Senin, 11 Februari 2019

Binary Judgement

Binary Judgement adalah istilah yang muncul di kepala gw dari tahun lalu. Gw mulai memikirkan istilah ini karena pelajaran Probability yang gw ambil. Waktu itu gw belajar soal Bernoulli Distribution, yang distribusi terjadinya suatu hal hanya bisa 1 atau 0. 1 kalau berhasil dan 0 kalau gagal. Bernoulli Distribution ini kemudian gw gabungkan dengan Binary Number, bilangan yang hanya terdiri dari angka 1 dan 0, dan digunakan oleh mesin/komputer untuk memahami perintah. Dari situ, terciptalah istilah Binary Judgement ini.

Kenapa Judgement? Karena menurut gw, manusia menggunakan Binary Number untuk menilai hidup. Misalnya, kita ambil contoh memasak kue lapis legit.
Percobaan ke 1 Gagal      0
Percobaan ke 2 Gagal      0
Percobaan ke 3 Gagal      0
Percobaan ke 4 Gagal      0
Percobaan ke 5 Berhasil  1
Pada akhirnya, total dari 5 percobaan tersebut secara biner adalah 10000
Kalau seandainya orang tersebut berhenti di percobaan ke 4, maka nilai dia adalah 0000 atau sama dengan 0, yang tidak ada artinya.
Kalau dibandingkan dengan orang yang mencoba 2 kali dan berhasil di percobaan ke 2, yang nilainya adalah 10, orang yang mencoba 2 kali ini nilainya lebih tinggi dari yang mencoba 4 kali tapi gagal.

Intinya, manusia cenderung menghargai orang yang sudah berhasil dan tidak menghargai percobaan/pengalaman orang yang belum berhasil.

Padahal, kegagalan itu bukan berarti tidak membawa nilai untuk kita. Justru pengalaman buruk seperti kegagalan itulah yang menjadi guru terbaik.

Kue lapis legit yang tidak legit. 11 lapis, 2 kayu manis : 1 coklat. 
Gw mendadak pengen banget nulis soal ini gara-gara Binary Judgement yang dilakukan oleh keluarga gw sendiri. Beberapa hari yang lalu, gw coba bikin kue lapis legit. Dan ya gw bermodal resep dari cookpad karena keluarga gw gak pernah bikin kue lapis, biasanya tinggal beli di toko. Setelah gw kirim foto kuenya ke grup keluarga, komentar pertamanya adalah "Lapisannya terlalu tebal." Komentar-komentar berikutnya pun gak ada yang positif. Isinya cuma "Harusnya pakai mentega Wisman. Harusnya blablabla" Ya menurut anda di Jepang ada mentega Wisman? Kasih saran yang masuk akal, dong! Emang kenapa harus sama persis kayak yang di Indonesia? Kalo gak sempurna gak ada artinya kah?

Dan bukan cuma itu aja, setelah diingat-ingat lagi, entah masakan ataupun nilai/ranking di sekolah, keluarga gw pun melakukan yang sama. Kalau nilai ulangan gw 9, pasti komentarnya, "Kenapa gak dapet 10?". Kalau gw gak ranking 1, ada aja pasti ocehannya. Padahal, dibalik kue lapis legit yang tidak legit, ada 4 jam usaha gw untuk begadang dan bikin kue itu sesuai dengan resep dan tips-tips yang gw dapet. Dibalik nilai ulangan yang 9, ada 2 jam usaha gw untuk belajar. Biarpun gak jadi ranking 1, gw sering begadang/bangun jam 3 pagi demi belajar buat ulangan. Tapi hal-hal itu gak ada artinya karena yang dilihat cuma hasil akhirnya. Niat dan usaha gw jadi gak ada artinya di mata mereka.

Makanya sampe sekarang gw males banget cerita soal kuliah dan kehidupan di sini. Kalo gw cerita pelajarannya susah, paling tanggapannya, "Kok susah sih? Tanya temen atau kakak kelas, dong! Atau tanya guru les di Indonesia dulu!" Mereka mana mau denger masalah gw di sini. Ujung-ujungnya pasti gw yang disalahin dan harus usaha sendiri. Daripada nambah-nambahin beban pikiran, mending gw gak usah cerita ke mereka. Mereka maunya terima nilai rapor bagus aja, tanpa tahu gw struggling dan stress ngerjain tugas.

Balik lagi ke kue lapis. Kenapa ya mereka gak mikir, "Wah kamu hebat ya, mau coba bikin." Toh yang mereka lihat cuma fotonya. Mereka gak tau rasanya gimana kan? Memangnya kenapa kalau jadinya bukan lapis legit kayak yang dijual di toko-toko?

Menurut orang-orang (senpai, kohai, teman) yang makan, biarpun bentuknya gak bagus-bagus amat, rasanya enak.
Puji Tuhan ada yang menghargai usaha gw.
Seperti kata Elke, orang-orang toxic memang harus dihindari karena mereka cuma ngasih energi negatif, tapi gimana kalo orang toxic itu adalah keluarga sendiri?