Yang dimaksud dengan 'Rumah' adalah sekolah. Kenapa sekolah? Soalnya sekolah adalah rumah kedua. Dan berhubung saya lulus SMA, rumah kedua saya nanti adalah Universitas.
Pencarian univ ini dimulai agak terlambat karena saya belum menentukan jurusan kuliah. Awalnya, semua hal terlihat oke di mata saya. Lalu lama kelamaan, semuanya menjadi tidak oke. Intinya, tetap bingung. Sampai akhirnya meyakinkan diri sendiri untuk mengambil matematika.
Lalu pencarian pertama dimulai dari NTU. Karena pikiran saya belum terbuka, keinginan untuk kuliah di luar negeri dan yang terpikirkan hanyalah Singapur. Universitas yang top ada 3, NUS, NTU dan SMU.
NUS butuh rata-rata IELTS minimal 6,5 dan 6,5 untuk setiap bidang. Rata-rata IELTS saya 7 tapi ada yang 6 juga. Makanya saya memilih untuk tidak mendaftar NUS.
Saya kurang berminat di bidang management, makanya saya tidak tertarik dengan SMU.
Akhirnya saya mendaftar NTU. Tapi, saya tidak ikut les A level sama sekali. Sebenarnya saya malas, dan tidak mau membuang uang untuk les. Padahal itu kan investasi ya, hahaha. Kemudian saya memfotokopi materi A level dari Telung a.k.a. Stella yang les di De Angelique beserta satu buku tebal yang isinya soal dan jawaban. Tapi tetap saja, latihan soal dan bukunya tidak saya baca. Cuma dibawa-bawa saja. Hahaha sampai akhirnya saya stress parah menjelang hari tes. Karena tiba-tiba saya berpikir, "Ngapain ya gw daftar di NTU?" Ya karena sudah terlanjur bayar, dan nggak enak sama orang tua, saya tetap ikut tes tanpa belajar.
FYI, kalkulator scientific aja saya minjem. Dan lucunya lagi, saya nggak tau cara pakai kalkulator scientific. Jadi ya pas ngerjain soal mat, cuma bisa ngerjain 1% nya. Sisanya kalo nggak kosong ya salah. Inggrisnya lumayan sih, gak separah mat. Fisikanya juga lebih oke, karena multiple choice jadi bisa nembak.
Tapi saya tahu, saya gak akan diterima. Cuma beberapa orang termasuk orang tua saya menganggap saya bisa dan masih ada kemungkinan diterima. Jujur aja, saya nggak suka. Apalagi setelah ternyata gak diterima, saya dipaksa banding. Percuma. Hati saya nggak di situ. Dan memang nggak diterima juga. Ya iyalah, jawaban mat kosong begitu masa bisa diterima?
Setelah pengumuman NTU, saya langsung kontak Kak Devina yang saya kenal lewat OSN Mat 2013. Kak Devina ini mendapat beasiswa ke Jepang dari Monbusho. Kemudian saya konsultasi dengan dia dan muncul sebersit harapan untuk kuliah di luar negeri. Selain Monbusho, saya juga diberi tahu soal Mitsui-Bussan Scholarship yang belum banyak diketahui.
Pendaftaran Mitsui-Bussan Scholarship dibuka lebih awal dibandingkan dengan Monbusho, yaitu sekitar bulan Maret. Saya pun mendaftar dan mengirim dokumen ke UNSADA. Kemudian pada tanggal 23 April, saya diberi tahu melalui e-mail bahwa saya lolos seleksi dokumen. Tanggal 10 Mei saya mengikuti tes tertulis (Mat dan bahasa Inggris). Kali ini saya mempersiapkannya dengan baik. Saya belajar dari catatan SMA saya dan juga rumus-rumus turunan dan integral dari fotokopian A level. Alhasil, dari 14 soal yg beranak, totalnya jadi 20, saya mengisi 17. Meskipun 2 di antaranya saya ngasal. Bahasa Inggrisnya cukup sulit, tapi ya itu, bisa nembak.
Sebetulnya saya nggak terlalu yakin lolos karena pernah baca di internet, yang lulus itu yang bisa ngerjain semua soal. Jadi saya nggak terlalu banyak berharap. Eh, tiba-tiba pada tanggal 15 Mei, saat saya sedang jalan-jalan di CP bersama teman-teman saya, tepatnya di Taimei, saya lihat ada missed call dari nomor tak dikenal. Berdasarkan blog nya Kak Tsani -> https://wrappedindreams.wordpress.com/ diumuminnya memang ditelpon. Jadi saya telpon balik dan ternyata itu adalah nomor Pak Katsunishi. Saya langsung mengenali suara dan aksennya karena beliau ada saat tes tertulis. So... YEAY LOLOS KE TAHAP BERIKUTNYA! Begini nih muka saya setelah ditelpon Pak Katsunishi :
Sori alay
Oke lanjut, saya dipanggil untuk ikut psikotes dan tes kesehatan tanggal 21 dan 22 Mei. Nah di sini tinggal 18 orang. Semua berasal dari tempat yang beda-beda. Ada yang dari Makassar, Purwokerto, Bandung, Palembang, Pontianak, Jogja, Medan, Banyuwangi, Jakarta, Bekasi. Nah waktu psikotes udah mulai kenalan dikit-dikit. Ceweknya cuma 4 btw. Dan saya kenalan sama yang cewek dulu. Ada yang sudah kuliah di Unpad juga ternyata. Lalu, karena saat tes saya tidak sengaja menginjak kotak pensil seseorang, ya sudah saya minta maaf sekalian kenalan waktu makan siang. Namanya Joevandi. Terus berlanjut deh kenalan sama yang lain. SKSD gitu ceritanya, tapi nyambung juga hahaha. Kemudian ada tahap wawancara dengan psikolog. Saya dapat jadwal jam 3 padahal yang lain mulai jam 1 atau jam 2. :') Sambil menunggu, saya ngobrol dengan peserta lain. Asik juga sih, hahaha saya sudah merasa nyaman di kelompok itu.
Besoknya adalah tes kesehatan. Ini juga menarik. Ada saja kejadian lucu yang terjadi. Sambil menunggu sesi-sesi tertentu, saya meminta kontak peserta lain. Saya mulai menyadari bahwa relasi sangat penting. Makanya saya meminta kontak mereka.
Oh iya, kita juga diminta mengirimkan beberapa dokumen sebelum tanggal 15 Juni. Nah jadinya setiap ada yang nanya, "Gimana Step Jepangnya?" Saya cuma bisa bilang, "Pokoknya pengumumannya setelah tanggal 15 Juni." Masa-masa penantian itu memang mendebarkan. Hp saya yang biasanya di-silent jadi nggak. Oh iya, saya sempat les selama 8 hari di De Angelique. Persiapan untuk tes Monbusho ceritanya karena kalau dilihat-lihat, soalnya lebih susah dari tes Mitsui dan saat tes Mitsui, 3 soal yang tidak bisa saya kerjakan itu karena saya sama sekali tidak mengerti soalnya. Jadi saya pikir saya harus les supaya terbiasa.
Tanggal 19 Juni, saya menanti telpon dari Pak Katsunishi. Sebenarnya ini hanya perkiraan saya saja. Karena bisa antara tanggal 19-23 Juni. Sepulang kerja, saya mengecek e-mail dan mendapati kalau saya lolos untuk tes wawancara! Saya sangat senang karena dua hal :
1. Saya tinggal selangkah lagi menuju beasiswa ini
2. Saya terbukti sehat!
Saya dipanggil untuk wawancara tanggal 30 Juni. Saya betul-betul mempersiapkannya dengan browsing pertanyaan-pertanyaan umum yang sering keluar dan mencari jawabannya. Dibantu dengan les bahasa Inggris bersama Ibu Maryana. Kenapa? Karena saya pernah trauma dengan wawancara. Someday I'll write about this. Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang saya persiapkan :
Please
introduce yourself!
Tell
me about your family!
Why
do you want to continue your study in Japan?
Why
do you choose Math? What are the advantages for your career and your future?
What
are the advantages for your country?
What
university do you plan to study in Japan?
What
do you want to do after your graduate?
What
do you think about Japan?
Are
you ready to live and study in Japan?
How
will you adapt there?
After
you come back to Indonesia, how will you apply your knowledge?
What
are your strength points?
What
are your weaknesses?
Have
you been accepted in other university or not? If yes, where is it?
Are
you willing to resign from that university?
Can
you speak Japanese?
What
are your motivations for this scholarship?
Are
you applying for another scholarship?
What
are the problems in Indonesia that needs to be solved?
Your
biggest achievement? What makes you proud of yourself?
Me
10 years from now?
Why
do you deserve this scholarship?
What
will you do to other people after you finish the scholarship program?
Non-academic
activity at school
Why
don’t you apply for American Scholarship?
Lalu ini daftar pertanyaan yang saya ingat ditanyakan pada saat wawancara selama 20 menit :
Introduce yourself (5 min)
Why do you want to go to Japan?
Why do you apply for this scholarship?
What do you think about the written test?
Have you ever gone abroad, where, what do you learn from it?
What's your plan after you graduate?
Why do you choose math? What is your alternative major?
What university do you plan to go in Japan? Why?
Can you speak Japanese?
What is your weakness?
How do you spend your spare time?
How will you spend your spare time there?
What Japanese culture do you like?
Where will you continue your study if you are not accepted in this scholarship program?
How is your involvement in community?
What do you do to get accepted by a community?
When did you know about this scholarship program?
Do you like sports?
I think these are personal questions (Different for each person) :
How often do you meet your friends?
You only have a few friends. Why? How many?
Can you still study in a bad mood?
You are only 17. Have you ever been accelerated at school?
I have done my best but I'm not really sure with it. Hari-hari setelahnya benar-benar mendebarkan. HP yang biasanya di-silent, jadi disetel cukup kencang. Kemudian pada tanggal 3 Juli, saya pikir pengumumannya akan dilakukan siang hari, seperti biasa. Saya bete sepanjang hari karena saya tidak ditelpon-telpon. Pada sore harinya, sepulang kerja, saat adzan maghrib dan buka puasa dimulai, saya iseng melihat hp saya. Dan ada missed call dari Pak Katsunishi. Saya telpon beliau, dan SAYA DITERIMA!!! YEAHHHH!!! XD
Saya benar-benar merasa lega saat itu karena pencarian 'rumah' baru telah selesai. Memang sebenarnya saya sudah diterima di Universitas Parahyangan, Bandung dan sudah bayar. Tapi impian saya tetap ke luar negeri. Puji Tuhan, impian saya ini akan terwujud pada bulan September nanti.
Saya ingin berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segalanya yang diberikan pada saya. Kepada Kak Devina yang memberi informasi Mitsui-Bussan Scholarship pada saya. Kepada kedua orang tua saya yang memfasilitasi saya. Kepada kakak saya yang memasang wifi di rumah dan juga meminjamkan dan mengisi Bolt untuk saya. Kepada semua teman-teman saya yang mendoakan dan mendukung saya. Sangat banyak dan sulit disebutkan satu persatu. Kepada para blogger yang menuliskan pengalaman masing-masing dan menjadi referensi untuk saya.
Selain itu, saya juga minta doanya agar saya bisa menjalani sekolah bahasa selama 1,5 tahun dengan nilai yang baik dan lulus JLPT N1 sehingga saya bisa melanjutkan kuliah di Jepang. :D