Rabu, 03 Agustus 2016

Manusia

Manusia...
Masih adakah?
Sepertinya tidak

Zaman sekarang, tidak ada yang namanya manusia
Adanya wanita, laki-laki atau gay
Adanya Cina, Bule, Jawa
Adanya Muslim, Yahudi, dan lainnya

Sudah seperti barang di toko
Ada labelnya
Ada komposisinya
Ada kemasannya

Punya harga juga
Dilihat darimana?
Ya semua itu tadi

Oh bikinan Amerika
Mengandung unsur 'alergi' tidak?
Wah kemasannya menarik!
Lalu mulailah dihitung harganya

Kenapa?
Pendapat saya aneh?
Lalu mulai mengaitkannya dengan label saya?
Oh pantas, dia Cina, dia perempuan, dia orang Indonesia
Begitu?

Masih adakah yang melihat manusia sebagai 'manusia'?
Ketika mereka berbuat baik atau berbuat jahat
Coba lihat mereka sebagai manusia!
Mereka baik bukan karena ras
Mereka jahat bukan karena agama
Mereka hina bukan karena jenis kelamin
Ya itu karena apa yang mereka perbuat
Sebagai manusia

Penampilan melulu yang dinilai
Salahkah manusia punya mata?
Kita punya mata untuk melihat
Tapi bukan untuk menilai yang dilihat

Karena bukan cuma soal apa yang terlihat
Isi juga penting

Sayangnya
Men'judge' itu hal biasa
Biarpun sudah dibilang jangan
Tanpa sadar tetap melakukan
Kenapa?
Mungkin karena sudah terbiasa
Iya, terbiasa menilai penampilan
Dan juga dijudge

Coba deh
Singkirkan label
Abaikan kemasan
Kenali isinya

Setelah tahu isinya
Ingat dia sebagai isinya
Tak usah hubungkan dengan komposisi
Komposisi sama, isinya bisa jadi berbeda

Perbedaan itu akan selalu ada
Dan tolong, terimalah perbedaan itu
Hidup bukan melulu berlomba-lomba
Komposisi saya lebih baik
Kemasan saya lebih bagus
Bukan

Tidak ada yang tahu kapan kita expired
Ujung hidup ini siapa yang tahu?
Kalau diibaratkan roller coaster
Tiap orang punya rel yang berbeda
Nggak ada yang relnya sama
Kita lahir sendiri, mati juga sendiri bukan?
Nggak tahu relnya habis di mana
Bagaimana caranya supaya kita menikmati roller coaster tersebut?
Bukankah menikmati setiap titiknya?
Mau naik, turun, berputar
Kalau kita kerjanya membandingkan dengan orang lain terus,
Apa jadinya?
Ketika rel kita posisinya di atas mereka, kita menunduk bangga melihat mereka?
Ketika kita di bawah, kita iri melihat ke atas?
Ketika sudah di ujung, barulah kita sadar bahwa kita tidak hidup sepenuhnya?

Untuk yang tidak bisa menerima perbedaan
Maunya kita sama?
Karena anda yang paling benar?
Coba saja tarik roller coaster kami supaya setara
Bukannya susah sendiri?

Hidup bukan tentang benar dan salah
Seperti postulat Einstein
Tidak ada yang benar-benar benar dan tidak ada yang benar-benar salah
Benar dan salah siapa yang menentukan?
Tidakkah manusia itu sendiri?
Siapa yang bilang harus berhenti saat lampu merah?
Bagaimana kalo pendahulu kita membuat lampu hijau sebagai tanda stop?
Itu hal yang nyata
Apalagi hal yang abstrak
Bagaimana caranya kamu tahu kamu yang paling benar?

Komposisi apa ada benar salahnya?
Kentang itu salah, gandum itu benar!
Memangnya kamu siapa bisa seenaknya mengubah keripik kentang jadi roti coklat?!
Keduanya enak kok!
Enak apa adanya
Makanya
Biarkan kripik kentang dan roti coklat jadi dirinya sendiri

Kalau memang tidak cocok dengan rasanya, kan kamu bisa memilih yang lain
Ketidakcocokan pasti ada
Tinggal bagaimana menanggapinya
Mau meninggalkan, atau mau membiasakan diri dengan yang tidak cocok itu
Meninggalkan, berarti membiarkan dia apa adanya tanpa mengganggu
Atau
Mengenali lebih dalam sampai akhirnya terbiasa



By Stephanie
4 Agustus 5.40 Waktu Jepang





4 komentar: