1. 30704 x 91
2. 444^2 x 9901^2
3. 4700047 x 4800048
4. 1999994 x 19999998
5. 85858585 x 45454545
6. 2000002 x 142857142857
7. 9070090700907 x 9030090300903
8. Dll... Bisa dilihat di Buku Mencetak Einstein karangan Stephanus Ivan Goenawan yang diterbitkan oleh Metris.

Pagi itu saya berangkat sekolah seperti biasa dan sampai di sekolah sekitar pukul 06.45 WIB. Tetapi saya tidak masuk ke kelas dan berkumpul bersama peserta lain di Hall Bawah. Setelah berdoa dan mendengarkan beberapa pengumuman, kami pun berangkat. Karena dari SMP Marsudirini Bekasi terdapat 13 peserta ditambah satu guru pendamping, maka kami dibagi ke dalam dua mobil dan berangkat ke Atma Jaya.
Pukul 08.00 WIB, kami sampai di Atma Jaya. Kami langsung menuju ke lantai 15 untuk pendaftaran ulang serta mengikuti acara pembukaan selama kurang lebih satu jam. Di situ saya tahu, bahwa peserta termuda adalah Frederick Arga Jetro Sitanggang yang masih duduk di kelas 5 SD dan peserta tertua adalah Bapak Edwin yang sudah berusia 65 tahun. Sungguh mengejutkan, karena lomba tersebut hanya dibagi ke dalam beberapa kategori seperti anak-anak untuk SMP ke bawah dan dewasa untuk SMA ke atas pada babak pertama sampai semifinal saja. Tetapi semuanya akan menjadi satu dalam babak final nanti. Lalu kami pun memulai lomba babak pertama di lantai 14.
Dalam babak pertama tersebut, semua peserta duduk di sebuah ruangan besar dan diberikan satu lembar kertas soal dan satu lembar kertas buram untuk coret-coretan. Dengan beberapa ketentuan sebagai berikut :
1. Tempat duduk bebas, tetapi tidak boleh satu meja dengan peserta dari sekolah yang sama
2. Dalam waktu 20 menit, kami harus mengerjakan 13 soal tipe eksplisit
3. Tidak boleh menggunakan alat bantu seperti kalkulator atau yang lainnya
4. Jawaban ditulis di lembar soal
Pada babak pertama, saya hanya mengerjakan 10 dari 13 soal dan 3 soal yang lainnya saya kosongkan. Setelah itu, kami mendapat pengarahan dari Bapak Stephanus Ivan G. tentang pola implisit. Lalu babak kedua pun dimulai...
Peraturan pada babak kedua hampir sama, yang berbeda hanyalah jumlah soalnya, yaitu 7 soal tipe implisit yang harus dikerjakan dalam waktu 20 menit. Di babak kedua ini, saya hanya sempat mengerjakan 6 soal saja. Setelah itu, kami diberikan waktu istirahat dan makan siang yang cukup lama sambil menunggu pengumuman untuk babak ketiga. Setelah kira-kira 1 jam istirahat, acara pun kembali dilanjutkan. Dalam babak ketiga ini, barulah dipilih 32 orang yang mendapat nilai tertinggi dari setiap kategori. Dari anak-anak 16 orang dan dari dewasa 16 orang. Yang saya ingat, urutan nilai dari kategori dewasa adalah :
1. Kak Jason (Siswa kelas 1 SMA Presiden)
2. Bapak Edwin
3. Dan seterusnya...
Dan dari kategori anak-anak :
1. Kak Rickson (Siswa kelas 9 SMP Marsudirini Bekasi)
2. Nicholas (kalau tidak salah)
3. Katarina F. N. (Siswa kelas 8 SMP Marsudirini Bekasi)
4. Stephanie D. S. alias saya
5. Dan lain-lain...
Dari SMP Marsudirini Bekasi ada 11 orang yang lolos dalam kategori anak-anak, 4 orang lagi dari SMP Harapan Bangsa Jakarta dan 1 orang lagi adalah Frederick Arga Jetro Sitanggang yang duduk di kelas 5 SD kalau tidak salah.
Lalu 32 orang tersebut dibagi ke dalam 8 kelompok per kategorinya dimana tiap kelompok terdiri dari 4 orang. Saya masuk kelompok 8 bersama dengan Andhika yang satu sekolah dengan saya dan 2 orang dari SMP Harapan Bangsa. Pada babak ketiga, ruangan besar yang tadi dipakai untuk babak pertama dan kedua diberi pembatas. Dan kelompok 1-4 diberi kesempatan untuk melaksanakan babak ke 3 lebih dulu. Sementara itu, kami yang ada di kelompok 5-8 diberi waktu untuk belajar di ruangan lain.
Akhirnya tiba waktunya kami melaksanakan babak ke 3. Pada babak ke 3 kami harus mengerjakan 7 soal eksplisit dan implisit dan tiap soal diberi waktu 2 menit dan bernilai 200 poin. Bagi yang sudah selesai mengerjakan soal kurang dari 2 menit harus langsung meletakan lembar jawaban pada keranjang yang telah disediakan. Dan kertas yang ada di paling bawah akan diperiksa pertama kali dan bila jawabannya benar, anggota lain dalam kelompok tersebut tidak akan mendapat nilai meskipun jawabannya benar. Poin awal kami adalah nilai yang kami kumpulkan dari babak pertama dan kedua tadi.
Dari ketujuh soal tersebut, saya berhasil mengerjakan seluruhnya dengan tepat dan mendapat tambahan 1400 poin sehingga poin saya berjumlah 1570. Dengan demikian, saya berhasil lolos ke semifinal bersama Nicholas Thie, Kak Rickson dan satu orang lagi dari SMP Harapan Bangsa.
Semifinal dilaksanakan di lantai 15, di aula tempat acara pembukaan tadi. Dalam babak semifinal terdapat 8 orang, 4 orang dari kategori dewasa dan 4 orang dari kategori anak. Untuk masuk ke babak semifinal hanya dibutuhkan 2 orang dewasa dan 2 orang anak-anak. Maka 4 orang dari tiap kategori harus bertanding dan hanya diambil 2 orang yang nilainya tertinggi. Seperti biasa, kategori dewasa bertanding lebih dulu, baru kategori anak-anak. Ada 12 soal yang harus kami kerjakan pada kertas transparan yang masing-masing bernilai 100 bila benar dan 0 bila salah dan poin awal kami 0. Saat ini kami masih diperbolehkan menggunakan kertas coretan.
Tahap pertama yang berjumlah 4 soal hampir sama seperti pada babak ketiga, kami harus mengerjakan soal secepat mungkin dan menaruhnya di keranjang. Di tahap kedua yang juga berjumlah 4 soal, kami duduk di meja bel dan harus membunyikan bel bila sudah menulis jawaban pada kertas transparan tersebut tetapi, bila jawaban kami salah, kami tidak boleh menjawab pertanyaan selanjutnya. 4 soal terakhir atau tahap ketiga, peraturannya sama dengan tahap pertama, duduk di meja biasa dan mengerjakan soal secepat mungkin lalu menaruhnya di keranjang.
Pada awalnya, poin saya tetap 0 dan Nicholas Thie serta Kak Rickson sudah mendapat 200 poin. Tetapi, pada soal-soal selanjutnya saya berhasil mendapat 400 poin karena jawaban Kak Rickson yang mengumpulkan pertama kali dan Nicholas Thie kurang tepat. Dan akhirnya, saya berhasil masuk ke final bersama Kak Rickson, Kak Jason, dan Kak Yoggie. Kami pun mengganti baju dengan kaus yang diberikan oleh panitia.
Pada babak final ini, kami semua berdiri di belakang meja bel tanpa kertas coretan satu pun. Ada 15 soal yang diberikan dimana tiap soal bernilai 100 bila benar dan -50 bila salah. Setelah kami menemukan jawabannya, kami boleh menekan bel bila soal telah selesai dibacakan dua kali dan mengetik jawabannya pada laptop yang ada di belakang kami. Dan bila peserta tersebut menjawab salah, soal akan dilanjutkan ke soal berikutnya.
Kak Jason selalu menjawab pertanyaan yang diberikan dengan cepat dan tepat pada 15 soal tersebut meskipun ada 2 soal yang salah ia jawab, dua soal dijawab oleh Kak Rickson, satu diantaranya salah, dan satunya lagi benar, ada satu soal yang tidak dapat dijawab siapapun dan dilanjutkan ke soal berikutnya, dan ada satu soal yang dijawab oleh saya. Awalnya nilai saya dan Kak Rickson seri, tetapi karena Kak Rickson salah menjawab soal terakhir, maka poinnya dikurangi 50. Dan nilai akhirnya adalah :
1. Kak Jason = 800
2. Saya = 100
3. Kak Rickson = 50
4. Kak Yoggie = 0
Setelah itu ada babak bonus untuk Kak Jason karena ia berhasil menjadi juara 1. Ia diberikan 5 pertanyaan tanpa kertas coretan dan harus mengetiknya di komputer dalam waktu kurang dari 5 menit. Dan... Ia berhasil menjawab kelima soal tersebut dengan cepat dan tepat sehingga ia mendapat tambahan uang tunai sebesar Rp 300.000,00 untuk tiap soalnya alias Rp 1.500.000,00
Lalu kami pun diberi hadiah dan penghargaan oleh Pak Stephanus Ivan G. dan berfoto bersama. Saya sebagai juara 2 mendapatkan piala, piagam, tas dan uang tunai sebesar Rp 2.000.000,00
Saya sangat senang karena tadinya saya tidak menyangka bisa masuk ke babak final apalagi mendapat juara 2! Saya hanya berusaha semaksimal mungkin dan berharap mendapatkan hasil yang seimbang dengan yang saya kerjakan. Saya bangga karena saya dapat membawa nama baik sekolah dan membuat orang tua saya bangga.


Bapak Stephanus Ivan Goenawan
Pemenang OKA I

Pemenang OKA II
Video Final OKA II








