Kamis, 18 Desember 2014

Refleksi?



Pak Agus, guru kimia gw, ngasih tugas buat bikin refleksi tentang sekolah di Sanur. Bisa berupa cerita singkat, puisi, atau karikatur dan minimal empat halaman. Dengan gambar standar dan kosa kata yang terbatas, gw memilih bikin cerita singkat. Gw berusaha nulis sebagus mungkin, tapi menjelang malam, tulisan gw jadi rada-rada aneh. Ya dibaca aja, ya. Hahaha...


Empat Halaman dari Saya

Untuk memulai cerita ini, saya akan menceritakan pengalaman saya saat mengikuti tes penerimaan siswa baru.
            Hari tes pelajaran diadakan tanggal 6 Oktober 2011. Pada tanggal tersebut, saya seharusnya sedang berada di Singapura, mengikuti Program Sisterschool dari SMP saya. Tetapi akhirnya saya pulang lebih dulu seorang diri demi mengikuti tes.
Saya sampai di rumah saya jam 12 malam. Saya tidak sempat belajar sama sekali untuk tes tersebut dan jujur saja, saya tidak terlalu bisa mengerjakannya. Saya hanya bisa berdoa.
            Sore hari setelah tes itu, saya bertemu dengan mantan kakak kelas saya di SMP yang saat itu bersekolah di Sanur. Saya masih ingat jelas kata-katanya, “Kalian nggak menyesal masuk sini?”. Sangat mengagetkan saya dan teman-teman saya yang lainnya, karena kami baru mendaftar dan mengikuti tes pelajaran saja, bukan diterima. Kemudian kakak itu menjelaskan seberapa beratnya sekolah di Sanur. Saya tidak terlalu memikirkan kata-kata kakak itu karena belum tentu saya diterima. Jadi saya tidak menghiraukannya.
            Kemudian, saya mengikuti tes wawancara. Salah satu pertanyaan yang masih saya ingat adalah, “Apa kelebihan kamu?” dan “Jelaskan contohnya!”
            Saya menjawab, “Saya adalah orang yang pantang menyerah. Misalnya, ketika guru matematika saya menjelaskan materi baru di kelas, beliau akan memberikan soal-soal latihan. Biasanya, teman-teman saya akan menyalin soal lalu menunggu sampai soal tersebut dibahas. Tapi saya akan mencoba mengerjakannya terlebih dahulu. Meskipun saya salah mengerjakannya, setidaknya ketika dibahas nanti, saya akan tahu di mana letak kesalahan saya dan saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”
            Saat itu saya tidak tahu bahwa saya diwawancara oleh Ibu Surti, yang ternyata adalah guru matematika. YEAH! Saya diwawancara oleh guru yang tepat! Dan akhirnya, saya diterima di SMA Santa Ursula Jakarta. J
            Menjadi murid SMA tidak membuat saya deg-degan atau takut. Saya malah bersemangat untuk pergi ke sekolah. Tetapi, sesampainya di sekolah dan dibentak-bentak tanpa arti oleh kakak-kakak OSIS membuat saya takut untuk pergi ke sekolah esok harinya. Saya sampai tidak bisa tidur karena takut dimarahi.
Untungnya, MOS itu segera berakhir dan digantikan oleh COMOS. Ada satu pengalaman yang tak terlupakan oleh saya. Saat COMOS dan diharuskan memasak makanan sendiri, mie yang direbus oleh kelompok saya tumpah ke tanah. Satu-satunya jalan adalah dengan membilas mie itu dengan air. Itulah pengalaman pertama dan terakhir saya makan mie rasa rumput. Hahaha…
            Setelah kira-kira satu minggu masuk sekolah, saya mulai merasakan perbedaan yang sangat jauh dengan sekolah saya dulu. Pertama, tidak ada siswa, hanya ada siswi. Awalnya saya merasa agak ‘sedih’ karena suasananya jadi berbeda. Biasanya para siswa akan membuat kegaduhan dan berulah sehingga menghibur murid lain walaupun kadang agak berlebihan. Kedua, peraturan jauh lebih ketat. Biarpun salah satu alasan saya mendaftar di sekolah ini adalah peraturannya, saya tidak menyangka kalau panjang kuku diatur dengan satuan ukuran. Sebetulnya hal itu tidak menjadi masalah untuk saya, sih, saya cuma merasa agak aneh. Tapi sekarang, saya menyukai sekolah ini karena alasan yang kurang lebih sama.
Hari-hari saya menjadi murid kelas 10 mulai dipenuhi ulangan dan tugas. Kemudian banyak teman-teman saya yang mulai mengeluh dan mengatakan bahwa sekolah di Sanur itu berat. Bukan bermaksud sombong, tapi menurut saya sama saja. Karena SMA lain juga memiliki materi yang kurang lebih sama dan lagi, saya tidak pernah merasakan sekolah di SMA lain, sehingga saya tidak bisa membandingkan.
            Cara belajar saya dalam menghadapi ulangan tidak banyak berubah dari SMP. Saya mulai belajar sehari sebelum ulangan dan pada pagi hari dalam perjalanan ke sekolah. Tetapi, ada saat-saat di mana ada ulangan biologi dengan materi yang sangat banyak. Saya adalah orang yang tidak bisa begadang. Saya selalu tidur jam 9 malam. Akhirnya untuk mengantisipasi hal tersebut, saya bangun lebih pagi. Biasanya saya bangun jam empat pagi. Akan tetapi, jika saya belum selesai belajar, saya akan menyetel alarm saya jam tiga atau bahkan jam dua pagi.
            Karena di Sanur siswi diwajibkan untuk mengambil satu Humaniora dan satu Bahasa Asing, saya memilih Fashion Design dan bahasa Mandarin.
Saya yang sejak dulu suka menggambar design baju, sangat senang belajar Fashion Design. Ya biarpun hasil karya saya tidak terlalu bagus, yang penting saya suka dan menikmati prosesnya.
Belajar bahasa Mandarin adalah suatu kesulitan untuk saya. Saya tidak bisa menghafal kanji dan nada pada tiap kata sehingga nilai Mandarin saya saat kelas 10 semester 1 pas-pasan. Pada pertengahan semester 2, saya menyadari bahwa kemampuan saya adalah hal-hal yang berhubungan dengan angka, seperti matematika. Lalu saya mencoba menciptakan gaya belajar yang unik untuk saya sendiri. Saya memang hafal dengan nomor urut setiap siswi di kelas, saya menggabungkan memori itu dengan nada pada kata-kata bahasa mandarin. Jika kata itu memiliki nada 2, saya akan menghubungkannya dengan siswi nomor urut 2 di kelas saya. Jika kata itu memiliki nada 1 dan 4, saya akan menghubungkannya dengan siswi nomor urut 14 di kelas saya. Cara ini sangat efektif dalam menciptakan ingatan jangka pendek untuk mengerjakan ulangan Mandarin.
            Tahun berikutnya, di kelas 11 IPA, saya mulai merasakan sedikit perubahan, yaitu saya menjadi lebih sibuk. Buktinya? Saya meminjam novel dengan jumlah yang lebih sedikit. Karena saya tahu saya tidak akan belajar atau pun mengerjakan tugas jika ada sebuah novel menarik yang belum saya baca, maka saya menahan diri untuk tidak meminjam novel.
            Di kelas sebelas juga, saya mulai menyadari betapa pentingnya teman. Sebelumnya, saya tidak terlalu menghiraukan pertemanan, kecuali dengan teman SMP saya. Waktu kelas 10, saya tidak memiliki teman dekat sama sekali. Saya berpikir, semua teman sama saja, tidak dekat, tidak jauh. Barulah saya menyadari bahwa mereka tidak sama. Mungkin sama pada awalnya, tetapi berbeda pada kelanjutannya. Teman yang memang cocok dengan saya pasti akan tetap menjaga hubungan, baik dengan cara menyapa setiap bertemu, atau pun menyapa lewat media sosial.
Saya tidak lagi mengatakan bahwa ada orang tertentu yang tidak mau berteman dengan saya. Tapi itu masalah kecocokan saja. Ibaratnya seperti mencari sepasang sepatu. Semua orang tentunya mencari sepatu yang cocok dengannya. Baik ukuran, maupun modelnya. Kalau memakai sepatu yang tidak cocok, tentunya tidak akan nyaman. Saya mencari teman yang membuat saya merasa nyaman dan bahkan, terasa seperti saudara kandung. Saya yang tidak memiliki saudara perempuan jadi tahu rasanya punya saudara perempuan. Kami membicarakan hal-hal yang aneh dan menertawakannya tanpa henti, kami bisa bercerita panjang lebar tanpa merasa bosan dan kami juga saling meminjam pakaian serta aksesoris. So this is how it feels to have sisters.
Sahabat-sahabat saya adalah mereka. Mereka adalah yang berjuang bersama saya di sini. Mereka adalah yang mau mendengarkan dan menghargai saya. Mereka adalah yang mau menerima saya sebagai saya dan tetap berada di samping saya dibalik kesalahan-kesalahan yang pernah saya perbuat. Intinya, saya menyayangi sahabat-sahabat saya.
