Happy new year!
Tahun baru kali ini, gw merayakannya dengan sangat berbeda dengan tahun2 sebelumnya. Tahun lalu memang gw gak liat kembang api sama sekali, tapi gw bareng keluarga gw. Tahun ini, gw di asrama, bersama anak2 Indo Jasso yang memang gak bisa dibilang keluarga secara biologis, tapi kita solid bagaikan keluarga (buat kalian kalo baca ini, gw mungkin gak pernah bilang kalian keluarga secara langsung, tapi tanpa sadar, gw merasa nyaman bareng kalian dan betah juga tinggal sama kalian selama 9 bulan and less than three months lagi.)
Ketika jam 12 teng, gw, Aaron, Joevandi, Hiro, dan Aldy pergi ke kuil depan asrama. Di sana, gw pertama kalinya merasakan tahun baru yang hening dan tenang. Cuma terdengar bunyi lonceng yang dibunyikan oleh orang-orang yang sudah selesai berdoa di kuil. Hikmat banget gitu. Biasanya yang disambut dengan kembang api meriah dan sorakan countdown, ternyata dianggap sebagai hal yang sakral di Jepang.
Pertama-tama, kami semua masuk ke kuil dan berbaris untuk berdoa. Saat berdoa orang-orang biasanya menggunakan uang 5 yen untuk dimasukkan ke kotak persembahan. Kenapa 5 yen yang kira-kira cuma setara dengan 500 rupiah? Karena 5 yen atau goen dalam bahasa Jepang memiliki pelafalan yang sama dengan ご縁 yang artinya menyambung (pokoknya arti yang baik) oleh karena itu dengan menggunakan uang 5 yen, orang-orang menganggap bahwa permintaannya akan dikabulkan. Setelah berdoa, kami membunyikan lonceng satu per satu. Setelah itu, kami menerima jeruk. Di halaman depan kuil, papan nama kuburan yang terbuat dari kayu dibakar. Di depan kobaran api itu, kami memakan jeruk yang diberikan. Kesan saya terhadap tahun yang baru ini adalah hangat dan manis. Semoga sampai akhir tahun ini pun tetap hangat dan manis seperti bagaimana saya memulainya. Amin.
Mulai tahun ini juga, gw menulis 年賀状 (nengajo) atau kartu tahun baru. Awalnya gw gak berencana menulis. Tapi karena temen gw Monica, orang Filipin yang jago banget gambar, menawarkan kepada siapa saja yang tinggal di Jepang nengajo buatan dia, maka gw mendaftarkan diri. Nah dari situ, gw kan harus membalas kartu dari dia, mulailah muncul niat untuk menulis kartu itu. Pada akhirnya gw nulis 27 kartu. 10 buat sensei, 2 buat orang Mitsui, 3 buat orang Jepang kenalan gw, 1 buat Tante Merry, 10 buat senpai, temen dan kouhai ditambah 1 buat diri sendiri. Gw bukannya menyedihkan. Cuma gara-gara pertama kali mau nulis nengajo, gw salah tulis. Jadi daripada gak jadi dikirim, mending gw kirim buat diri sendiri (Y). Gw masih tetap cipe. Kecipean gw tidak lekang oleh waktu. Hehehe
Pelajaran yang didapat dari menulis nengajo : Memang capek, tangan pegal-pegal karena harus menulis alamat dan isi yang kurang lebih sama berkali-kali. Tapi sambil menulis lembar demi lembar, gw jadi memutar ulang kenangan tahun lalu bersama orang tersebut. Di mana orang tersebut banyak membantu gw, meluangkan waktunya buat gw dan juga berbagi suka-duka bersama gw, Dari situ juga, teringat dengan orang lain yang juga berperan mengisi hari-hari gw tahun lalu. Gw yang tadinya cuma berniat menulis 15 kartu, akhirnya jadi 26. Dibalik tangan yang pegal-pegal, gw seperti diingatkan bahwa tahun lalu gw tidak dibiarkan sendiri. Tahun-tahun sebelumnya, waktu gw gak nulis nengajo, di akhir tahun gw gak inget dengan orang-orang yang berjasa buat gw, Cuma memikirkan resolusi tahun baru, apa yang mau dicapai dan membayangkan apa yang akan terjadi. Gw lupa bilang terimakasih dan bersyukur atas kehadiran mereka yang mewarnai hari-hari gw. Sebetulnya masih banyak yang mau gw kirimin nengajo, tapi karena waktu udah sangat mepet dan tangan pegel, gw memutuskan bahwa 26 itu cukup. Semoga akhir tahun ini, gw bisa nulis ke semua orang yang mengisi hari-hari gw.
Tahun lalu gw cuma dapat 2 nengajo. Satu dari orang Mitsui, satu dari kantor pos. LOL. Tahun ini, seperti sabda, "Siapa yang menabur, dia akan menuai." Gw dapat lebih banyak nengajo dong. Biarpun gak sampai 26, gw seneng banget waktu nerima dan baca semuanya satu-satu. Gw sampe beli file khusus untuk nyimpen semuanya.