Rabu, 05 September 2012

u,u

Hai... Ulangan udah mulai numpuk... Tugas apalagi. Tapi gw tetep berusaha memperhatikan blog ini. Tanggal 15 September nanti bakal ada Edufair di sekolah gw. Doain semoga gw bisa nge-post di sini ya. u,u

How's your life? Akhir-akhir ini gw pengen banget cepet2 lulus sekolah n kuliah trus kerja. Entah buka usaha ataupun kerja di tempat orang lain. Makin lama gw makin cinta sama fashion gara-gara humaniora gw tercinta... yaitu.... TERERENG!!! Fashion Design! Meskipun gw masih belajar gambar orang. Semoga aja ya nanti gw bisa mendesain baju yang keren buat gw sendiri. Juga buat orang-orang kayak :


Terus akhir-akhir ini juga gw pengen banget makan mochi. Mochi itu lho yang chewy chewy gitchu... Ada rasa pandan, strawberry. Pokoknya enak

Btw, gw kan dapet tugas sejarah untuk membuat sejarah diri sendiri, jadi silahkan dibacaaa :


Histoire De Moi 
Nama saya Stephanie Dwiputri Suciadi. Yang mengusulkan agar saya diberi nama Stephanie adalah nenek saya. Beliau mengatakan bahwa pada tahun kelahiran saya, ada sebuah telenovela tentang 3 sahabat. Salah satunya, yang bernama Stephanie, adalah yang paling pandai diantara sahabat-sahabatnya. Beliau ingin agar saya menjadi anak yang pandai seperti ‘Stephanie’ di telenovela itu. Orang tua saya setuju dan menamai saya Stephanie. Selain itu, menurut Bahasa Yunani, nama Stephanie artinya sebuah mahkota. Orang tua saya juga menginginkan agar saya bisa membawa nama baik keluarga.
Sementara itu, Dwiputri diambil dari kata ‘Dwi’ yang artinya dua, dan ‘Putri’ yang artinya perempuan karena saya anak kedua dan saya perempuan. Suciadi adalah nama keluarga saya, agar saya selalu ingat, apapun yang saya lakukan selalu membawa nama keluarga. 
Tidak begitu banyak hal yang saya ingat ketika saya masih di Taman Kanak-kanak. Tapi saya ingat betul kalau tubuh saya kurus saat itu. Di TK, saya mengikuti ekskul drama. Drama yang akan dipentaskan bercerita tentang anak bungsu yang selalu dihina dan disiksa oleh kakak-kakaknya. Saya mendapatkan peran sebagai si bungsu. Saat latihan, saya dibentak terus-menerus karena peran saya itu. Tetapi, karena saya masih kecil, saya menganggap mereka sungguh-sungguh. Dan lagi, saya adalah orang yang tidak tahan dibentak-bentak. Akhirnya, saya pun keluar dari ekskul tersebut.   
Waktu saya kelas 5 SD, teman baik saya akan berulang tahun yang ke-10. Lalu saya dan teman-teman saya yang lain berencana akan ‘menyiram’ teman saya yang berulang tahun itu. Pada hari-H, kami telah menyiapkan kue, hadiah, tepung terigu, serta air. Kemudian, kami pun menyiram teman kami itu dengan tepung dan air. Namun, kami melakukannya di tempat yang salah, yakni di kantin sekolah. Sehingga kami pun dimarahi oleh kepala sekolah. Dan teman kami yang berulang tahun malah menangis. Sepertinya kami memang terlalu kecil untuk hal seperti itu. 
Saya adalah seksi dana perpisahan saat SMP. Sesudah UN, ada waktu libur yang cukup lama sampai siswa-siswi kelas 9 menerima pengumuman kelulusan. Pada saat teman-teman saya pergi berlibur dan bersantai di rumah, para panitia perpisahan harus masuk dan mempersiapkan acara perpisahan. Di seksi dana ini, terdapat 7 orang anggota. Salah satu dari mereka tidak ikut mencari dana selama 3 hari berturut-turut. Alasannya karena dia tidak tahu. Padahal hal ini sudah diberitahukan sebelumnya. Akhirnya, pada hari ke-4, saya memberi dia pelajaran.Teman saya itu tidak tahu kalau saya akan datang ke sekolah. Dan dia bertanya pada saya, “Barang yang akan dijual harus diambil di mana?”.  Muncullah ide untuk mengerjai dia. Saya mengatakan bahwa dia harus mengambil barangnya di rumah saya. Perlu diketahui bahwa rumah teman saya itu di Cibubur dan rumah saya di Galaxi. Sementara sekolah kami di Kemang Pratama. Bisa dibilang dia harus memutar jalan cukup jauh.Setelah dia mengambil barang di rumah saya dan pergi ke sekolah, saya pun berangkat ke sekolah. Saya tidak bisa berhenti tersenyum saat itu. Sesampainya di sekolah, saya pun menyapanya. Dia sangat terkejut melihat saya ada di situ. Akhirnya saya mengatakan bahwa saya hanya iseng menyuruhnya mengambil barang di rumah saya, karena dia tidak ikut mencari dana selama 3 hari sebelumnya. Untungnya, dia tidak marah dan mau memaafkan saya.Hari pertama saya sekolah di SMA Santa Ursula bisa dibilang tidak terlalu menyenangkan tapi tidak bisa dilupakan. Saya diharuskan menghafal Mars Serviam dan Gempita Santa Ursula. Untuk itu, kami harus mencatat teksnya terlebih dahulu dengan alat tulis seadanya. Saya menulis dengan stabilo kuning di atas kertas merah muda. Tidak ada seorang pun yang bisa membacanya, tentu saja.