Memasuki kelas 12, jumlah novel yang saya pinjam semakin berkurang. Berganti dengan buku-buku nonfiksi untuk bahan Paper. Selain itu, saya juga bertambah lelah dengan adanya pelajaran tambahan tiga kali seminggu dan praktikum seminggu sekali. Semakin sore saya pulang dari sekolah, semakin lama waktu saya yang terbuang di jalan. Sampai-sampai pada suatu hari saya pulang dari sekolah pukul setengah empat sore dan saya sampai di rumah pukul delapan malam. Benar kata orang-orang… Saya tua di jalan.
Tapi saya cinta Sanur, kok. Saya mencintai dengan tulus semua yang ada di dalamnya.
Hal pertama yang saya sukai dari sekolah ini adalah toilet. Sebagai orang yang cukup sering ke toilet, toilet dalam jumlah banyak merupakan fasilitas yang sangat penting. Selain itu, toilet Sanur juga bagus dan bersih. Mungkin ini terdengar agak remeh, tapi saya jujur sejujur-jujurnya.
Hal kedua yang membuat saya semakin cinta adalah perpustakaan. Saya sangat kagum melihat perpustakaan yang terdiri dari empat lantai tersebut dengan koleksi yang sangat banyak. Maklum, Sanur kan sudah berusia 155 tahun, wajar saja kalau buku perpustakaannya banyak. Saya pernah menemukan buku terbitan tahun 1902, saat oma saya bahkan belum lahir. Hal lain yang saya sukai adalah pegawai perpustakaan yang ramah dan siap membantu kapan saja serta sistem peminjamannya yang sudah canggih dan teratur.
Hal ketiga dan seterusnya adalah semuanya. Teman, guru, pengalaman yang tak ternilai harganya dan masih banyak lagi. Tidak ada sedikit pun penyesalan dalam diri saya karena dua kali tidak diterima beasiswa ke luar negeri. Bersekolah di Sanur adalah hadiah terindah yang pernah saya terima.  
Kalau ditanya apakah sekolah di Sanur berat, saya selalu menjawab biasa saja. Tetapi jika ditanya bagaimana sekolah di Sanur, saya selalu menjawab lelah. Bagaimana tidak lelah? Saya harus bangun pagi setiap harinya dan melalui perjalanan selama 1 jam untuk sampai ke sekolah. Untuk pulang ke rumah juga membutuhkan waktu 1 jam jika tidak macet. Sayangnya, jika sekolah di kota yang berbeda, mau tidak mau macet adalah hal yang biasa. Kalau sudah macet, saya bisa sampai di rumah setelah duduk di mobil selama dua atau tiga jam, seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Tetapi kenyataannya saya bisa melaluinya juga selama dua setengah tahun dan untuk setengah tahun lagi.
Sekarang yang menjadi ganjalan untuk saya adalah ketika melihat alumni-alumni yang sukses. Saya ragu, apakah saya bisa menjadi ‘seseorang’ seperti mereka? Saya merasa bahwa saya tidak boleh menjadi orang yang biasa-biasa saja, harus menjadi seseorang yang luar biasa dan membawa nama baik Santa Ursula. Saya takut saya tidak bisa. Saya ingin suatu hari nanti, saya diundang menjadi pembicara di SMA saya ini dan saya bisa menginspirasi siswi-siswi Sanur yang masih bersekolah. Saya tidak tahu, apakah saya memiliki kemampuan untuk itu? Saya tidak mau tidak menjadi ‘apa-apa’.
Kemudian saya menemukan jawabannya. Saya tidak mungkin tidak menjadi ‘apa-apa’, karena saya adalah seorang Stephanie yang akan menjadi Stephanie yang lebih baik di masa depan. Biar saja kalau saya tidak sesukses alumni lain atau teman-teman saya. Toh definisi ‘sukses’ tiap orang berbeda-beda. Menjadi diri sendiri adalah anugerah dari Tuhan. Seorang Stephanie Dwiputri adalah cukup untuk kembali sebagai seorang alumni angkatan 2015.
Saya tidak akan lupa bahwa kelebihan saya adalah pantang menyerah. Untuk itu, saya akan berusaha untuk membanggakan Santa Ursula.
Saya janji Pak, Bu. Saya akan kembali ke sekolah ini. Saya tidak akan melupakan SMA Santa Ursula Jakarta dan meninggalkannya tanpa kembali. Saya akan ingat apa yang pernah terjadi di sini, apa yang pernah membuat saya bahagia. Semua hal yang pernah terjadi di sini, baik dan buruk, adalah yang membentuk saya menjadi saya yang sekarang ini dan merupakan bagian dari diri saya di masa depan.

Untuk SMA Santa Ursula Jakarta 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar