Jumat, 26 Agustus 2016

Little parts of life

First of all, I want to warn you. I am going to write this post in English (with my broken English) because mine is getting worse than before (it wasn't good) but I have an English exam for Waseda next week. If you are worried that this post will ruin your English, please don't hesitate to skip and wait for the next Bahasa or Japanese posts.

Recently, I realized that although I update my blog every month since I came to Japan, I have never written about my daily life. The little, silly, funny, boring or whatever it is. I only wrote about my thoughts and the big things that happened. I forgot that my life is also made of tiny dots. Every second of my life, I mean. So now I'm going to introduce you to my daily life.

Let's start with the people.
1. Joe
He gets the same scholarship as me. I can say he is my comrade in Japan. We fight together against EJU, JLPT and university exams (soon).   
He is.... unique. I have never met someone like him. A combination of neat, perfectionist, narcissistic, complicated, noisy, etc. It is hard to understand the way he thinks. Sometimes he is a little bit annoying, however I usually ignore him. I know I am not a good friend, yeah I know. But here is the thing, though I ignore him, never answer his call (they were not on purpose), there are times when I thank God that I came to Japan with him. It's rare though.


2. Kak Tsani
She is my senpai from the MBS. Actually, she is only 1 month older than me. But since she only spent 2 years in JHS and so mature (compare to me), I can't call her without 'kak'.
She came from Jakarta and now she is studying at Tokyo Institute of Technology. 
Oh, and she is the one whose blog I read during the MBS selection! wrappedindreams.wordpress.com



3. Kak Adrian
He is Kak Tsani's comrade. He is too old, I don't even know his age. Look at his face! I'm just kidding. He is 21. Pokemon lovers. Beyonce and Pentatonix's fan. A good singer. He loves to do or say things that are disgusting (jijik) in my opinion. The reason why I say "jijik" in the best way I could is him. He is a student at University of Electro-communication Tokyo. I don't know much about him because he keep his story secretly. But I would like to recommend him as an adviser. Though most of the times he jokes around, only when you really really need him, he is all the thing you need.


Here is a picture of us! This photo was taken the night before our guarantor's birthday. We made him a birthday card. Kak Adrian put the tape as the frame and thought what we should write, Kak Tsani drew the pinky tree, Joe wrote the card and I drew our faces!
Among the senpais, two of them spend the most time with me and Joe. Since we used to live on the same dorm for six months, we often had dinner or went for karaoke together. After they moved to their new apartments, we don't hang out much. Oh, by the way, we buy each of us a birthday present. It starts from Kak Adrian's birthday on March. We gave him a shaver and a Pikachu doll. Next, Joe's birthday. We gave him an Olaf onesie and a book, "How to stop worrying and start living". On August, we paid Kak Tsani's new watch. We had no idea what to buy, so we just paid her watch. Anddd, next month is my birthday! I hope they remember it.
This one is the Ramadan edition!

3. Kak Danny and Kak William
They are 2 years older than me. Kak Danny came from Surabaya while Kak William came from Pontianak. Kak Danny is studying at Waseda University and Kak William go to the same university as Kak Adrian. Kak Danny is really funny. He has a unique way of thinking and facing life problems. Kak William is a master of yoyo.






4. Kak Martina
She is too unique too be true. Also my senpai from MBS. She is just 2 years older than me, but she will graduate from university next year. I believe the way she thinks and her life story is hardly found in this world. 







Okay, now I'm tired of writing... What a shame... :'(
I will continue this post later. Bye!

Sabtu, 13 Agustus 2016

人生は単になればいい

もう疲れちゃった… 面倒臭い考えばかり思っている。考えなくてもいいのに、なんとなく気になって、眠れなくなったり、集中できなかったりしている。もっと大事なことがあるのに。やっぱり気持ちは複雑なものだなぁ… この考え方、より単になってほしい!

Kamis, 11 Agustus 2016

Butuh teman curhat

Akhir-akhir ini gw merasa sepi di tengah keramaian. Asrama gw rame, tapi gw merasa sepi. Gw butuh temen curhat. Yang ada di deket gw, dan gw bisa cerita apa pun. Entah kenapa, orang-orang yang ada di sekitar gw, kurang cocok untuk dicurhatin. Mungkin cuma 1-2 orang. Tapi ada hal-hal yang gak bisa gw curhatin ke mereka. I need my best friends... Here, beside me. Gw mau cerita banyak banget. Biarpun kebanyakan hal yang kurang baik. Ketakutan, kekesalan, keputusasaan, dsb. Kadang gw capek sama manusia di sekitar gw. Dengan segala sifat dan kelakuan mereka yang ngeselin. Yang bikin emosi gw naik turun. Dasar manusia!

Semakin nggak ngerti dengan manusia. Kok bisa ya ada yang kayak gini? Kok bisa ya mereka jadi seperti ini?
Buat satu orang yang gak pernah puas dan selalu iri. Kamu bilang, kamu butuh uang. Ketika kamu dapat pekerjaan, kamu ngeluh gak punya waktu untuk belajar. Tapi ketika kamu punya waktu, kamu gak pakai untuk belajar atau hal yang penting. Kamu pakai untuk yang lain kan? Lalu kamu kembali mengeluh. Iri sama orang lain, selalu merasa orang lain tuh beruntung banget, bisa begini, bisa begitu. Tanpa menyadari betapa beruntungnya juga kamu.

Buat satu orang yang baper. Thanks udah memberikan contoh nyata dari yang namanya 'baper'. Plis deh, namanya juga manusia, makhluk sosial, butuh bersosialisasi. Kamu gak bisa melarang dia untuk temenan dengan yang lain, kamu kan juga gak dilarang temenan sama yg lain. Dan gak usah memperbesar masalah kecil. Katanya kamu udah dewasa, kamu ubah penampilan, kamu lebih perhatian sama diri sendiri, tapi jujur aja, kamu masih sama aja kayak aku. Kita masih anak-anak.

Buat orang yang suka ngeluh dan bilang, "Sial!"
Sadarlah, semakin sering kamu bilang, "Sial!" dan mengeluhkan hidupmu, semakin 'sial' juga hidupmu. Cobalah menerima kenyataan dan melihatnya dengan lebih positif. Gak semua hal yang terjadi itu sial. Tapi ya kalo melihatnya seperti itu, dia jadi sial beneran.

Gw pengen banget masuk Keio University. Univ ini tuh kayak pas banget dengan yang gw mau.
Jurusan yg gw mau, ada. Kampusnya bagus, enak. Termasuk univ bagus dan merupakan univ tertua di Jepang. Dan paling ngena di hati dibanding univ lain. Tapi... Masuk situ susah... Lebih susah dari Waseda... Sementara gw ngerjain tes masuk Waseda aja gak bisa.
Gw ngeliat Senpai2 Mitsui tuh alumni Todai, Keio, Kyoto. Univ top semua. Tapi beberapa tahun terakhir, gak ada lagi yang masuk tiga univ top itu. Apakah ada pengaruh persaingan dengan negara lain, atau proses seleksi yang emang makin susah? Atau ada pengaruh smartphone juga? Gw bisa ngebayangin sih dulu senpai tachi gak punya hiburan lain selain belajar. Dan mereka menghabiskan tiap malam dengan belajar di kamar. Sementara gw, tidur-tiduran, main hp, dan hal yang gak berguna-guna amat. Gw udah coba berusaha, tapi tetep gak bisa ngerjain soal2 nya. Apakah ini udah batas gw? Limit gw? Apa gw gak bisa masuk keio? Sedih.

Rabu, 03 Agustus 2016

Manusia

Manusia...
Masih adakah?
Sepertinya tidak

Zaman sekarang, tidak ada yang namanya manusia
Adanya wanita, laki-laki atau gay
Adanya Cina, Bule, Jawa
Adanya Muslim, Yahudi, dan lainnya

Sudah seperti barang di toko
Ada labelnya
Ada komposisinya
Ada kemasannya

Punya harga juga
Dilihat darimana?
Ya semua itu tadi

Oh bikinan Amerika
Mengandung unsur 'alergi' tidak?
Wah kemasannya menarik!
Lalu mulailah dihitung harganya

Kenapa?
Pendapat saya aneh?
Lalu mulai mengaitkannya dengan label saya?
Oh pantas, dia Cina, dia perempuan, dia orang Indonesia
Begitu?