Minggu pertama di Santa Ursula saya belum terbiasa karena tidak ada murid laki-laki. Saya yang sejak Playgroup sampai SMP selalu bersekolah di sekolah campuran jadi tidak terbiasa dengan sekolah yang perempuan semua.Tapi minggu-minggu berikutnya menjadi menyenangkan karena saya sudah terbiasa.
Saya senang sekali saat Open House. Setiap ekskul mempersiapkan segalanya dengan sungguh-sungguh. Karena banyak sekali ekskul yang disediakan, saya sampai bingung memilih. Awalnya saya ingin mengikuti humaniora fotografi. Tapi setelah tahu jumlah pesertanya dibatasi, saya memilih fashion design sebagai pilihan pertama saya karena ketertarikan saya pada fashion. Saya sering menggambar desain baju sejak saya SD. Tetapi saya tidak bercita-cita menjadi seorang fashion designer karena saya sadar, bentuk tubuh yang saya gambar kaku dan tidak proporsional. Juga karena model baju yang saya gambar hampir selalu sama atau dengan kata lain, begitu-begitu saja. Tetapi, mungkin setelah saya mengikuti humaniora fashion design, saya bisa menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Kemudian pada saat COMOS, ada demo yang berlangsung di tol tempat saya lewat setiap pagi. Waktu demo berlangsung dengan waktu saya masuk tol hanya berselisih 15 menit. Dan saya pun terjebak macet bersama teman-teman jemputan saya. Untungnya ayah saya bisa mengantarkan saya ke tempat peristirahatan Sentul. Sebelumnya, saya harus berjalan ke perumahan penduduk di pinggir jalan tol lalu mencari ojek yang bisa mengantar saya ke Pom Bensin Cikunir. Saya sempat tersesat 2 kali, karena tukang ojek tersebut salah mengerti. Tapi pada akhirnya saya tetap bisa mengikuti COMOS berkat Tuhan yang menyertai perjalanan saya serta ayah saya.
Sebenarnya, COMOS tersebut sangat menarik. Tetapi, yang saya tidak suka hanya satu, yakni acaranya terlalu larut malam. Sehingga saya jadi mengantuk dan tidak begitu bersemangat menjelang acara terakhir.Sekarang saya sangat betah sekolah di Santa Ursula. Saya kagum dengan kreativitas kakak kelas yang mendekor aula saat misa. Hal tersebut membuat saya tidak sabar ingin mengikuti misa terus menerus. Selain itu, penampilan TPSU juga sangat mengesankan.
Sekolah di Santa Ursula itu berat. Selain pelajarannya, bukunya juga berat. Sempat stress juga saat sedang banyak tugas sehingga menjadi tantangan bagi saya. Tapi ternyata setelah dikerjakan, semuanya bisa selesai juga dan memacu saya untuk terus giat belajar, menambah wawasan, berprestasi dan mencapai hasil yang terbaik sehingga dapat membawa nama baik sekolah. 

Stephanie Dwiputri S. 
X-3/32

Tidak ada komentar:

Posting Komentar