Selasa, 05 Januari 2021

Food for Today

Sudah 2 hari ini saya menonton video Asian Boss tentang orang-orang baik hati yang membagikan makanan gratis untuk anak-anak, lansia, dan orang-orang yang berkekurangan. 

Kesan pertama saya, saya sakit hati mengetahui banyaknya orang yang hanya bisa makan sekali sehari. Saya kemudian berefleksi, dan merasa bersalah mengingat seringnya makan terlalu banyak atau terlalu mewah, di saat banyak orang yang kelaparan. Video-video tersebut menyadarkan saya, sepantasnya makan dengan porsi yang cukup, dengan lauk yang sederhana. 

Kemudian, saya terharu melihat betapa baiknya orang-orang yang membagikan makanan secara gratis dan berlanjut selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Saya kagum dengan kebaikan, kasih serta motivasi yang dimiliki mereka. 

Saya tidak bermaksud mengkritik orang-orang baik tersebut, ataupun Asian Boss yang membantu mengumpulkan dana, tapi di sisi lain, saya sadar bahwa bantuan makanan itu tidak sustainable. 

Untuk bisa melanjutkan bantuan makanan tersebut, mereka membutuhkan uang, yang didapatkan dari donasi orang-orang. Tapi faktanya, uang itu sesuatu yang bisa habis dan saya rasa, tidak ada jaminan akan selalu ada donatur untuk mendanai program tersebut. Bukannya saya pesimis dengan kebaikan hati manusia, tapi mau memberikan sudut pandang lain terhadap cara ini. 

Pangan memang kebutuhan pokok manusia dan bantuan makanan bisa membantu mereka bertahan hidup setidaknya untuk satu hari (katanya manusia bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum selama 8 sampai 21 hari kalau berdasarkan hasil riset sih, tapi ya bukan itu yang mau dibahas). Tapi saya miris melihat bagaimana penerima bantuan makanan tersebut bergantung pada pemberi bantuan hampir setiap hari (terutama di video ini). Bagaimana kalau suatu hari pemberi bantuan tersebut berhenti menyediakan makanan? 

Sempat terpikir untuk menyediakan ladang, sebagai lapangan pekerjaan untuk mereka yang masih sanggup bercocok tanam, dan juga membutuhkan makanan. Tapi ya, bercocok tanam hasilnya tidak dipanen dalam sehari, dan tidak mudah juga. 

Kemudian saya teringat pepatah yang mengatakan, "Give a man a fish, and you feed him for a day. Teach a man to fish and you feed him for a lifetime." 

But, don't you have to make sure that the man is still alive while he is learning how to fish? 

Saya akui, meskipun tidak sustainable, memang bantuan makanan itu cepat dan esensial. 

Sebagai orang yang suka masak, saya senang kalau bisa membuat orang kenyang dan bahagia dengan makanan buatan saya. Tapi saya akan lebih senang lagi kalau makanan yang saya buat, bisa memberikan dampak yang lebih daripada sekedar mengenyangkan perut dan memenuhi kebutuhan kalori. 

Saya berharap para penerima bantuan tersebut tidak hanya memperoleh makanan fisik untuk bertahan hidup satu hari, tapi juga mendapatkan motivasi, kehangatan hati, dan hal lain yang tidak terlihat secara fisik, tapi membantu mereka 'melanjutkan' hidup. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar