Judul post ini, mungkin udah
familiar banget, ya. Bahkan banyak orang udah bosen dengernya. Tapi baru bulan
lalu gw menyadari betul makna dari kalimat tersebut.
“Don’t judge a book by its cover”
-> “Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya” -> “Jangan menilai orang
dari penampilannya”
Kisah
ini bermulai dari seorang guru. Di sekolah, guru ini mempunyai cara mengajar
yang agak berbeda. Sebetulnya tidak ada yang salah dari cara mengajarnya.
Tetapi, ada beberapa murid yang tidak sreg dengan cara seperti itu.
Lama-kelamaan, efeknya semakin terlihat. Banyak murid menjadi kurang hormat
pada guru tersebut.
Kemudian,
suatu hari saya iseng mencari blog milik beliau. Saya tidak menyangka, ketika
membaca post di blog itu, saya seperti melihat beliau dari sisi yang berlawanan
180°.
Beliau adalah seorang yang hebat. Beliau adalah seorang yang tangguh. Beliau
bukan ‘berbeda’ tetapi ‘unik’. Apa yang saya lihat sehari-hari dalam diri
beliau sama sekali tidak memperlihatkan apa yang sudah beliau lalui sepanjang
hidupnya. Saya baru tahu bahwa beliau orang yang berpikir kreatif dan
bijaksana. Dan apa yang telah dilaluinya adalah pengalaman berharga yang
sesungguhnya.
Saya
merasa sangat sedih saat itu. Selain merasa bersalah pada beliau, saya juga
sedih karena membayangkan orang hebat seperti beliau kurang dihormati oleh
orang lain. Tidak ada bedanya dengan karunia Tuhan yang diremehkan banyak
orang. Bagaimana kalau seandainya itu terjadi pada kita sendiri? Ketika kita
sudah mengembangkan talenta kita sebaik mungkin, berusaha sekeras yang kita
bisa, merasakan asam garam dunia sesungguhnya yang akhirnya membentuk kita
menjadi pribadi yang luar biasa, tetapi kita diabaikan dan tidak dianggap.
Tidakkah menyakitkan?
Apa
yang saya lakukan selanjutnya, pasti sudah bisa kalian tebak. Mengubah cara
pandang saya terhadapa guru tersebut. Kini saya lebih menghargai beliau dan
tidak hanya beliau, karena semua orang memang pantas dihargai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar