Tampilkan postingan dengan label 気になること. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 気になること. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2019

Binary Judgement

Binary Judgement adalah istilah yang muncul di kepala gw dari tahun lalu. Gw mulai memikirkan istilah ini karena pelajaran Probability yang gw ambil. Waktu itu gw belajar soal Bernoulli Distribution, yang distribusi terjadinya suatu hal hanya bisa 1 atau 0. 1 kalau berhasil dan 0 kalau gagal. Bernoulli Distribution ini kemudian gw gabungkan dengan Binary Number, bilangan yang hanya terdiri dari angka 1 dan 0, dan digunakan oleh mesin/komputer untuk memahami perintah. Dari situ, terciptalah istilah Binary Judgement ini.

Kenapa Judgement? Karena menurut gw, manusia menggunakan Binary Number untuk menilai hidup. Misalnya, kita ambil contoh memasak kue lapis legit.
Percobaan ke 1 Gagal      0
Percobaan ke 2 Gagal      0
Percobaan ke 3 Gagal      0
Percobaan ke 4 Gagal      0
Percobaan ke 5 Berhasil  1
Pada akhirnya, total dari 5 percobaan tersebut secara biner adalah 10000
Kalau seandainya orang tersebut berhenti di percobaan ke 4, maka nilai dia adalah 0000 atau sama dengan 0, yang tidak ada artinya.
Kalau dibandingkan dengan orang yang mencoba 2 kali dan berhasil di percobaan ke 2, yang nilainya adalah 10, orang yang mencoba 2 kali ini nilainya lebih tinggi dari yang mencoba 4 kali tapi gagal.

Intinya, manusia cenderung menghargai orang yang sudah berhasil dan tidak menghargai percobaan/pengalaman orang yang belum berhasil.

Padahal, kegagalan itu bukan berarti tidak membawa nilai untuk kita. Justru pengalaman buruk seperti kegagalan itulah yang menjadi guru terbaik.

Kue lapis legit yang tidak legit. 11 lapis, 2 kayu manis : 1 coklat. 
Gw mendadak pengen banget nulis soal ini gara-gara Binary Judgement yang dilakukan oleh keluarga gw sendiri. Beberapa hari yang lalu, gw coba bikin kue lapis legit. Dan ya gw bermodal resep dari cookpad karena keluarga gw gak pernah bikin kue lapis, biasanya tinggal beli di toko. Setelah gw kirim foto kuenya ke grup keluarga, komentar pertamanya adalah "Lapisannya terlalu tebal." Komentar-komentar berikutnya pun gak ada yang positif. Isinya cuma "Harusnya pakai mentega Wisman. Harusnya blablabla" Ya menurut anda di Jepang ada mentega Wisman? Kasih saran yang masuk akal, dong! Emang kenapa harus sama persis kayak yang di Indonesia? Kalo gak sempurna gak ada artinya kah?

Dan bukan cuma itu aja, setelah diingat-ingat lagi, entah masakan ataupun nilai/ranking di sekolah, keluarga gw pun melakukan yang sama. Kalau nilai ulangan gw 9, pasti komentarnya, "Kenapa gak dapet 10?". Kalau gw gak ranking 1, ada aja pasti ocehannya. Padahal, dibalik kue lapis legit yang tidak legit, ada 4 jam usaha gw untuk begadang dan bikin kue itu sesuai dengan resep dan tips-tips yang gw dapet. Dibalik nilai ulangan yang 9, ada 2 jam usaha gw untuk belajar. Biarpun gak jadi ranking 1, gw sering begadang/bangun jam 3 pagi demi belajar buat ulangan. Tapi hal-hal itu gak ada artinya karena yang dilihat cuma hasil akhirnya. Niat dan usaha gw jadi gak ada artinya di mata mereka.

Makanya sampe sekarang gw males banget cerita soal kuliah dan kehidupan di sini. Kalo gw cerita pelajarannya susah, paling tanggapannya, "Kok susah sih? Tanya temen atau kakak kelas, dong! Atau tanya guru les di Indonesia dulu!" Mereka mana mau denger masalah gw di sini. Ujung-ujungnya pasti gw yang disalahin dan harus usaha sendiri. Daripada nambah-nambahin beban pikiran, mending gw gak usah cerita ke mereka. Mereka maunya terima nilai rapor bagus aja, tanpa tahu gw struggling dan stress ngerjain tugas.

Balik lagi ke kue lapis. Kenapa ya mereka gak mikir, "Wah kamu hebat ya, mau coba bikin." Toh yang mereka lihat cuma fotonya. Mereka gak tau rasanya gimana kan? Memangnya kenapa kalau jadinya bukan lapis legit kayak yang dijual di toko-toko?

Menurut orang-orang (senpai, kohai, teman) yang makan, biarpun bentuknya gak bagus-bagus amat, rasanya enak.
Puji Tuhan ada yang menghargai usaha gw.
Seperti kata Elke, orang-orang toxic memang harus dihindari karena mereka cuma ngasih energi negatif, tapi gimana kalo orang toxic itu adalah keluarga sendiri?


Jumat, 16 Februari 2018

My Neighbors (not Totoro)

Before moving to apartment, I had asked my friends and seniors about their relationship with their neighbors. All of them do not really know their neighbor. However, since there are only 4 people living in my apartment, I want to be friend with them. Within the first week after I moved to the apartment, I bought Alfort chocolate and rang each room bell. I introduced myself and said, "これからよろしくお願いします”. We did not talk much, but at least, I knew their faces. It turned out that 101 is also a freshman in Keio, 201 has been living there for 7 years and is studying at Keio , while 202 is not a Keio student (he is quite mysterious, lol).

Since I had lived in a dorm for one and a half year, I often shared snacks and food with my friends in the dorm. So, I wanted to do the same thing to my neighbors. I gave them Unagi Pie (Eel Pie) after I got back from Shizuoka on the end of March. But at that time, I was too tired to ring their bell and have a little chat with them. So I decided to write a message and put the pie inside their mail box. I was so happy when I got a reply from 201. She wrote that she really liked Unagi Pie and offered her help if necessary.

202 once rang my bell to said that his friend was going to stay in his room for a day, so it might be noisy. He had also accidentally dropped his just-washed bed sheet and it fell on my balcony. He rang my bell and I gave it to him. Actually, he is quite noisy while walking and cleaning his room. His vacuum cleaner even sounds like a drill (or is it a real drill?). He is a clean and neat person, I think. He always puts his futon on his balcony once a week and well, clean his room more than once a week.

201 will always be remembered for her cries. Sometimes she cries and screams inside her room. She often comes back home late like at 1 AM or even 3 AM. My assumption is that she is so busy with her research and sometimes get stressed. Other than that, she likes to sing along with English songs.

101 is the closest one to me. Though we have only met each other around 10 times (when I say 'meet', it means see each other face and not talking more than 10 minutes) and had dinner once, I think he is a nice person. He came from Ibaraki Prefecture and is studying in the faculty of Business. He joins many college clubs such as guitar, piano and coffee lovers. He plays the guitar almost everyday and sometimes sings. It is nice to wake up hearing guitar sounds beside my room (FYI, our apartment is not soundproof). He never complains if I am noisy or my voice is so bad that it hurts his ears. I am really noisy when I talk with my friends on the phone and sing to release stress, but there is not even a single complain has ever come out from his mouth. *standing applause

Maybe I think too much about this, but our relation is quite weird. When I gave him the chocolate, he asked me to have lunch or dinner together next time. However, our first meal was 9 months after that. We added each other on Line after 6 months living in the apartment but now, I lost his contact.

Our conversation often ended awkwardly. Like while we were eating dinner and talking about movies. He told me that 'Kimi no na wa' would be aired on TV that night. I told him that I didn't have TV. Then he asked me to watch the movie in his room. He was being kind, but I did not feel right to go to his room. Moreover, Nia was staying in my room that day, so I politely reject his invitation. But after that, things went really awkward. He said he had to go to the supermarket and we didn`t talk much...
After that dinner, I met him twice but he only said 2 sentences. "I forgot something." and "I'm in a hurry." So I thought that my response made him think that I did not want to be his friend or what.
But maybe I am wrong. On the night after I got back from Disneyland, I found a white paper bag hanging on my door. There was a paper with message written on it that said, "There is so many leftover bread from my part time job's shop today. You can have them if you don't mind. If you don't need them, just throw it away. From your neighbor 〇〇." Inside the paper bag, there were white bread, walnut bread, chocolate eclairs, and two madeleines I guess. Yes there were a lot and I was so happy. Not only because I got free food, but it also means that he didn't intend to avoid me (this is only an assumption). Then, I gave him dim sum and chocolate dessert with the same way (put it inside a paper bag and hung it on his door with message on it.)
Actually I really want to ask him how does it taste, but well, I don't have the courage and too afraid that it will be awkward again. Maybe I have to try sometimes... I should improve my Japanese so that I can speak more honestly just like in Bahasa.




Wrong Decisions

Recently, I have been thinking a lot about the decisions I had made. Most of them were not the best decision and I am really annoyed since I keep regretting them. Though there were no big thing (fortunately), I still blame myself for one day or even one week after.

I usually make wrong calculation while cooking. Like, putting to much garlic in dim sum, weird combination of food, too much salt or water or oil, etc. I will regret this while I am eating the food.

