjadi yakin, that it's okay to be picky. Mungkin gw masih jomblo karena gw picky (gw gak pernah nolak orang yang nembak gw sih, karena emang gak ada juga), tapi kalo di dunia nyata gw belom nemu jodoh juga sampe umur tertentu, gw ada harapan bisa menemukan jodoh gw suatu saat nanti pakai online dating app. 

Gw udah sadar nih sama bagusnya TED Talk. Tapi gw gak nonton TED Talk tiap hari gara-gara itu. Malahan gw sempet melupakan TED Talk sebagain konten Youtube yang berfaedah. Gw selalu milih nonton Return of Superman dan video-video masak, yang sebenernya gak jelek, tapi ya not really inspiring.  

But honestly, I never forget the way TED motivated me. Suatu hari, Irin, temen kuliah gw, ngajakin jadi staff TEDx di kampus gw. Karena gw suka sama TED Talk dan gw juga pengen melakukan sesuatu di luar belajar, gw ikutan lah jadi Speaker Team Leader. Nah terus, tanggal 27 April lalu, gw bareng sama Irin, Souta dan Kouta, volunteer di acara TEDxOtemachi. Di sana gw cuma sempet nonton sedikit sih, tapi pembicaranya yang live bener-bener menginspirasi. Di situlah gw jadi tambah semangat buat jadi staff TEDxKeioUHiyoshi dan juga tergila-gila sama TED Talk.

Suatu malam setelah TEDxOtemachi, gw lagi gak ada niat sama sekali buat ngerjain tugas yang menumpuk. Lalu gw mencari video TED Talk sebagai pelarian. Tapi masalahnya, video TED Talk udah banyak banget, dan jujur aja gak semuanya bagus dan menginspirasi. Ketika gw pusing mencari TED Talk yang bagus, dan gw memutuskan untuk pakai keyword aja, waktu itu 'math', gw ketemu sama TEDxBandung Sujiwo Tejo. 



Siapa sangka, seorang Sujiwo Tejo dulunya kuliah matematika? Isi TED Talk nya juga ngasih pandangan baru soal matematika yang belum pernah gw denger sebelumnya. Kemudian lanjutlah gw nonton TEDxBandung yang lainnya dan juga TEDxJakarta, kayak Ridwan Kamil, Jubing Kristianto, dll. Setelah nonton itu, gw jadi terharu. Gw mencari TED yang bagus, yang bisa menginspirasi, tapi setelah coba nonton beberapa yang dalam bahasa Inggris, gw gak merasa itu bagus. Tapi ternyata yang gw cari itu ada di negara gw sendiri. Gw semacam diingatkan bahwa gw berasal dari Indonesia, dan Indonesia juga punya potensi yang gak kalah dari negara lain. 

Satu video lagi yang sangat menginspirasi (gw gak punya kata lain haha):



Gw suka banget sama bagian akhir dari video ini, di mana ada kutipan dari Le Petit Prince.
Mata itu buta, harus mencari dengan hati. 
Dengan rasa haru yang belum hilang dari paragraf sebelumnya, kalimat ini seolah-olah ngasih tau gw, "Mau pergi keliling dunia pun, kamu gak akan menemukan yang kamu cari kalau tidak melihat dengan hati. Sesungguhnya, di tanah airmu pun, kamu bisa menemukannya."

Jumat, 26 April 2019

Keio-Aachen Summer School

Program exchange ini bikin kepala gw pusing selama satu minggu terakhir.

Semuanya bermula tahun lalu, di mana gw mulai mempertanyakan, "Kenapa gw masuk Keio? Kenapa gw gak masuk Waseda? Coba kalo gw belajar lebih giat, gw bisa masuk ke Todai." Entah kejadian apa yang bikin gw rada-rada nyesel masuk Keio waktu itu. Mungkin karena gak banyak program exchange ke luar negeri yang sesuai harapan gw kali ya. Gw pengen banget bisa ikut pertukaran pelajar selama liburan panjang dan belajar tentang hal yang berhubungan sama jurusan gw. Gw gak terlalu tertarik sama bisnis, hubungan internasional dan hukum yang merupakan sebagian besar program exchange yang tersedia di Keio.

Lalu mulailah gw berpikir untuk melakukan hal-hal yang cuma bisa dilakukan di Keio supaya gw gak menyesal-menyesal amat. Kayak misalnya, ikut lomba programming mewakili Keio, berusaha lebih aktif di klub berkebun (tapi gagal sih haha), dan juga ambil pelajaran yang kayaknya gak ada di universitas lain. Selain itu, gw juga tetep keukeuh nyari program exchange khusus murid science and engineering. Karena emang sedikit banget, dan yang termasuk belajar engineering cuma satu, yaitu Keio-Aachen Summer School ini, gw cukup nekat untuk bisa daftar. Syaratnya adalah harus ada pengalaman belajar bahasa Jerman selama satu tahun atau lebih. Karena gw gelap mata banget pengen exchange, jadilah gw ambil pelajaran bahasa Jerman selama satu tahun itu. Awal-awal gw cukup niat lah, belajar sendiri dari Duolingo tiap hari di luar pelajaran yang gw ambil. Tapi lama-lama gw jadi gak terlalu semangat belajarnya, biarpun niat ikut exchange nya masih tinggi.

Btw, program exchange Keio dan Aachen sebetulnya ada dua. Yang satu lagi pas musim semi, tapi yang ini gak khusus buat anak teknik, jadi gak ada lecture tentang engineering. Dan karena tinggalnya homestay di Jerman, tuntutan kemampuan bahasa Jermannya lebih tinggi. Gw agak segan ikut yang ini karena kemampuan bahasa Jerman gw emang gak seberapa dan karena gw gak mau mengecewakan host family yang menampung gw selama sebulan. Bayangin deh, satu keluarga Jerman yang tertarik sama budaya Jepang, menanti-nantikan seorang mahasiwa/mahasisiwi Jepang, sampe mereka belajar bahasa Jepang sedikit2 biar bisa berkomunikasi. Taunya yang dateng gw, orang Indonesia yang kebetulan lagi sekolah di Jepang. Kalo kata Isselin, mungkin keluarganya bakal protes ke panitia, "Saya pesennya Jepang kok yang dateng Indonesia???" Jadi gw tetep setia menanti si program yang musim panas lah.

Nah, pendaftarannya akhirnya dibuka mulai minggu lalu. Awalnya gw kesel karena syarat belajar 1 tahun bahasa Jermannya diganti jadi 3 bulan doang, yang artinya akan lebih banyak saingan gw nanti. Gw udah persiapin dokumennya dari sebelum masuk sekolah. Tapi gw belum tulis essay tentang kenapa gw mau ikut program ini. Gw udah tulis beberapa keywordsnya dan gw pikir nulisnya gak bakalan makan waktu banyak. Ternyata, karena gw selalu mengundur-undur terus, gw malah bingung nulisnya. Dan ketika gw baca detail programnya lagi plus review murid2 yang udah pergi tahun2 sebelumnya, gw jadi agak ragu. Karena ya jujur aja, program ini bayarnya lumayan mahal, terutama dibandingin sama yang musim semi, karena ada lecturenya.

Brb, bandingin sama program musim semi lebih detail lagi. Lol. Selain lebih murah, yang musim semi lebih banyak jalan-jalannya dan kesempatan bersosialisasi sam orang Jermannya. Hahaha. Terus mulai deh gw mikir, kenapa gw gak daftar aja kemaren, tau gitu kan gw gak bakalan nganggur-nganggur amat pas musim semi. Dan gw punya one big story pas musim semi. Kemudian gw buka agenda gw, buat mastiin apa yang gw bakal kehilangan kalo gw pergi ke Jerman pas tanggal 27 Februari-18 Maret tahun ini. Kalo dilihat dari agenda sekaligus catatan harian, gw gak bakalan potong rambut, ikut pertemuan bulanan mitsui bulan itu dan ngerayain ultah Inoue san, nginep di rumah Kak Martina, pergi mancing demi nemenin Ayane dan ternyata gw bakalan ngeliat orang mabok sedeket itu hahahah, jadi panitia sosialisasi pemilu dan ketemu 3 ibu-ibu ngeselin malak snack, ketemu orang aneh di OK store, nulis QR (tapi jadinya gak ada cerita menarik nih), ke Yamanashi sama Sesil, ke Singapur dan ketemu Shao, Telung n Isselin (tapi mungkin gw jadi bisa ketemu Shao di Jerman ya), terus gak ke ketemu Gude di Palawan Beach juga haha, dan gak ke Teamlab sama Aaron n Shabrina kalo gw ke Jerman pas spring holiday kemaren. Yang paling berkesan sih ke Singapur ya, tapi tetap aja waktunya terlalu singkat karena cuma 4 hari 3 malem. Tapi kalo kehilangan yang sudah terjadi itu... agak gak rela juga ya. Biar bagaimanapun juga gw menikmati saat bersama temen gw, dan ada pengalaman baru juga yang gw dapetin. Jadi ya gw merelakan yang spring kemaren lah. Mungkin gw daftar buat tahun depan hehe.

Lanjut lagi soal essaynya. Gw coba tulis pake bahasa Inggris dulu, terus minta tolong dibenerin sama Telung (thanks a lot, Telz!). Terus gw juga nanya pendapat temen yang udah pernah ikut program yang musim semi. Dapet banyak advice lah soal essaynya. Jadi gw perbaiki beberapa bagian. Tapi tetep aja masih berasa kurang sreg gitu. Kayaknya kurang bagus lah. Sempet mikir mau masukin soal Presiden Habibie alumni RWTH-Aachen juga, tapi gw bisa bayangin yang seleksinya bilang, "Terus kenapa dah kalo mantan presiden negara lo alumni sana? Jurusannya kan beda juga sama lo." Akhirnya gw gak nambahin soal Pak Habibie dan cuma berusaha ngerangkum semua hal yang pengen gw omongin jadi satu tema besar gitu.  Semoga aja gak malu-maluin ya.

Sejujurnya, essay itu banyak bohongnya. Gw bilang gw mau ke sana untuk melatih bahasa Jerman gw. Tapi jujur aja, gw belajar bahasa Jerman justru untuk ikut program ini. Dan semester ini gw ambil 2 jam pelajaran bahasa Jerman tiap minggu. Padahal gw udah tahun ke 3 dan pelajaran wajib gw makin susah. Gw sempet bertanya ke diri gw sendiri... Aren't I stupid? Di mana-mana orang belajar bahasa karena emang memperdalam kemampuan bahasanya. Ikut program mah cuma untuk membantu belajar. Lah gw belajar bahasa karena mau ikut program ini yang bahkan belum tentu gw lolos seleksinya. Biarpun belajar bahasa itu sebenernya cukup asik karena gak sekaku pelajaran teknik dan bisa langsung di aplikasikan. Bahkan bahasa itu ilmu paling dasar yang bisa dipelajari bahkan oleh bayi. Dan tentunya belajar bahasa itu gak akan gak guna, dengan syarat gak setengah-setengah ya.

Well semoga apapun hasil seleksinya nanti, itu akan jadi yang terbaik buat gw.



 Gereja katedral Aachen. Kalau memang ternyata gw gak jodoh sama program yang summer atau yang spring di Keio ini, semoga gw bisa ke sana buat jalan-jalan di masa depan.

Senin, 11 Februari 2019

Binary Judgement

Binary Judgement adalah istilah yang muncul di kepala gw dari tahun lalu. Gw mulai memikirkan istilah ini karena pelajaran Probability yang gw ambil. Waktu itu gw belajar soal Bernoulli Distribution, yang distribusi terjadinya suatu hal hanya bisa 1 atau 0. 1 kalau berhasil dan 0 kalau gagal. Bernoulli Distribution ini kemudian gw gabungkan dengan Binary Number, bilangan yang hanya terdiri dari angka 1 dan 0, dan digunakan oleh mesin/komputer untuk memahami perintah. Dari situ, terciptalah istilah Binary Judgement ini.

Kenapa Judgement? Karena menurut gw, manusia menggunakan Binary Number untuk menilai hidup. Misalnya, kita ambil contoh memasak kue lapis legit.
Percobaan ke 1 Gagal      0
Percobaan ke 2 Gagal      0
Percobaan ke 3 Gagal      0
Percobaan ke 4 Gagal      0
Percobaan ke 5 Berhasil  1
Pada akhirnya, total dari 5 percobaan tersebut secara biner adalah 10000
Kalau seandainya orang tersebut berhenti di percobaan ke 4, maka nilai dia adalah 0000 atau sama dengan 0, yang tidak ada artinya.
Kalau dibandingkan dengan orang yang mencoba 2 kali dan berhasil di percobaan ke 2, yang nilainya adalah 10, orang yang mencoba 2 kali ini nilainya lebih tinggi dari yang mencoba 4 kali tapi gagal.

Intinya, manusia cenderung menghargai orang yang sudah berhasil dan tidak menghargai percobaan/pengalaman orang yang belum berhasil.

Padahal, kegagalan itu bukan berarti tidak membawa nilai untuk kita. Justru pengalaman buruk seperti kegagalan itulah yang menjadi guru terbaik.

Kue lapis legit yang tidak legit. 11 lapis, 2 kayu manis : 1 coklat. 
Gw mendadak pengen banget nulis soal ini gara-gara Binary Judgement yang dilakukan oleh keluarga gw sendiri. Beberapa hari yang lalu, gw coba bikin kue lapis legit. Dan ya gw bermodal resep dari cookpad karena keluarga gw gak pernah bikin kue lapis, biasanya tinggal beli di toko. Setelah gw kirim foto kuenya ke grup keluarga, komentar pertamanya adalah "Lapisannya terlalu tebal." Komentar-komentar berikutnya pun gak ada yang positif. Isinya cuma "Harusnya pakai mentega Wisman. Harusnya blablabla" Ya menurut anda di Jepang ada mentega Wisman? Kasih saran yang masuk akal, dong! Emang kenapa harus sama persis kayak yang di Indonesia? Kalo gak sempurna gak ada artinya kah?

Dan bukan cuma itu aja, setelah diingat-ingat lagi, entah masakan ataupun nilai/ranking di sekolah, keluarga gw pun melakukan yang sama. Kalau nilai ulangan gw 9, pasti komentarnya, "Kenapa gak dapet 10?". Kalau gw gak ranking 1, ada aja pasti ocehannya. Padahal, dibalik kue lapis legit yang tidak legit, ada 4 jam usaha gw untuk begadang dan bikin kue itu sesuai dengan resep dan tips-tips yang gw dapet. Dibalik nilai ulangan yang 9, ada 2 jam usaha gw untuk belajar. Biarpun gak jadi ranking 1, gw sering begadang/bangun jam 3 pagi demi belajar buat ulangan. Tapi hal-hal itu gak ada artinya karena yang dilihat cuma hasil akhirnya. Niat dan usaha gw jadi gak ada artinya di mata mereka.

Makanya sampe sekarang gw males banget cerita soal kuliah dan kehidupan di sini. Kalo gw cerita pelajarannya susah, paling tanggapannya, "Kok susah sih? Tanya temen atau kakak kelas, dong! Atau tanya guru les di Indonesia dulu!" Mereka mana mau denger masalah gw di sini. Ujung-ujungnya pasti gw yang disalahin dan harus usaha sendiri. Daripada nambah-nambahin beban pikiran, mending gw gak usah cerita ke mereka. Mereka maunya terima nilai rapor bagus aja, tanpa tahu gw struggling dan stress ngerjain tugas.

Balik lagi ke kue lapis. Kenapa ya mereka gak mikir, "Wah kamu hebat ya, mau coba bikin." Toh yang mereka lihat cuma fotonya. Mereka gak tau rasanya gimana kan? Memangnya kenapa kalau jadinya bukan lapis legit kayak yang dijual di toko-toko?

Menurut orang-orang (senpai, kohai, teman) yang makan, biarpun bentuknya gak bagus-bagus amat, rasanya enak.
Puji Tuhan ada yang menghargai usaha gw.
Seperti kata Elke, orang-orang toxic memang harus dihindari karena mereka cuma ngasih energi negatif, tapi gimana kalo orang toxic itu adalah keluarga sendiri?