Masih adakah yang melihat manusia sebagai 'manusia'?
Ketika mereka berbuat baik atau berbuat jahat
Coba lihat mereka sebagai manusia!
Mereka baik bukan karena ras
Mereka jahat bukan karena agama
Mereka hina bukan karena jenis kelamin
Ya itu karena apa yang mereka perbuat
Sebagai manusia

Penampilan melulu yang dinilai
Salahkah manusia punya mata?
Kita punya mata untuk melihat
Tapi bukan untuk menilai yang dilihat

Karena bukan cuma soal apa yang terlihat
Isi juga penting

Sayangnya
Men'judge' itu hal biasa
Biarpun sudah dibilang jangan
Tanpa sadar tetap melakukan
Kenapa?
Mungkin karena sudah terbiasa
Iya, terbiasa menilai penampilan
Dan juga dijudge

Coba deh
Singkirkan label
Abaikan kemasan
Kenali isinya

Setelah tahu isinya
Ingat dia sebagai isinya
Tak usah hubungkan dengan komposisi
Komposisi sama, isinya bisa jadi berbeda

Perbedaan itu akan selalu ada
Dan tolong, terimalah perbedaan itu
Hidup bukan melulu berlomba-lomba
Komposisi saya lebih baik
Kemasan saya lebih bagus
Bukan

Tidak ada yang tahu kapan kita expired
Ujung hidup ini siapa yang tahu?
Kalau diibaratkan roller coaster
Tiap orang punya rel yang berbeda
Nggak ada yang relnya sama
Kita lahir sendiri, mati juga sendiri bukan?
Nggak tahu relnya habis di mana
Bagaimana caranya supaya kita menikmati roller coaster tersebut?
Bukankah menikmati setiap titiknya?
Mau naik, turun, berputar
Kalau kita kerjanya membandingkan dengan orang lain terus,
Apa jadinya?
Ketika rel kita posisinya di atas mereka, kita menunduk bangga melihat mereka?
Ketika kita di bawah, kita iri melihat ke atas?
Ketika sudah di ujung, barulah kita sadar bahwa kita tidak hidup sepenuhnya?

Untuk yang tidak bisa menerima perbedaan
Maunya kita sama?
Karena anda yang paling benar?
Coba saja tarik roller coaster kami supaya setara
Bukannya susah sendiri?

Hidup bukan tentang benar dan salah
Seperti postulat Einstein
Tidak ada yang benar-benar benar dan tidak ada yang benar-benar salah
Benar dan salah siapa yang menentukan?
Tidakkah manusia itu sendiri?
Siapa yang bilang harus berhenti saat lampu merah?
Bagaimana kalo pendahulu kita membuat lampu hijau sebagai tanda stop?
Itu hal yang nyata
Apalagi hal yang abstrak
Bagaimana caranya kamu tahu kamu yang paling benar?

Komposisi apa ada benar salahnya?
Kentang itu salah, gandum itu benar!
Memangnya kamu siapa bisa seenaknya mengubah keripik kentang jadi roti coklat?!
Keduanya enak kok!
Enak apa adanya
Makanya
Biarkan kripik kentang dan roti coklat jadi dirinya sendiri

Kalau memang tidak cocok dengan rasanya, kan kamu bisa memilih yang lain
Ketidakcocokan pasti ada
Tinggal bagaimana menanggapinya
Mau meninggalkan, atau mau membiasakan diri dengan yang tidak cocok itu
Meninggalkan, berarti membiarkan dia apa adanya tanpa mengganggu
Atau
Mengenali lebih dalam sampai akhirnya terbiasa



By Stephanie
4 Agustus 5.40 Waktu Jepang