Sabtu, 28 Desember 2013

8D

Kemaren Cete nginep di rumah gw. Sebagaimana normalnya cewek, kalo udah lama gak ketemu pastinya kita ngobrol-ngobrol dan menggosip. Jam setengah sebelas malem, kita sudah bersiap untuk tidur. (FYI, I usually sleep at 9) Tapi, kita malah ngobrol dan ngobrol terus. Kita flashback tentang kelas 8D. Gw emang kenal Cete sejak masuk kelas 8 ya otomatis kita sangat nyambung dong kalo ngomongin kelas kita. And guess what? We slept at three o'clock in the morning. Then I realized something. I realized that 8D had so many memories. Most of things I remember about my JHS are about 8D. 8D was a very comfortable class too. It is my favorite class in JHS. So I think that's the reason why I almost didn't sleep last night. Yes, it's because there were so many things about 8D. Things that made me laugh, things that made me learn and also things that made me feel comfortable. I didn't feel left out or alone. 8D was like a family for me. Even if I didn't join most of my class activities outside the school, I was still part of them.

And now, we are thinking to make a reunion for 8D. I hope it will be succeed.

People change, memories don't.
Yeah, that's right. The memories won't ever be forgotten or change. But I knew some people change. They became strangers and I don't even recognize them. I hate it. I wish everything will always be like what it used to be. Not like what happens in reality. In 8D, these people were kind and friendly. I liked being around them until they changed and became so mean. I won't talk about their meanness. It's useless.


Kamis, 07 November 2013



Perlukah Buruh Berdemo?

Demo buruh sedang marak terjadi akhir-akhir ini dengan menyampaikan berbagai hal yang diperjuangkan oleh serikat pekerja dengan dalih untuk memperbaiki nasib pekerja. Di antaranya, upah buruh masih rendah, upah buruh masih dibawah kebutuhan standar hidup layak, adanya kebutuhan jaminan sosial kesehatan, ketidaksetujuan dengan pola hubungan kerja alih daya (Outsourcing) dan berbagai alasan lain yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan hidup pekerja dengan menuntut jumlah kenaikan upah tertentu.
Upah tersebut harus dibayarkan oleh pihak pemberi kerja (perusahaan) tanpa melihat keragaman kondisi/posisi awal para pekerja dan keadaan perusahaan seperti, pendidikan (lulusan SD, SMP atau SMA), posisi pekerja di perusahaan (office boy, operator pemula, staff administrasi dan lain-lain), bidang usaha perusahaan, skala perusahaan (global, regional, nasional, lokal), golongan perusahaan (besar, menengah, kecil), keadaan perusahaan (baru, sudah lama berdiri, sudah stabil).
Di samping itu, ada satu hal yang sampai saat ini tidak disadari oleh para pekerja yang menjadi anggota serikat pekerja. Dengan membayar atau menyetorkan iuran kepada serikat pekerjanya, apakah mereka mendapatkan laporan terbuka atas jumlah iuran yang disetorkan dan penggunaan iuran tersebut untuk kesejahteraan mereka sendiri? Tanpa disadari para pekerja telah dimanfaatkan oleh serikat pekerjanya yang seolah-olah memperjuangkan perbaikan nasib pekerja. Tetapi pada saat terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), apakah serikat pekerja mau dan mampu bertanggung jawab memberi pekerjaan atau membiayai kebutuhan hidup selama pekerja itu belum mendapatkan pekerjaan?
Sedangkan para pengurus organisasi serikat buruh akan tetap menerima penghasilan dari iuran para anggotanya. Pertanyaannya adalah apakah para pengurus serikat pekerja sesungguhnya egois dan memiliki kepentingan pribadi dengan memanfaatkan para buruh? Karena dengan iming-iming perjuangan UMP harus naik, pasti akan meningkatkan upah para pekerja. Tapi tidak dipikirkan akibat yang terjadi jika para buruh kehilangan pekerjaan karena perusahaan tidak mampu membayar upah yang  mereka tuntut.
Di sisi lain, demo tersebut terlalu berlebihan sehingga mengganggu kegiatan perekonomian dan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi.
Demo buruh boleh dilakukan jika standar upah mereka memang tidak layak. Sementara itu, sekarang standar upah mereka sudah layak sehingga mereka tidak pantas melakukan demo. Waktu yang akan mereka gunakan untuk demo juga harus dipikirkan baik-baik. Seharusnya mereka mengambil hari libur atau saat mereka tidak bekerja sehingga tidak merugikan siapa pun. Bagi karyawan yang diupah per hari, mereka tidak akan dibayar pada hari mereka tidak bekerja untuk ikut berdemo.
Menurut ayah saya, Bapak Ricky Suciadi, demo buruh tersebut wajar jika dilakukan secara tertib dan bertanggung jawab sehingga tidak merugikan pihak mana pun. Selain itu, menurut beliau, demo ini tidak masuk akal. Tuntutan para buruh tersebut adalah untuk memenuhi enam puluh komponen kebutuhan hidup yang memenuhi standar hidup layak. Yang di dalamnya termasuk tempat tidur, lemari dan lain sebagainya.
Dalam hal ini, para buruh patut diberi pengertian agar mereka sadar dan tidak dimanfaatkan keberadaannya oleh serikat pekerja.
Jika diibaratkan, para buruh yang baru saja bekerja itu sama dengan bayi yang baru lahir. Seorang bayi yang baru lahir belum bisa berjalan atau pun berlari. Mereka harus belajar untuk merangkak dulu untuk bisa berjalan dan kemudian berlari. Para buruh itu pun harus dapat memenuhi kebutuhan tersebut setelah bekerja beberapa waktu dan meningkatkan pengetahuan, keahlian, kualitas dan produktivitasnya dikemudian hari.
Bagi buruh yang sudah lama bekerja, prestasi mereka tentunya akan dilihat. Jika prestasi mereka memang bagus, maka upah mereka bisa lebih tinggi. Sementara mereka yang sudah lama bekerja harus meningkatkan kemampuan dan produktivitas mereka, baru kemudian membandingkannya dengan upah yang mereka terima. Kalau mereka tidak pernah meningkatkan kualitas diri mereka sendiri, mengapa perusahaan perlu memberikan upah yang lebih untuk mereka?
Bangsa kita perlu diberikan pendidikan karakter sejak dini, agar setiap orang memiliki pola pikir untuk introspeksi diri terlebih dahulu sebelum mengkritik atau menuntut perubahan dari orang lain. Ketegasan pemerintah juga diperlukan untuk mengendalikan kondisi. Dan sebaiknya para pekerja diberikan sosialisasi yang rasional tentang kenaikan upah dan kualitas pekerja itu sendiri agar mereka tidak dimanfaatkan pihak tertentu.
Ayah saya sudah berusia lima puluh lima tahun. Beliau memiliki jabatan tertentu di tempat beliau bekerja. Pada awalnya, beliau pernah menjadi buruh juga. Seperti menjadi karyawan toko, karyawan bioskop, bekerja di gudang, tetapi beliau terus berusaha untuk berprestasi dengan meningkatkan pengetahuan, kualitas diri dan pendidikan sehingga beliau dapat naik jabatan menjadi supervisor, asisten manajer dan manajer.
Setiap keberhasilan tentunya melalui suatu proses dan membutuhkan kerja keras, kerja sama dan berjalan tahap demi tahap. Semoga para pekerja, serikat pekerja, pengusaha dan pemerintah dapat bekerja sama dan bersatu padu menyejahterakan bangsa Indonesia dengan tidak saling memanfaatkan atau memikirkan kepentingan pribadi dan kelompok masing-masing.

Senin, 07 Oktober 2013

Soulmate.

What does soulmate mean?
Soulmate adalah belahan jiwa, kalau diartikan dalam bahasa Indonesia.
Tapi tidak sesederhana itu bagi saya.
Dulu, waktu saya kelas 6 SD, salah satu guru saya pernah bertanya pada saya, "Ini soulmate kamu, ya?" Sambil menunjuk salah satu teman saya. Waktu itu saya tidak tahu dan tidak ngerti Soulmate itu apa. Yang terlintas di pikiran saya adalah.... Jodoh. #krik
Setelah tahu arti Soulmate yang sebenarnya, saya merasa bodoh. Hahahahahaha

Tapi baru-baru ini saya sadar kalau saya nggak bodoh-bodoh amat. Saya menemukan soulmate sejati yang juga merupakan jodoh sejati. Yaitu :
Endah n Rhesa

Liat kerumunan orang di belakang mereka berdua? Itu anak-anak Sanur dan pengunjung Gema Genta. Yap, Endah n Rhesa adalah Guest Star di acara Gema Genta, Pemuda Punya Suara tanggal 5 Oktober kemaren.

Apa yang saya lihat selama mereka tampil adalah :
1. Rhesa jago main bass
2. Endah jago nyanyi dan main gitar
3. Mereka unyu :3
4. Mereka pasangan yang sangat cocok

Buat saya, mereka adalah pasangan suami istri yang tidak hanya saling mencintai, tapi juga saling melengkapi satu sama lain. Kadang saya menemukan pasangan yang hanya saling mencintai saja. Atau pernah juga saya melihat pasangan yang saling melengkapi namun tidak saling mencintai. Tapi jika pasangan itu saling mencintai dan melengkapi, they're perfect. 

Endah n Rhesa bukan satu-satunya. Ada Merry Riana dan Alva Tjenderasa. I've read the book about her life journey with her husband. Mereka betul-betul memulai usaha bersama dan berjuang bersama. Mereka bukan hanya suami istri biasa, mereka juga merupakan partner, sahabat dan lain sebagainya. Itulah soulmate.   

Selasa, 02 Juli 2013

Fashion Design

I enjoy this lesson so much! I love to design clothes since I was a 2nd grade student in elementary school. I don't regret to take this lesson. I can draw much better than before. These are the results in my first year :

Very first page, women robot :




Garis Kontur :






Sketch!





 Mid Semester 1 test :



Dianna Agron's face :



Semester 1 test :
Theme : Midieval (Snow White and the Huntsman)



 My first Storyboard (Pretty Preppy) :



 Inspired from mathematics haha :



Achromatic color, when I put a little black paint in a white paint until it became black.

One of my assignments will be hanging on the Fashion Design's room on Open House! Its name is 'Sweet As  Sugar'


And now, I'm making these Open House souvenirs for the 10th Grade!!!

  

Art

In Sanur, Mrs. Arimbi is the only art teacher. She's so different from Mr. Made, my JHS art teacher. I used to get 90 and above for my art lesson. Now, I rarely get 90 and my score always below 90. Honestly, if I did it well, the results would be awesome, amazing and unbelievable. Actually, I didn't learn how to do 'Art', but Mrs. Arimbi taught me that I can do something I think I can't. I would like to share the pictures of what I've done in my first year here. You can try this too!

Pointilisme :
Theme : Ikon besar negara-negara di dunia (New Zealand -> Kiwi)


First one :


Gambar Mistar :



This one was made by Stacia and me :



Pars Parto, I chose Agnes Jessica as my Idol
Isen-isen :

Perspektif :




My 'Art' notebook :






Gagas Kreatif I :


Abstrak Ilusi :







KOMIK :













Gagas Kreatif II :


Perspektif (again) :