I went to Disneyland last Tuesday with my friend, Hitomi. There was a projection show in front of the Cinderella Castle at 19:40. However, after riding an attraction that finish at 19:20, I asked her to go to souvenir shops and took some pictures with the headbands. In the end, when we got out of the shop, it was already 19:39 and the show started immediately. We ran to the castle, but there were already a lot of people there and we could only see the castle from the left front side. I thought that it would be better if we moved to the back side so we can see the castle from front. However, we moved to a location where the castle was more difficult to see. I really regretted that we could not really enjoy the show.

On the way home from Disneyland, I saw a woman threw up inside the train (only a little, not all over the floor). She wrapped her puke (?) with tissue and tried to clean herself but she ran out of it. I gave her mine, but I did not think to give her plastic bag too. After I gave her the tissue, I realized that I should give her plastic bag. However, I hesitated to do that, because maybe she was embarrassed to be seen and helped by other people. So, I did not give her the plastic bag and regretted it for the next 24 hours until I told Isselin about this.

Yesterday, when I went to supermarket with my senpai to buy ingredients for CNY dinner, I insisted to buy more meat because I thought it would not be enough for everyone. It ended up too much.
I also asked my senpai to cook rice because I wanted to eat the meat with rice. In the end, no one ate the rice except me, and well, there was still a lot of rice when we left. In the first hand, I should not eat rice since I am on a diet...

I feel like there are more wrong decisions I made recently. Though Ihsan once said that there are no wrong decisions, the right ones are what most people thinks right. Still, in those condition, my decisions were wrong...

Kamis, 08 Februari 2018

Lose Weight - Make Up Challenge

Tahun lalu, entah serius atau nggak, Joevandi berkali-kali nyuruh gw make up. Tujuannya, biar gw dapet cowok katanya. Gak masuk akal sebenernya. Karena cewek yang gak pake make up pun tetep dapet cowok.
Menurut gw, make up itu ngerepotin. Gw cuma mau make up kalo ada acara formal atau khusus. Dan dibilang kayak gitu berkali-kali sama si Joevandi, bikin gw kesel. Gw cerita ke temen-temen gw, termasuk Shao, orang Singapur. Terus Shao bilang, "Bilang aja ke si Joevandi, suruh dia turunin berat badan dulu baru lw dandan." Nah, gw ikutin sarannya. Pas gw lagi ngantri restoran Korea sama Aaron dan Joevandi, Joevandi lagi-lagi nyuruh gw pake make up biar dapet cowok. Gw balas sesuai sarannya Shao. "Lo kurus dulu baru gw pake make up!" kata gw dengan sinis. Ya gw gak serius nantangin dia lah. Gw cuma pengen menekankan kalo gw pake make up tuh sama mustahilnya dengan dia kurus.
Eh, tapi ya, si Joevandi nganggep itu serius dan dia sampe nentuin dia harus turun berapa kilo, kalo dia berhasil kurus, gw musti pake make up selama berapa lama, dan dia bakal mengadakan pengecekan berkala secara mendadak. Hasil dari diskusi kita saat itu adalah "Jika Joevandi turun 10 kg, Stephanie harus pake make up setiap hari selama setahun." Aaron saksinya, tapi gw masih menganggap itu semua bercanda.
Berikutnya kita ketemu pas pesta akhir tahun di JASSO. Dia kembali mengungkit masalah challenge itu dan mengumpulkan dukungan dari temen-temen gw yang lain kayak Ihsan, Franklin dll. Dan mereka semua mendukung Joevandi. -_- Pas gw berusaha supaya isi perjanjian gak merugikan gw, gw nawar supaya definisi make up nya cuma bedak dan lipstik. Eh gak taunya cowok-cowok itu ngerti banget soal make up. Kayak Ihsan contohnya. Dia bilang, "Lo harus tebelin alis juga, Step. Kalo lo bedakan doang, alis lo ilang." Ada lagi yang nyaut, "Jangan lupa pake eyeliner." "Blush on juga tuh." "Maskara juga woy." Karena hidup gw semakin dibahayakan, gw nanya balik ke Franklin, temen gw yang udah punya pacar. "Emangnya cewek lu dandan???" "Nggak." "Terus kenapa kalian pada ngedukung Joevandi???" "Ya, kita pengen liat yang beda aja Step."
Jawaban macam apa itu.
Tapi ya mereka kan emang sering bercanda. Jadi gw gak anggep serius lah. Paling besok juga pada lupa.

Tetapi... Beberapa hari kemudian Joevandi tulis resolusi tahun 2018 dia adalah turun 10 kg dan dia share di Insta Story.
Dua minggu kemudian pas gw telponan sama si Joevandi, di tengah-tengah telpon, tiba-tiba dia bilang, "Eh, akhir-akhir ini gw belom sempet nimbang lagi. Berat awalnya pake 102 kg aja gapapa ya?"
Besoknya lagi, dia lapor kalo dia udah turun 3 kg abis jogging.
Terus pas dia pergi ski, dia juga cerita ke temen-temen dan guru dia yang orang Jepang soal tantangan ini...

Gw bingung dong ya... Kok ni orang serius banget nanggepin kata-kata gw yang waktu itu. Padahal gw cuma sinis doang. Karena penasaran, gw tanya langsung ke orangnya lewat telpon. Jawabannya aneh banget.
"Pas ski kemaren, kan malemnya cowok2 pada ngobrol di kamar. Terus gw bilang gini... 'Menurut gw , cewek yang gak pake make up itu pure. Dan kalo gw ngeliat cewek yang gak pake make up, menurut gw mereka tuh kawaii.'"
Lah ya gw makin bingung lah. Kan gw gak pake make up, berarti gw kawaii... Tapi dia malah nyuruh (pengen?) gw pake make up. Apakah gw terlalu jelek sampe-sampe muka gw musti dibenerin pake make up??? Ataukah gw terlalu pure kayak asam sulfat murni yang membahayakan?

Kalo kata Isselin sih, pendapat Joevandi untuk cewek gak bermake-up tidak berlaku buat yang mukanya jelek. Intinya, si Isselin cuma mau bilang muka gw jelek.
Kalo kata Shao, mungkin karena dia cowok, makanya merasa harga dirinya diragukan waktu gw tantang.

Tapi mungkin aja, sebenernya dia cuma iseng dan gwnya terlalu banyak mikir.

Sekarang yang bisa gw lakukan cuma satu, mencegah berat badan Joevandi turun. Hahahaha


Rabu, 07 Februari 2018

Ngapain sih peluk-peluk?!

Gw orangnya gak terlalu suka bersentuhan kulit sama orang yang belom deket. Kalo cuma salaman sih gapapa ya. Tapi kalo lebih dari itu, kayak misalnya nyender pundak atau lengan (gw tau lemak gw banyak di sana) atau rangkul atau gandeng, biarpun dia cewek, gw pasti merasa aneh.
Nah apalagi kalo sama cowok. Menurut gw, rangkul, gandeng sama peluk tuh buat orang yang pacaran. Kecuali pas foto, dirangkul sama temen yang udah akrab masih gapapa. Ya mungkin gw terdengar sangat kuno atau kolot ya hahaha. Tapi gak tau kenapa gw dari dulu mikirnya kayak gini. Waktu gw SMP, temen-temen cewek gw sering banget ngajak foto cowok dan minta gandeng, padahal bukan pacarnya. Gw ngeliat mereka dengan tatapan aneh sambil bilang, "Kok cowoknya mau aja gandengan ya?" dalam hati.

Tapi waktu SMP, gak ada juga cowok yang gandeng atau meluk gw (ini bukannya ngenes ya). Si Bryan pernah bercanda ngerangkul gw dan dia pulang dengan entah pukulan cubitan atau tendangan dari gw. Masuk SMA pun gw luar biasa aman. Faktanya, gw gak punya temen cowok pas SMA.
Nah, tapi setelah gw pergi ke Jepang dan melalui satu setengah tahun di sekolah bahasa, mulailah ada yang aneh-aneh. Hahahaha.

Pertama
Hari itu adalah hari kelulusan sekolah bahasa. Malamnya, anak-anak kelas gw pergi makan yakiniku bareng di daerah Takadanobaba. Setelah makan, kita ngobrol-ngobrol sebentar di jalanan. Di situ gw ngobrol sama You, temen gw orang Taiwan. Percakapannya kurang lebih kayak gini :
Gw : Cepet banget ya. Gak berasa udah satu setengah tahun.
You : Iya. Abis ini kita semua bakal jarang ketemu.
Gw : Sedih, ya. Nanti bakalan susah banget buat kumpul-kumpul kayak gini.
You : *merentangkan tangan buat meluk*
Gw : Eh... chotto... (kalo di bahasa Jepang, chotto itu menunjukkan keengganan)
You : Kenapa?
Gw : Gak usah pelukan lah... Kita gini aja *membuat formasi tangan yang sejajar kayak lagi megang kotak. Terus ngajakin dia pelukan tangan aja. Ngerti gak?*

Kayak gini nih :     | I I |
I itu tangan si You
| itu tangan gw

Emang gak jelas. Tapi yang penting gw gak dipeluk. Lol.
Rada gak enak juga sih, soalnya dia kayak tersinggung gitu.

Kedua
Pas libur kuliah, gw main ke JASSO. Nah di sana gw ketemu lagi sama si You. Gw nyapa dia, "EH UDAH LAMA GAK KETEMU!" Dan kalian harus tahu, dia lagi-lagi merentangkan tangan mau meluk. Dan kali ini yang gw lakukan adalah gw meluruskan tangan dan megang pundak dia. Jadi biar bagaimanapun dia mau meluk gw, gak bakalan kepeluk. Hahahaha. Akhirnya dia ikutan megang pundak gw dan kita dorong-dorongan sambil ketawa hahahaha.

Ketiga
Pas tahun baru dan naik Gunung Takao, dan sebelum-belumnya mungkin pernah juga sih, Joevandi juga merentangkan tangan mau meluk, tapi dari jarak 3 meteran gitu sih. Mungkin dia bercanda ya, tapi respon gw adalah "Jijik lu!"

Keempat
Kemaren gw ke JASSO dan ketemu sama Evan, orang Filipin. Gw jujur aja ketemu dia paling baru 10 kali dan kalo gw ketemu dia pun paling ngobrolin soal universitas. Eh, pas ketemu dia, dia merentangkan tangan buat meluk dan udah deket banget jaraknya sama gw. Jadi gw meluruskan tangan ke depan dan bilang, "NO HUG!". Dia bingung, dan nanya "Kenapa? Oh, lw lagi sakit ya?" Emang hari itu gw pake masker, tapi itu karena dingin. Akhirnya gw gak sempet menjelaskan alesan kenapa gw gak mau dipeluk. Tapi ya semoga dia gak tersinggung.

Apakah gw harus berubah? Apa gw harus mau kalo dipeluk orang?



Senin, 17 Oktober 2016

Lonely in the crowd

Mulai dari minggu lalu, gw merasa kesepian. Bukan karena gw tinggal sendirian atau gak ada temen. Tapi gw merasa hampir gak ada yang bener-bener peduli sama gw. Oke kita ketawa bareng, bercanda, main bareng, tapi no one cares about me. Ketika gw cerita tentang masalah gw, curhat dll, tanggepannya paling cuma "Oh." Dan kemudian mereka mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Kalo misalnya gw sakit dan masuk rumah sakit, berapa orang sih yang bakal dateng jenguk gw? Atau well, ketika gw meninggal, ada gak sih yang bakal dateng ke pemakaman gw? Minggu lalu gw melihat betapa orang-orang di sekeliling gw diperhatiin. Dari sekian banyak orang yang ada di dunia ini, kenapa gak ada yang perhatian kayak gitu ke gw? 私ダメな人間なのか?!Gw merasa kalo gw cerita , gak ada yang dengerin dengan sungguh-sungguh. Sampe pada akhirnya ketika gw ada masalah pun, gw cuma bilang ke diri gw sendiri, "Ngapain lw cerita ke mereka? They don't even care." Dan akhirnya gw memilih diam. Sedih. Tapi yang paling sedih adalah kalo hal ini berlanjut di masa depan.

I need somebody to lean on. Dalam arti pundak buat nyender. Udah setahun gw di Jepang, biasanya selalu ditopang ortu. Tapi di sini selalu sendiri. Rasanya pengennnnn banget nyender di pundak orang lain. This might sounds weird but... minggu lalu pas gw lagi duduk melingkar bareng temen-temen gw, rasanya gw pengen banget nyender di bahu temen sebelah gw. Kayaknya nyaman banget gitu. Mungkin gw bisa langsung tidur. Dan karena merasa sepi, gw pengennya ngobrol terus di lobi biarpun gw tau gw harus belajar. Kalo lobi udah mau ditutup sama satpam, kesepiannya kembali mencekam. Tapi entah kenapa tadi siang gw udah merasa lebih baik.

Sayangnya, gw kembali diingatkan sama loneliness gw secara drastis. Puncaknya tadi, pas gw lagi belajar di lobi. Ada temen gw yang galau karena dia dapet terlalu banyak perhatian, terutama dari lawan jenis. Everyone seems to like her. Tapi dia galau karena itu. Dia curhat ke banyak orang. Dan semakin dia curhat, semakin banyak pula yang jadi peduli dan suka sama dia. Dia kembali dalam masalah. Nah, di sini ada satu temen gw yang maksudnya mungkin bercanda mungkin juga memang ungkapan jujur dari lubuk hati yang paling dalam. Dia bilang gini, "Ya baguslah daripada kayak si Stephanie blablabla...." Gw lagi sensitif soal ini dan dia membuatnya tambah parah. Sampah. Mood gw langsung berubah. Gw jadi gak senyum sama sekali. Pandangan mata gw penuh amarah. Keadaan gw sekarang tuh pengen nangis tapi gak bisa. Karena nangis tuh cuma buang air mata sama energi, tapi gak menyeleasaikan masalah.

Jumat, 30 September 2016

Speech Contest


Tiap tahun, Tokyo Japanese Language Education Center atau JASSO Tokyo atau sekolah bahasa gw, mengadakan lomba pidato untuk murid-muridnya. Tahun 2015 kemarin, gw hanya menonton kedua senpai gw (tanpa mengerti arti pidatonya) dan mengagumi mereka berdua yang mendapat juara 1 dan 2. Nah, karena mereka berdua sangat luar biasa, guarantor gw bilang bahwa beliau juga berharap pada gw dan temen seangkatan gw. Hal tersebut menjadi alasan yang sangat kuat untuk mengikuti lomba pidato ini. Daripada gw ditanya oleh beliau, "Kenapa kamu tidak ikut lomba pidato?" mendingan gw memikirkan tema, menulis pidato dan mengikuti kontes tersebut. Alasan kedua, mumpung bisa didengarkan oleh banyak orang, gw bisa menyampaikan pesan yang ingin gw sampaikan. Alasan ketiga, latihan bahasa Jepang. Keempat, kalau menang, siapa tahu hadiahnya adalah sesuatu yang sedang atau akan gw butuhkan.

Sebelum libur musim panas, Koike sensei, wali kelas gw yang lama menunjukkan contoh video speech tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya speechnya Kak Adrian yang berjudul "Wan Wan". Sekarang gw sudah mengerti pidatonya. Isinya bagus banget ternyata. Setelah itu sensei juga menjelaskan cara menulis pidato yang baik. Misalnya, ambil satu pengalaman hidup kami yang berhubungan dengan tema, jangan membuat pidato yang memamerkan kepintaran kamu sampai susah dimengerti, bicarakan hal yang hanya kamu yang bisa bicarakan. Kemudian, semua murid diberi PR musim panas, yakni membuat outline naskah pidato.

Selama liburan, gw udah berusaha memikirkan ide yang bagus untuk ditulis. Tapi ide yang bagusnya itu nggak keluar. Pertama-tama, karena gw baca manga tentang filosofi Nietzsche, ada satu bagian yang membuat gw tersentuh. "Cara setiap manusia melihat dunia ini berbeda-beda. Mungkin selama ini kita pikir kita hidup di dunia yang sama, tapi kenyataannya tidak karena tiap orang memiliki cara pandang dan prioritas masing-masing." Keren banget, kan! Lalu, gw juga pernah nonton vlognya Pao2 LDP yang waktu dia sharing di mana gitu. Intinya di situ dia bilang, "Kenapa kalau kita sedih kita selalu nanya, kenapa kita? Tapi saat kita senang, kita nggak pernah nanya kenapa kita?" Ya kurang lebih seperti itulah. Menurut gw ini juga bagus banget, terutama karena gw pengen menyadarkan seorang temen gw. Maka awalnya, gw kepengen nulis pidato tentang kedua hal itu. Tapi mau dipikir bagaimanapun juga, kok nggak nyambung-nyambung ya...

Kemudian, pada tanggal 16 Agustus, gw sama Aaron pergi ke rumah seorang tante untuk mengambil daun pisang (dan menebang pohonnya) demi membuat nasi tumpeng tanggal 17. Untuk pertama kalinya Aaron nebang pohon dan untuk pertama kalinya gw ngeliat orang nebang pohon. Lol. Di situ, gw tiba-tiba mendapat pencerahan! Gw memang mengidam-idamkan Keio University yang punya semboyan "Calamvs Gladio Fortior" yang artinya "Pena lebih tajam daripada pedang". Dan menurut gw, semboyan itu bener banget! Sama kayak quotes yang pernah gw baca kurang lebih seperti ini, "Pedang bisa menembus satu tubuh, tapi tulisan bisa menembus ribuan kepala". Terus apa hubungannya sama nebang pohon? Ketika kita menebang pohon, apa semboyang yang bagus banget itu masih berlaku? Coba aja tebang pohon pake pulpen, niscaya pohon lainnya sudah tumbuh lebat duluan. Lalu mulailah gw berpikir serius untuk pidato ini.

Tapi tetep aja deh. Gw bukannya mau nulis pidato dengan baik, malah pengen masukin tiga hal berbeda yang mau gw sampaikan. Akhirnya tetep gak bisa nulis juga karena tiga-tiganya gak nyambung. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup (mungkin), gw gak asal maksain biar nyambung. Gw mencoba menggambarkan hubungan dari tiga hal itu. Tema besarnya adalah 'Cara melihat'. Dari situ dibagi tiga.
1. Calamvs Gladio Fortior -> Nebang pohon -> Sedih kenapa kita? Senang kenapa kita?
2. Macam-macam (-> Toleransi)-> Lihatlah dunia ini seperti bagaimana kamu menginginkannya
3. Bukan soal hasil

Nah lho, ide lamanya masih gak nyambung, malah nambah ide lain. Hahahahaha...  Oh, tapi Stephanie berusaha untuk mulai menulis naskah dari ide yang belum matang itu. Dari ide yang pertama. Kemudian, ketika mulai menulis, tangan ini dengan lancar menari di atas agenda 100 yen yang pernah ketumpahan air. Dan jadinya apa saudara-saudara... Jadilah cerita yang lain. HAHAHAHA
Ini emang gw yang kebanyakan ide, atau emang gak bisa nulis dengan baik ya, pikir gw saat itu. Akhirnya gw diemin tulisan itu selama beberapa lama karena gw masih shock dengan kemampuan gw.

Kemudian pada suatu hari, gw telpon-telponan sama Isselin. Kayaknya waktu itu dia masih libur, makanya dengan rela mendengarkan segala hal gak penting yang pengen gw omongin. Fyi, gw nulis hal-hal penting atau berkesan yang terjadi dalam satu bulan di agenda gw. Tujuannya sebenernya buat nulis laporan Mitsui. Soalnya dulu-dulu gw lupa terus apa yang udah terjadi dalam tiga bulan terakhir. Makanya gw nulis hal-hal yang berkesan di agenda gw. Nah waktu itu, gw cerita ke Isselin semua hal yang gw tulis di bagian bulan Agustus. Ada sekitar 9-10 gitu. Dari sekian banyaknya cerita, yang paling membuat Isselin tertarik (atau ya at least, dia terdengar sangat tertarik) adalah 'Hal yang saya pelajari dari Kouhai'. Kouhai itu artinya adik kelas, atau junior baik di sekolah maupun tempat kerja gitu. Di Jepang, senioritas bisa dibilang cukup tinggi dan kouhai itu biasanya disuruh-suruh, dianggap merepotkan menurut gw. Bahkan kalau dicari di internet definisi senpai (senior) adalah orang yang gak akan me-notice kouhai. Bisa dibayangkan betapa tidak dianggapnya kouhai.
Nah tapi... Gw yang punya rasa ingin tahu, iseng-iseng nge-stalk kouhai Mitsui yang baru. Kebetulan orangnya gampang banget di-stalk. Aktif di Facebook, Instagram gak di-lock, punya blog juga lagi. Makin semangat lah gw nge-stalknya #eh. Ini sekitar bulan Juli ceritanya. Saat-saat di mana gw udah lelah abis EJU, JLPT dan deg-degan nunggu hasilnya. Ketika gw baca blognya, di situ ada cerita tentang bagaimana dia melalui seleksi beasiswa sampai pengumuman diterima. Postingan itu mengingatkan gw dengan post gw mengenai hal yang sama tahun lalu. Ternyata sama. Saat itu gw percaya bahwa tulisan bisa menggambarkan perasaan. Gw baca lagi post gw yang lama itu, dan gw kembali teringat perasaan gw waktu itu. Seneng, semangat, positif bangetlah pokoknya. Dari situ gw merasa belajar dari kouhai.

Gw yang tadinya mikir gak mau cerita soal speech ke Isselin, akhirnya konsultasi ke dia. Dan setelah gw kasih tau semua ide gw dan juga coret-coretan di agenda, dia semakin meyakinkan gw untuk melanjutkan ide yang di coret-coretan gw.

Ide besar sudah ada nih, tinggal nulis. Tapi... waktu itu gw juga sibuk mempersiapkan tes Waseda tanggal 3 September. Ditambah lagi wali kelas gw yang sekarang nggak menentukan deadline ngumpulin naskah. Jadilah gw ingin mengikuti jejak senpai gw yang nulis naskah speech sepulang tes Waseda, di Jonathan sambil mabok macha. Hahaha... Tapi ujung-ujungnya gw dan temen seangkatan gw kecapekan abis tes dan langsung pulang setelah makan McD. Keesokan harinya pun gw masih belum ada niat untuk nulis. Hari senin pulang sekolah, barulah gw ngetik naskahnya di perpus sekolah. Waktu ngetik itu, ide-ide tambahan bermunculan banyakkkk banget. Buat pengantar, penghubung, penutup jadi cepet nulisnya. Gw yang tadinya juga pengen masukin humor ke dalam speech, bisa tercapai. Selama ngetik naskahnya, gw senyum-senyum sendiri. Geli membayangkan betapa lucunya pidato ini waktu dibacakan nanti. Dalam waktu sekitar 2 jam, naskah itu selesai... Dalam hati gw memuji diri sendiri, "Kamu hebat! Bisa menulis naskah pidato yang subarashii begini!"

Setelah dikoreksi oleh sensei, hari Rabunya gw tampil di depan kelas. Di kelas gw, cuma ada 8 orang yang bikin teks pidato. Yaitu Shao, Sam, Nok, Kyo, You, Jo, Prilly, gw. Lalu setelah semua tampil, setiap murid disuruh voting perwakilan kelas. Dan gw terpilih! Wow... Gw seneng banget bisa membuat mereka ketawa pas speech, dan juga karena mereka memilih gw. Setelah itu anak-anak yang mau ikut lomba pidato dilatih sama sensei sekitar 2 kali.

H-1 kita semua tampil di depan kelas sekali lagi. Kali ini gw agak kecewa karena udah pada gak ketawa lagi. Cukup khawatir gimana kalo bagian yang gw harap lucu, malah jadi krik-krik. Tapi pada hari H, akhirnya sebodo amat, yang penting tampil dan berikan yang terbaik!

Speechnya pada bagus-bagus semua... Ada yang lucu, ada yang bikin terharu, dan lain-lain. Sejak awal sebenernya udah mikir, "Gak menang juga nggak apa-apa. Kan tujuan utamanya supaya gak ditanya-tanya sama guarantor. Dan yang paling penting adalah pesannya tersampaikan." Dan melihat yang lain pada bagus-bagus gitu speechnya, ya gw rela lah dikalahkan mereka. Oh, tapi pada akhirnya gw kaget karena gw juara 1. Kenapa ya? Gw pengen tau kesan yang gw berikan tuh kayak gimana. Soalnya buat gw yang tampil dan udah latihan beberapa kali, speech gw jadi terasa biasa saja gitu. Rasa bangga pada speechnya udah agak memudar gitu karena pada gak ketawa di H-1.

Ki-ka : Musa (Saudi Arabia), Kepala Sekolah, saya, Jaado (?) (Saudi Arabia)

Oh iya, post ini gw lanjutkan nanti lagi ya. Soalnya paket internet wifi gw udah setahun berlalu dan karena perpanjangnya mahal, gw berpaling ke provider lain. Waktu cepat sekali berlalu ya.

*Dilanjutkan 30 Desember 2016*


Inilah naskah speech gw :
運転手様
皆さん、こんにちは!
私はインドネシアのブカシから参りました。ブカシというのは私の故郷ですが、皆さん聞いたことがないでしょうね。それでは、ブカシの紹介をさせていただきます。ブカシの特徴と聞かれたら。。。ないと思います。じゃ、ブカシの名物は。。。それもありません。しかし、私の故郷をばかにしないでください。ブカシには独特の魅力があります。運転手様です。なぜかというと、ブカシは渋滞にかけてはどこにも負けない町だからです。ジャカルタに近いのに、通うのに三時間もかかります。この話を聞いている皆さんはどんなにひどいのが分からないでしょう。私は高校生だったある日、ジャカルタから帰る時、車の中で数学の宿題をやって、昼寝をして、映画を見て、晩ご飯を食べましたが、まだ家に着いていませんでした。そのぐらいひどい渋滞でした。しかし、ブカシの運転手様は素晴らしいと思います。長い時間ずっと集中して目的地まで一生懸命運転します。疲れをものともせず、「何としても到着するぞ!」とばかりに気合を入れて運転します。
さて、渋滞のとき、運転手様はどこを見ると思いますか。もちろん前です。目的地が前にあるからです。そして、他の車とぶつからないようにバックミラーで後ろを見ます。また、左と右も見るのです。もしかしたら他の道があるかもしれないという期待があるからです。
皆さんはご存知でしょうか。皆さんも運転手様で、皆さんの車は人生です。私が言いたいのは人間として、私たちの生き方は運転手の見方と同じだということです。前ばかりでなく、左、右、後ろもあります。
私自身の経験を話します。私は現在三井物産という日本の会社から奨学金をもらって日本に留学していますが、二か月前、次に日本へ来る学生の合格発表がありました。その学生たちは私の後輩です。私はすぐ後輩たちをインターネットでストークしました。フェイスブック、インスタグラム、ブログ、といったソーシャルメディアのおかげで私は後輩たちについてのいろいろな情報を得ました。生年月日と出身、兄弟の数、趣味、お父さんの仕事、気になる女性など全部分かりました。いいえ、いいえ、私は怖くありません。ただの好奇心です。
一人の後輩のブログに、彼の奨学金の選考から合格発表までの話が書いてありました。それを読んで、私は一年前の自分を振り返りました。私も日本に来る前は同じ気持ちでした。合格を知ったときは嬉しくて、勇気があふれるかのようにわいてきました。頭の中には『やった!日本へ留学できるわ!これからもっと勉強を頑張ろう!』と考えていました。しかし、日本へ来て時間が経つうちに、だんだん気持ちが変わってしまいました。日本の生活には慣れましたが、受験勉強で疲れを感じたり、勉強に飽きたと感じたりすることもありました。そんなときは受験生として残っている力を振り絞って、何とかやっている状態でした。ところが、後輩のブログを見たおかげで、私は後ろと横を見るようになりました。日本留学を目指した時の気持ちを思い出したり、以前と比べて日本語能力が上達したことに気づいたり、一緒に頑張っている友達がいるのを感じたりしました。そして、モチベーションがよみがえってきました。
皆さん、今までいつも人生の前ばかり見ていたのなら、少し後ろや横も見てください。特に人生が渋滞に引っかかって、進まない場合です。自分に聞いてほしいです。過去の自分はどんな人でしたか。今の自分は以前と比べてどのくらい上達しましたか。また、横には応援してくれている家族や友達がいるのを覚えていてください。それに、前だけでなく、時には横に進むことで解決法が見つかるかもしれません。さらに、ずっと前、遠くの方を見てみてください。あそこにはきっといいことが待っています。人生の目的を忘れず、いつかきっと夢がかなうと信じながら、人生という車を運転しましょう!
これで私のスピーチを終わります。

ありがとうございました。

Kurang lebih isi dari speech gw dalam bahasa Indonesia :

Ndut banget ya....
Selamat siang, semuanya!
Saya berasal dari Bekasi, Indonesia. Saya rasa semuanya tidak pernah mendengar tentang Bekasi. Oleh karena itu, biarkan saya memperkenalkan Bekasi. Kalau ditanya soal ciri khas Bekasi... setahu saya sih tidak ada. Tapi jangan meremehkan kota kelahiran saya! Bekasi punya daya tarik yang unik. Yaitu, Tuan Pengemudi (atau Mr. Driver kalo dalam bhs Ing). Kenapa bisa begitu? Karena Bekasi adalah kota yang tidak kalah dengan kota manapun kalau soal macet. Padahal letaknya dekat dengan Jakarta. Tetapi perjalanan ke sana bisa memakan waktu 3 jam. Semua yang mendengar cerita ini tidak tahu bagaimana parahnya macet tersebut, kan? Waktu saya SMA dan dalam perjalanan pulang dari Jakarta, saya mengerjakan PR matematika, nonton film, tidur siang, dan makan malam sekalipun, masih belum sampai di rumah. Separah itulah macetnya. Tapi, Tuan Pengemudi Bekasi itu luar biasa menurut saya. Terus berkonsentrasi dalam waktu yang lama dan berusaha sampai di tempat tujuan. Tanpa mempedulikan rasa lelah, tetap bersemangat menyetir sambil seolah-olah berkata, "APAPUN YANG TERJADI, POKOKNYA HARUS SAMPAI!!!"

Saat macet, menurut Anda, Tuan Pengemudi melihat ke mana? Tentu saja ke depan, karena tujuannya ada di depan. Kemudian, agar tidak bertabrakan dengan mobil lain, mereka melihat ke belakang melalui kaca spion. Mereka juga melihat ke kiri dan kanan, dengan harapan dapat menemukan jalan lain.

Apakah kalian tahu? Kalian adalah Tuan Pengemudi. Mobil kalian adalah kehidupan. Yang ingin saya katakan adalah, cara kita hidup sama dengan cara Tuan Pengemudi melihat. Tidak melulu ke depan, tapi juga ke kiri, kanan dan juga belakang.

Saya akan menceritakan pengalaman saya. Sekarang saya sedang kuliah di Jepang dengan beasiswa dari Mitsui-Bussan. Sekitar bulan Juni yang lalu, saya mendengar pengumuman penerima beasiswa yang baru. Yaitu adik kelas saya (kouhai). Saya langsung men-stalk mereka di internet. Mulai dari social media seperti Facebook, Instagram, Blog saya mendapatkan banyak informasi soal mereka. Tempat tanggal lahir, jumlah saudara, hobi, pekerjaan orang tua, sampai gebetan mereka pun saya tahu.

Dalam blog salah satu adik kelas saya, tertulis perjalanan dia mengikuti seleksi Mitsui sampai pengumuman kelulusan. Membacanya, saya jadi teringat saya yang satu tahun lalu. Sebelum saya datang ke Jepang, saya juga mereasakan hal yang sama dengan dia. Ketika mengetahui bahwa saya lulus, saya sangat senang dan semangat saya meluap-luap. Dalam kepala, saya bersorak kegirangan. "Akhirnya! Saya bisa kuliah ke Jepang! Saya akan lebih rajin belajar lagi!" Tetapi seiring berjalannya waktu di Jepang, perlahan-lahan perasaan saya berubah. Saya mulai terbiasa dengan kehidupan di Jepang. Tetapi saya merasa lelah dan bosan dengan rutinitas belajar untuk tes masuk universitas. Saat seperti itu, saya hanya bisa mengerahkan sisa-sisa tenaga yang ada. Tetapi berkat adik kelas saya itu, saya jadi melihat ke belakang dan ke samping. Saya mengingat kembali perasaan saya saat mengincar beasiswa ke Jepang, saya menyadari bahwa kemampuan bahasa Jepang sudah meningkat, saya juga merasakan keberadaan teman-teman yang berjuang bersama saya. Kemudian saya kembali termotivasi.

Semuanya, yang sampai saat ini selalu melihat ke depan. Cobalah lihat ke belakang dan ke samping. Terutama ketika kehidupan anda sedang terjebak macet dan tidak bergerak. Saya ingin kalian bertanya pada diri kalian sendiri. Seperti apakah diri kalian di masa lalu? Diri kalian yang sekarang sudah berkembang seberapa jauh? Kemudian, ingatlah bahwa di samping kalian ada keluarga dan teman-teman yang mendukung kalian. Ditambah lagi, tidak hanya ke depan. Terkadang, dengan berjalan ke samping, jalan keluar dari masalah itu bisa ditemukan. Kemudian, lihatlah jauh ke depan. Di sana pasti ada hal baik yang sedang menunggu Anda. Tanpa melupakan tujuan hidup Anda, sambil mempercayai bahwa suatu hari nanti mimpi Anda akan tercapai, mari kita mengemudikan mobil bernama kehidupan ini!

Maaf ya kalo bahasa Indonesianya aneh. Hahahaha...

Semoga pidato ini bisa menginspirasi dan menyemangati orang-orang yang mendengarnya.

Gw seneng karena tanpa harus secara khusus membuat pidato yang original, hasilnya original dengan sendirinya. Karena kalo dilihat-lihat, pidato ini cuma bisa ditulis dan dibawakan oleh anak Bekasi yang sekolah di Jakarta dan sekarang sedang kuliah di Jepang dengan beasiswa Mitsui.
Begitu juga dengan pidato teman-teman gw yang lainnya.


お疲れ様でした。皆さんのスピーチは素晴らしいと思いますよ。これからもメッセージを人々に伝えて、頑張りましょう!

*Dilanjutkan lagi 14 Mei 2017*
Sampai saat ini, gw udah pernah menyampaikan pidato ini sebanyak 8 kali di depan banyak orang. Dari 8 kali pidato ini, tentunya ada yang ngasih komentar. Kebanyakan sih bilang, "Bagus!" 「すごいですね!」「素晴らしい」。Gw seneng kok pidato gw dibilang bagus. Tapi sebenernya gw mengharapkan komentar yang lebih dalam. Bagusnya di mana gitu. Nah, ternyata ada 2 orang yang memberikan komentar yang gw harapkan. Yakni, seorang bapak orang Jepang dan Telung.
Bapak tersebut bilang, kalau pidato gw alurnya bagus, mudah dimengerti dan juga dengan adanya pertanyaan di dalam pidatonya, pendengar pun merasa diajak berkomunikasi.
Lalu Telung yang baru aja tadi pagi jam 2 mendengarkan pidato gw. Hahaha... Telung bilang kalo pidato gw ini agak ambigu sebenernya, tapi itu justru jadi bikin 'penasaran' (?). Intinya, ambigu itu bisa bagus juga. Hehe... Lalu, pidato gw ini ada makna yang lebih dalam daripada yang diucapkan, ini membuat pendengarnya jadi berpikir lebih lanjut.

Oh lalu, bulan Januari kemarin, gw baru menyampaikan isi pidato ini ke bokap gw. Telat sih, tapi yaaa daripada nggak sama sekali kan. Dibandingkan mendengar komentar orang lain sampai saat ini, jujur aja, paling seneng waktu dibilang hebat sama papa sendiri.  

Pidato ini bisa dibilang adalah masterpiece gw. Biarpun gw cuma pernah bikin 3 pidato. Yaitu, pidato soal banjir waktu SD, 言葉の大切さpidato buat lomba bulan Maret 2016 tapi gak menang karena setelah dipikir-pikir gak nyambung sama tema, dan 運転手様 ini. Makanya gw masih afal sebagian besar pidato ini. Oh iya, salah satu hal yang gw banggakan dari pidato ini adalah, gw bisa mengubah kelemahan jadi kekuatan dan gw bisa menjadi diri sendiri di pidato ini. Gw bisa memanfaatkan kelemahan Bekasi yang sering dikata-katain karena macet. Dan kemampuan gw sebagai stalker juga ternyata membawa keuntungan. Ditambah lagi, karena gw bisa membuat pengandaian, mengaitkan dua hal yang berbeda.

Menurut Hatchi san, waktu dia pergi ke Bekasi untuk menghadiri pesta pernikahan anaknya Marina san, dia jadi gak terlalu jengkel waktu macetnya karena inget pidato gw. *masukin emoji nangis bahagia* Yeay!

Minggu, 18 September 2016

The decreasing happiness

Di era yang serba maju ini, sadar gak sih kalau tingkat kebahagiaan kita justru berkurang?
Gw yang memang kecemplung di dunia smartphone, internet dan sebagainya, sejujurnya gak menyadari hal itu sama sekali. Sampai suatu hari, gw baca blognya Diana Rikasari. Di situ dia tulis tentang kebahagiaan manusia yang berkurang karena adanya social media. Setelah dipikir-pikir, bener juga.
Kak Diana  ngasih contoh, betapa dia jadi kepo sama orang-orang yang dia liat di instagram. Lalu berakhir dengan rasa iri, iri liat tas mahalnya, misalnya. Agak beda pengaruhnya di gw. Gw gak ngeliatin tasnya atau sepatunya. Tapi ya kalo ngeliat foto-foto temen-temen gw yang liburan ke pantai-pantai bagus di Indonesia atau ke luar negeri, gw iri juga.
Sebenernya post itu udah cukup lama. Tapi baru hari ini gw bener-bener sadar, kalau itu bener banget dan bisa dibilang membahayakan psikologi gw. Kenapa?
Coba bayangin. Sekarang kita chatting pakai Line, atau Whatsapp yang bisa ngasih tau kita pesan kita udah dibaca atau belum. Ini sangat menjadi pikiran buat gw.
Kalau gak di read lamaaaaaa.... "Aduh, jangan-jangan dia marah." "Eh, gw salah ngomong gak ya?" "Ih, songong banget nih orang, gak baca pesan gw."
Kalau di read tapi gak dibales, "Yah, mustinya tadi gw gak ngomong kayak gitu ya." "Dia kok gak bales apa-apa sih... Jangan-jangan dia males ngomong sama gw." "Tau gitu, lain kali gak usah gw bales chatnya dia."
Kalo balesannya singkat... "Lagi bete nih kayaknya." "Dingin banget sih."
Dan lain-lain...
Terus di grup... Nggak tau kenapa gw punya sihir. Kalo gw abis ngomong di grup, pasti grupnya langsung hening. Sepi. Gak ada yang bales lagi. Di situ gw merasa sedih. Gw merasa gak dianggap. 

Terus instagram yang gunanya buat upload foto-foto, malah jadi sumber rasa kesal. Misalnya gw upload foto apa gitu. Tapi temen gw gak nge-like. Lalu mulailah gw membuat kemungkinan sebabnya. "Fotonya jelek menurut dia." "Dia gak suka sama gw." "Dia gak nge-like foto gw karena gw juga gak nge-like foto dia." dan seterusnya... Gak tau sih ini cuma terjadi sama gw apa sama orang-orang lain juga. Tapi yang jelas, dampaknya nggak positif. Capek juga kayak gini. Mikirin hal-hal yang padahal gak usah dipikirin pun tetep bisa hidup.

Sabtu, 13 Agustus 2016

人生は単になればいい

もう疲れちゃった… 面倒臭い考えばかり思っている。考えなくてもいいのに、なんとなく気になって、眠れなくなったり、集中できなかったりしている。もっと大事なことがあるのに。やっぱり気持ちは複雑なものだなぁ… この考え方、より単になってほしい!

Rabu, 03 Agustus 2016

Manusia

Manusia...
Masih adakah?
Sepertinya tidak

Zaman sekarang, tidak ada yang namanya manusia
Adanya wanita, laki-laki atau gay
Adanya Cina, Bule, Jawa
Adanya Muslim, Yahudi, dan lainnya

Sudah seperti barang di toko
Ada labelnya
Ada komposisinya
Ada kemasannya

Punya harga juga
Dilihat darimana?
Ya semua itu tadi

Oh bikinan Amerika
Mengandung unsur 'alergi' tidak?
Wah kemasannya menarik!
Lalu mulailah dihitung harganya

Kenapa?
Pendapat saya aneh?
Lalu mulai mengaitkannya dengan label saya?
Oh pantas, dia Cina, dia perempuan, dia orang Indonesia
Begitu?

Masih adakah yang melihat manusia sebagai 'manusia'?
Ketika mereka berbuat baik atau berbuat jahat
Coba lihat mereka sebagai manusia!
Mereka baik bukan karena ras
Mereka jahat bukan karena agama
Mereka hina bukan karena jenis kelamin
Ya itu karena apa yang mereka perbuat
Sebagai manusia

Penampilan melulu yang dinilai
Salahkah manusia punya mata?
Kita punya mata untuk melihat
Tapi bukan untuk menilai yang dilihat

Karena bukan cuma soal apa yang terlihat
Isi juga penting

Sayangnya
Men'judge' itu hal biasa
Biarpun sudah dibilang jangan
Tanpa sadar tetap melakukan
Kenapa?
Mungkin karena sudah terbiasa
Iya, terbiasa menilai penampilan
Dan juga dijudge

Coba deh
Singkirkan label
Abaikan kemasan
Kenali isinya

Setelah tahu isinya
Ingat dia sebagai isinya
Tak usah hubungkan dengan komposisi
Komposisi sama, isinya bisa jadi berbeda

Perbedaan itu akan selalu ada
Dan tolong, terimalah perbedaan itu
Hidup bukan melulu berlomba-lomba
Komposisi saya lebih baik
Kemasan saya lebih bagus
Bukan

Tidak ada yang tahu kapan kita expired
Ujung hidup ini siapa yang tahu?
Kalau diibaratkan roller coaster
Tiap orang punya rel yang berbeda
Nggak ada yang relnya sama
Kita lahir sendiri, mati juga sendiri bukan?
Nggak tahu relnya habis di mana
Bagaimana caranya supaya kita menikmati roller coaster tersebut?
Bukankah menikmati setiap titiknya?
Mau naik, turun, berputar
Kalau kita kerjanya membandingkan dengan orang lain terus,
Apa jadinya?
Ketika rel kita posisinya di atas mereka, kita menunduk bangga melihat mereka?
Ketika kita di bawah, kita iri melihat ke atas?
Ketika sudah di ujung, barulah kita sadar bahwa kita tidak hidup sepenuhnya?

Untuk yang tidak bisa menerima perbedaan
Maunya kita sama?
Karena anda yang paling benar?
Coba saja tarik roller coaster kami supaya setara
Bukannya susah sendiri?

Hidup bukan tentang benar dan salah
Seperti postulat Einstein
Tidak ada yang benar-benar benar dan tidak ada yang benar-benar salah
Benar dan salah siapa yang menentukan?
Tidakkah manusia itu sendiri?
Siapa yang bilang harus berhenti saat lampu merah?
Bagaimana kalo pendahulu kita membuat lampu hijau sebagai tanda stop?
Itu hal yang nyata
Apalagi hal yang abstrak
Bagaimana caranya kamu tahu kamu yang paling benar?

Komposisi apa ada benar salahnya?
Kentang itu salah, gandum itu benar!
Memangnya kamu siapa bisa seenaknya mengubah keripik kentang jadi roti coklat?!
Keduanya enak kok!
Enak apa adanya
Makanya
Biarkan kripik kentang dan roti coklat jadi dirinya sendiri

Kalau memang tidak cocok dengan rasanya, kan kamu bisa memilih yang lain
Ketidakcocokan pasti ada
Tinggal bagaimana menanggapinya
Mau meninggalkan, atau mau membiasakan diri dengan yang tidak cocok itu
Meninggalkan, berarti membiarkan dia apa adanya tanpa mengganggu
Atau
Mengenali lebih dalam sampai akhirnya terbiasa



By Stephanie
4 Agustus 5.40 Waktu Jepang





Jumat, 01 Juli 2016

Tentang Pacaran

Akhir-akhir ini pandangan gw mengenai 'pacaran' berubah.
Dulu gw kebanyakan baca novel remaja yang isinya cinta-cintaan, nonton film romantis, dsb. Pacaran itu kayak hal yang harus dilakukan mulai dari usia belasan tahun. Kalo jomblo tuh bayangannya menyedihkan gitu. Malem minggu gak ngapa-ngapain, gak ada yang meluk kalo lagi sedih, dan hal-hal yang berkebalikan dari novel-novel romantis itu. Sebagai jomblo, gw merasa sedih datta.

Tapi sekarang, kalo gw ngeliat orang pacaran, yang lagi icha icha suru gitu ya, itu JIJIK. Gw yang dulu mungkin mikir, "Ih romantis banget ya... Unyu bangettt..." Tapi sekarang pengen muntah.
Bermula dari satu pasangan di asrama. Keduanya orang tembok. Mereka hampir tiap malam bermesraan di asrama. Gak parah-parah amat sih sebenernya. Paling pelukan, senderan ke bahu, pegangan tangan. Yang gelinya adalah, setiap pagi, gw selalu ketemu si cewek, dengan muka bantal baru bangun tidur, nyiapin sarapan buat dia dan cowoknya. Rajin banget, pikir gw. Masak buat si cowok pagi-pagi. Gw masak buat diri gw sendiri aja belom tentu mau. Apalagi buat orang lain. Rasanya kok jadi agak enggan pacaran ya.

Yang kedua, cowoknya orang tembok, ceweknya orang jajahan tembok. Mereka itu sering banget bermesraan di area asrama. Misalnya, tidur di paha pacarnya, pelukan, ceweknya benerin dasi cowoknya, dan yang paling parah, ciuman. Parahnya, mereka suka ciuman di tempat-tempat yang tidak terduga. Kayak misalnya di tangga lantai 2. Malem-malem, pas gw mau mandi dan ngelewatin pintu yang mengarah ke tangga, kan berasa gitu ya kalo ada orang. Pas nengok, eh ada mereka lagi ciuman. Pernah juga di pojokan deket vending machine. Pojokan itu gelap, dan tentunya gak bakal nyangka dong kalo ada orang di situ. Kenyataannya ada mereka lagi ciuman. Geli banget. Mereka kayak gitu hampir tiap malem. Gw sama dengan mereka, masih murid sekolah bahasa. Ya walaupun mereka bakal lulus duluan, tapi kok kayaknya mereka santai banget ya. Gak belajar, gak review, gak ngurusin daftar-daftar kuliah atau apa gitu.

Ketiga, pasangan yang baru jadian. Dua-duanya orang tembok dan sekelas sama gw sejak bulan April. Waktu awal masuk, mereka kayaknya masih temenan. Keliatannya belum terlalu deket. Anyway, gw kenal sama si cewek udah dari tahun lalu. Dan dia baiiikkkkk banget. Kayak malaikat gitu, cantik, selalu senyum, mau nyapa siapa aja. Bulan Mei, mereka sering kelihatan berdua. Setelah pulang sekolah, mereka masih suka duduk-duduk di kelas, ngobrol-ngobrol.
Suatu hari, gw lagi jalan pulang ke asrama malem-malem. Hari itu hujan, dan gw melihat ada dua orang yang lagi berdiri sambil payungan deket pagar asrama. Ternyata itu adalah mereka berdua. Nah, sejak saat itu mereka semakin parah. Si cewek jadi menjauh dari temen deketnya di kelas. Gak cuma temen deketnya sih. Semua orang sebenernya. Setiap jam istirahat siang maupun sela antar jam pelajaran, mereka selalu ngobrol berdua atau pergi entah ke mana. Warna baju mereka sama. Item item atau putih putih atau pernah juga si cowok pake atasan putih bawahan item, ceweknya pake atasan item, bawahan putih. Geli kan? Terus gw pernah liat lagi, mereka malem-malem nongkrong di depan asrama, entah ngapain padahal udah hampir jam 11 gitu. Lanjut lagi... Di kelas mereka saling ngobrol lewat chat. Jadi gak merhatiin pelajaran, tapi asik main hp. Untungnya guru gw peka, jadi beliau sering negur dua anak itu.
Kemudian, mereka udah mulai berani ciuman. Biasanya di jam istirahat mereka pergi ke kelas yang kosong dan ya tau sendiri lah ya. Lalu, berita paling baru yang gw denger adalah, mereka ciuman sambil jalan. Nah ini dia yang menurut gw paling jijik.
Lalu, pernah juga pas lagi latihan listening di ruang audio visual, si cewek meninggalkan sahabatnya dan duduk bersama si cowok. Terus kalian harus tau guys, mereka gak pake headphone dengan cara biasa. Headphone yang harusnya ditaruh di kepala, malah ditaruh di atas meja, volumenya digedein, dan didengerin berdua. Apa mereka gak tau cara pake headphone??? Gw bete ngeliatin mereka, dan temen gw yang orang Thailand sampe nanya, "Stephanie, kamu gapapa?" Hahaha muka gw kayaknya gak bisa menutupi perasaan deh. Tapi ya, lebih parahnya lagi, si cewek ini tiba-tiba menghampiri sahabatnya buat ngeliat jawaban sahabatnya -_- plis deh, kalo gitu mah 練習の意味が無い。
Oh iya, sebentar lagi ada perayaan Tanabata. Tentang dua bintang (Hikoboshi dan Orihime) yang hanya bisa bertemu setahun sekali di tanggal 7 Juli. Dan biasanya orang-orang akan mengajukan permohonan-permohonan. Nah, di sekolah gw, ditempel kertas yang bisa dipake buat nulis permohonan itu. Dan kedua orang itu nulis sesuatu entah apa pake bahasa Inggris, maaf tulisannya jelek banget gw gak bisa baca, intinya ada kata-kata 'be this moment'. Trus tanda tangan mereka berdua, ditulis di atas kertas warna pink. Plis deh. Di antara kertas-kertas lain yang isinya memohon kesehatan, lulus ujian, kesuksesan kouhai-kouhainya supaya bisa belajar ke Jepang, ada aja yang isinya kayak gitu.

Oke, balik ke topik utama. Karena ketiga pasangan itu, gw jadi jijik sama pacaran. Kayaknya gak cuma gw sih, banyak orang yang merasa jijik juga datte.

Pandangan gw sekarang, pacaran tuh mengekang kebebasan. Lw pake baju diatur-atur, tiap hari harus sediain waktu buat pacar, lw gak bisa bebas nentuin lw mau ke mana, ngapain, hidup lw kayak bukan punya lw lagi.
Ditambah lagi, baru-baru ini gw nonton drama Jepang. Judulnya 私結婚できないんじゃなくて、しないんです atau dalam bahasa Inggris, "It's not that i can't marry. I don't marry." atau dalam bahasa Indonesia, "Saya bukannya tidak bisa menikah, tapi tidak menikah."
Cerita singkatnya, si cewek pemeran utama adalah dokter kecantikan yang punya klinik sendiri. Usianya udah 39 tapi dia belum menikah. Rencananya dia mau menikah sebelum umur 40. Lalu dia berusaha mengejar gebetannya waktu SMA dulu.

Ceritanya waktu SMA, dia itu anak yang rajin banget, bisa dibilang nerd. Kerjanya belajar mulu. Tapi pada akhirnya, dia bisa buka klinik sendiri dan sukses.

Lalu gw sadar, oh iya ya. Harusnya gw kayak dia. Berusaha keras di masa muda. Pasangan hidup gak usah dipikirin segitunya. Yang penting itu mengejar cita-cita, sukses, membahagiakan orang tua. Masalah pasangan itu cuma satu bagian dari hidup. Dan yang namanya jodoh kan gak kemana. だから、心配することはない!

でも、多分日本で留学しているため、私の考えは変わった。Sejak datang ke Jepang, gw bebassss. Gw gak pernah mendapat kebebasan kayak gini sebelumnya. Gw bisa pergi ke mana aja sendiri, gak usah izin, gak usah dianterin. Gw bebas mau makan apa tiap hari. Gak makan pun, gak ada yang peduli. Gw bebas mau melakukan apapun dengan cara gw. Mungkin karena golongan darah B kali ya. Yang katanya gak suka diatur. Dulu gw gak pernah percaya dengan hal itu karena gw gak suka melanggar peraturan sekolah atau peraturan rumah. Sampai akhirnya gw mendapat kebebasan. Tenang aja, gw tetep bertanggung jawab kok, bukannya jadi liar gitu. Nah, mungkin karena gw senang dengan kehidupan yang kayak gini, gw jadi takut kalo punya pacar, gw gak akan sebebas ini lagi. 今はこの自由を楽しめているところ。できるだけこの時を大切にしようと思ってる。At least for now.

Kamis, 28 April 2016

先輩たち

約束どおりに、私はあることについて書く。

三井物産奨学金の先輩たちは20人以上いるが、私が知っているのは10人ぐらいかなあ。インドネシアにいたとき、私にとって「先輩」という者はあまり意味がないと思った。日本に来てはじめて、「先輩」の大切さが分かった。 同じ奨学金をもらうから、先輩たちにいつもいろいろなことで相談してもらうことができる。経済的なこととか勉強のこととかにアドバイスをもらえる。先輩たちはそれぞれの方法で、私の問題を解決助けたり、一緒に楽しんだりしている。
また、先輩たちは素晴らしい人だよ。みんなは特技がある。これは彼らの素晴らしさ:
1.考え方がちょっと違う天才。
2.考え方が特異で、このような人と会ったのははじめて
3. この人の得意はヨーヨーだ。彼のヨーヨー手際を見たら、きっと魅惑されるよ。
4. 面白くて、社会の問題に対して考えられない反応をするひと
5.自身が強くて、ほとんど何でもできる先輩
6.歌うことが上手で、自身を持つ ”Wanita mandiri"
7.大学を卒業してから、本を書いた

すごいじゃない?私は彼らの後輩として、感心する反面、気にする。私は何もできない。食べたり寝たりしかしない。私も先輩たちのように素晴らしい人になりたいのに。。。私の得意は多分けちだけかなあ。もしインドネシア語で言ったら、先輩たちより、”Aku mah apa atuh"。それだけでなく、受験のことも心配している。私はいい大学に合格できるかどうか分からない。今の状態なら、無理そうだ。はっきり目的もないし、知識もあまり豊かではない。可哀想な私。

Senin, 25 April 2016

お腹が空いた

朝2時だ。お腹が空いて、眠い。なぜ食べない、なぜ寝ない?なぜかと思う?
実はたくさんことを気にする。頭の中はもうグチャグチャになっちゃう。全部書けばいいなぁと思うが、いつもいつも時間ややる気の問題がある。今はわかった。その時間は自分が割かなければならない。忙しくても、時間をどのように過ごしたいと言うのは自分が決めるじゃない。やりたいことは必ず優先されて、後で気に入ることをやる。もし私は忙しいと言ったら、本当に忙しいわけではない。やる気がないこともある。

私は書きたいことを忘れないために、一月から手帳にいろいろな書きたいことをメモする。意外と、毎月五つ以上あった。今度の木曜日に書くつもりだけど、実際に書くかどうか疑う。

食べたい!最近再三ラサーナを想像して、作ってみたい…

またね〜

Sabtu, 27 Februari 2016

So many things to write

Udah mau bulan Maret nih. Cepet banget ya. Padahal rasanya baru kemarin gw dateng ke Jepang dan memulai hidup baru. #klisebanget

Gw punya banyaaaaakkkk banget hal yang mau gw tulis di blog. Tapi ya dibutuhkan ATP dan waktu. Dan yang paling penting : niat. Harusnya sih sesegera mungkin gw menulis apa yang mau gw tulis mumpung inget. Tapi ya  hidup emang gak selancar itu kan? Pengen deh punya alat yang bisa ngubah pikiran jadi tulisan. Jadi apa yang gw mau tulis langsung ke-post gitu deh di blog. Semua senang, semua bahagia. :D

Btw, untuk mengatasi lupa, gw nulis di agenda gw, kejadian yang terjadi tiap bulan dan emang mau gw abadikan di sini. Sekalian juga biar jadi bahan buat nulis laporan 3 bulanan. Hehe. Selain itu, pelarian gw dari nulis blog adalah cerita ke sahabat-sahabat gw. Dan kalo mereka ingat apa yang gw ceritakan. Mereka bisa jadi blog berjalan gw.

Hal-hal yang mau gw tulis :
-Tentang teman
Gw bingung kenapa gw gampang banget kesel atau gak suka sama orang. Dulu gw gak sadar sih, tapi sekarang ini lumayan jadi masalah karena gw merasa teman itu penting keberadaannya dan harus dijaga, tapi mereka ngeselin! Gimana dong?!
Ceritanya begini, awal-awal masuk sekolah gw punya temen dari berbagai negara. Ada satu yang karena duduknya di sebelah gw, jadi sering ngobrol. Dia anaknya baik, perhatian banget sama orang lain. Kayak misalnya waktu itu gw pernah gak nafsu makan (iya ini jarang banget terjadi) dan dia langsung nanyain gw buat memastikan gw lagi sakit atau gak, dan nawarin makanan. Pernah juga pas perut gw sakit (yang ternyata mules biasa) dia nawarin obat yang dia punya. Bukan promosi, ya. Gimana rasanya kalo kalian punya temen yang kayak gini? Seneng? Gw biasa aja sih sebenernya. Gw gak butuh perhatian berlebih soalnya.
Tapi lama-kelamaan, sifatnya yang lain makin kelihatan. Kayak misalnya rakus. Kalo soal makanan, dia bisa dibilang cukup kompetitif. Kayak misalnya waktu itu kita bersama beberapa orang makan di restoran negaranya. Kita pesen nasi dan beberapa lauk gitu. Bukan porsi sendiri-sendiri. Memang enak sih. Tapi di mata gw, dia kayak berusaha makan sebanyak-banyaknya. Pokoknya bener-bener beda sama dia yang biasanya gw liat di kelas. Yang biasanya kalem, malu-malu kalo ditawarin sesuatu. Tapi ini bukan masalah besar sih. Karena orang emang punya kepribadian yang beda-beda kan?
Nah, yang bikin gw rada gak suka adalah, pada suatu siang, dia sakit. Demam dan kepalanya sakit. Lalu tiba-tiba dia nangis pas ngobrol sama temen senegaranya. Gw gak ngerti
kenapa sih. Tapi ya pokoknya sakitnya kayaknya parah gitu. Nah trus dia minta tolong ke gw buat beliin makanan. Sebenernya gw agak enggan sih. Bukannya gw jahat, tapi hari itu gw lagi agak nggak enak badan, dan menurut gw, bukannya lebih baik minta tolong sama temen yang satu negara? Temen yang dari negara dia gak sedikit, kenapa minta tolongnya ke gw? Tapi akhirnya gw beliin karena hari itu gw sekalian keluar.
Besoknya dia gak masuk sekolah. Sakitnya masih lumayan parah kayaknya. Terus karena hari itu gw bakal keluar lagi, gw nanya ke dia mau nitip apa gak. Apa gw salah ya? Soalnya seminggu kemudian, ketika dia udah sembuh, pas pulang sekolah, dia kayak nungguin gw gitu pas gw beres-beres tas. Gw kesel sebenernya. Maksud gw, kalo mau ngomong apa gitu, langsung bilang aja. Gak usah nungguin gw beres-beres tas trus jalan pulang berdua gitu. Dan ternyata, dia nanya gw bakal makan di luar gak. Hari itu gw emang gak niat makan di luar. Gw sih terus terang aja. Terus gw tanya, emangnya dia mau makan di luar. Dan dia bilang, karena udah hampir dua minggu gak belanja, kulkasnya kosong dan dia gak punya makanan. Ya gw bilang, ya beli aja. Lalu dia bilang, hari ini dingin banget, sementara dia baru sembuh. Alasannya masuk akal, tapi ya kenapa minta tolongnya ke gw? Kenapa gak ke temennya atau kakak kelasnya gitu? Gw yang emang gak berencana keluar hari itu apa salah? Apa harusnya gw bela-belain keluar demi beliin dia makanan karena gw sehat walafiat? Apa gw jahat karena gw gak bantuin dia?
Gw tau seharusnya gw tetep memikirkan kebaikan seseorang di saat dia terlihat buruk. Tapi pikiran gw gak bisa diatur begitu. Dan jujur aja hati gw langsung kesel pas dia minta tolong. Ternyata gak gampang ya menjaga teman sampai dia bisa jadi sahabat.

- Tentang keluarga
Gw bukan familywoman. Gw bukan orang yang selalu mengedepankan keluarga. Dan gw juga pernah mempertanyakan kekurangan-kekurangan yang ada di keluarga gw. Gak cuma keluarga inti, keluarga besar gw juga. Gw adalah anak yang mungkin pernah luka batin karena dimarahin orang tua. Ya mungkin kalian tau gimana rasanya dimarahin dan mendengar kata-kata yang menyakitkan ditujukan ke kalian, bahkan oleh orang tua kalian sendiri. Gw sebagai orang yang sensitif, tentunya nggak mungkin lupa atau nggak terpengaruh sama hal kayak gitu. Ingatan gw cukup baik buat memanggil memori-memori pahit. Dan sekarang setelah gw tinggal di Jepang, nyokap gw terutama, jadi lebih baik ke gw. Itu emang bagus sih. Karena salah satu tujuan gw sekolah ke luar negeri adalah supaya gw lebih disayang keluarga pas ketemu. Hal buruknya, gw jadi mikir, "Dulu pas anak di rumah, kerjanya dimarah-marahin mulu. Sekarang pas udah jauh, baru disayang-sayang." Kenapa dulu kalo marahin gw sampe segitunya gitu? Gw gak pernah sampe terluka secara fisik, tapi percaya atau nggak, kata-kata itu lebih menyakitkan.

-Tentang hidup
Akhir-akhir ini gw bosen sama rutinitas gw. Bangun, sekolah, pulang,  belajar, tidur. Begitu terus tiap hari. Weekend juga belajar. Bukan karena sekolah gw kejam, tapi ya kalo gw mau dapet univ bagus, gw emang harus belajar. Duh tapi gimana ya. Minggu lalu aja ada hari di mana gw tidur 10 jam gitu. Gw segitu malesnya kembali ke dunia nyata karena mimpi gw lebih menarik. Mungkin mimpi emang selalu lebih asyik dari kehidupan nyata. Tapi tantangan dunia nyata itu gak bisa ditemukan di mimpi. Terus sekarang, gw merasa gw kayak gak punya tantangan gitu. Sebenernya ada sih. Tapi sekarang belum mulai. Atau jangan-jangan sebenernya gw takut sama tantangan itu sampai gw males menghadapinya?  Apa gw harus lebih YOLO? Atau lebih rajin?


Jumat, 01 Januari 2016

New Year 2016

Akhir tahun 2015 gw lalui dengan penyesalan yang mendalam. Tanggal 29 Desember, keluarga gw pergi ke Jepang. Pesawat mereka sampai di Haneda malam banget dan memang sudah direncanakan untuk tidur di bandara 1 malam. Pas gw jemput tanggal 30 pagi, gw gak jemput pake taksi, gw ajak naik kereta. Dan itu menyusahkan mereka karena bawaan yang banyak. Ketika sampai di asrama gw, dan mulai memisahkan bawaan yang buat gw dengan pakaian mereka, lebih dari setengah bawaan mereka buat gw. Isinya ada beberapa yang gw minta. Tapi banyak juga yang nggak diminta.

Gw nyesel banget karena gw nitip beberapa barang ke keluarga gw. Gw yang nitip barang adalah gw yang bulan Oktober. Yang baru sebulan dan merasa banyak hal yang gak ada di Jepang. Makanya gw minta bawain. Tapi sebenernya itu gak penting. Gw bisa bertahan hidup tanpa barang-barang itu. Sekarang, tiap kali gw ngeliat barang yang dibawain keluarga gw, gw sedih banget. Mereka bawain susah-susah, padahal itu cuma gara-gara gw bodoh dan manja. Sekarang gw bener-bener kepikiran. Gw jadi anak kok nyusahin banget. Yang penting kan sebenernya ketemu keluarga gw, barang2 ini bisa gw ambil sendiri pas gw pulang. Ini bener-bener menjadi ganjalan di hati gw, gw merasa bersalah banget. Gw kalo makan juga jadi gak enak, mau tidur juga pasti kepikiran.

Gimana caranya supaya gw bisa membalas ini sebelum mereka pulang? Gw berencana untuk pesan taksi, sih. Tapi belum ada jawaban buat e-mail gw. Semoga ada taxi yang tersedia.

Selain itu, ada temen gw yang dapat beasiswa Monbusho dan akan datang ke Jepang bulan April. Dia nanya ke gw barang-barang yang harus dibawa. Pilihan yang salah. Karena gw orang yang rempong. Dan gw terlanjur bilang beberapa barang yang menurut gw penting tapi menurut orang lain itu gak penting. Setelah gw disadarkan dengan kedatangan keluarga gw, gw baru bilang ke dia, kalo saran gw gak usah ditanggapi. Tapi ternyata dia udah terlanjur beli. Bertambah lagi ganjalan di hati gwm Tahun 2015 yang luar biasa dan merupakan salah satu puncak dan lembah dalam grafik hidup gw diakhiri dengan lembah. Tapi semoga lembah yang ini bisa membawa gw ke puncak yang lebih tinggi di tahun 2016.

Sebagai akibat dari kejadian di atas, gw membuat resolusi. Tahun 2015 adalah tahun terakhir gw merepotkan orang lain. Mulai tahun 2016 ini gw harus jadi mandiri.