Pak Agus, guru kimia gw, ngasih tugas buat bikin refleksi tentang sekolah di Sanur. Bisa berupa cerita singkat, puisi, atau karikatur dan minimal empat halaman. Dengan gambar standar dan kosa kata yang terbatas, gw memilih bikin cerita singkat. Gw berusaha nulis sebagus mungkin, tapi menjelang malam, tulisan gw jadi rada-rada aneh. Ya dibaca aja, ya. Hahaha...
Empat
Halaman dari Saya
Untuk
memulai cerita ini, saya akan menceritakan pengalaman saya saat mengikuti tes
penerimaan siswa baru.
Hari tes pelajaran diadakan tanggal
6 Oktober 2011. Pada tanggal tersebut, saya seharusnya sedang berada di
Singapura, mengikuti Program Sisterschool dari SMP saya. Tetapi akhirnya saya
pulang lebih dulu seorang diri demi mengikuti tes.
Saya
sampai di rumah saya jam 12 malam. Saya tidak sempat belajar sama sekali untuk
tes tersebut dan jujur saja, saya tidak terlalu bisa mengerjakannya. Saya hanya
bisa berdoa.
Sore hari setelah tes itu, saya
bertemu dengan mantan kakak kelas saya di SMP yang saat itu bersekolah di Sanur.
Saya masih ingat jelas kata-katanya, “Kalian nggak menyesal masuk sini?”.
Sangat mengagetkan saya dan teman-teman saya yang lainnya, karena kami baru
mendaftar dan mengikuti tes pelajaran saja, bukan diterima. Kemudian kakak itu
menjelaskan seberapa beratnya sekolah di Sanur. Saya tidak terlalu memikirkan
kata-kata kakak itu karena belum tentu saya diterima. Jadi saya tidak
menghiraukannya.
Kemudian, saya mengikuti tes
wawancara. Salah satu pertanyaan yang masih saya ingat adalah, “Apa kelebihan
kamu?” dan “Jelaskan contohnya!”
Saya menjawab, “Saya adalah orang
yang pantang menyerah. Misalnya, ketika guru matematika saya menjelaskan materi
baru di kelas, beliau akan memberikan soal-soal latihan. Biasanya, teman-teman
saya akan menyalin soal lalu menunggu sampai soal tersebut dibahas. Tapi saya
akan mencoba mengerjakannya terlebih dahulu. Meskipun saya salah
mengerjakannya, setidaknya ketika dibahas nanti, saya akan tahu di mana letak
kesalahan saya dan saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”
Saat
itu saya tidak tahu bahwa saya diwawancara oleh Ibu Surti, yang ternyata adalah
guru matematika. YEAH! Saya diwawancara oleh guru yang tepat! Dan akhirnya,
saya diterima di SMA Santa Ursula Jakarta. J
Menjadi murid SMA tidak membuat saya
deg-degan atau takut. Saya malah bersemangat untuk pergi ke sekolah. Tetapi,
sesampainya di sekolah dan dibentak-bentak tanpa arti oleh kakak-kakak OSIS
membuat saya takut untuk pergi ke sekolah esok harinya. Saya sampai tidak bisa
tidur karena takut dimarahi.
Untungnya,
MOS itu segera berakhir dan digantikan oleh COMOS. Ada satu pengalaman yang tak
terlupakan oleh saya. Saat COMOS dan diharuskan memasak makanan sendiri, mie
yang direbus oleh kelompok saya tumpah ke tanah. Satu-satunya jalan adalah
dengan membilas mie itu dengan air. Itulah pengalaman pertama dan terakhir saya
makan mie rasa rumput. Hahaha…
Setelah kira-kira satu minggu masuk
sekolah, saya mulai merasakan perbedaan yang sangat jauh dengan sekolah saya
dulu. Pertama, tidak ada siswa, hanya ada siswi. Awalnya saya merasa agak
‘sedih’ karena suasananya jadi berbeda. Biasanya para siswa akan membuat kegaduhan
dan berulah sehingga menghibur murid lain walaupun kadang agak berlebihan.
Kedua, peraturan jauh lebih ketat. Biarpun salah satu alasan saya mendaftar di
sekolah ini adalah peraturannya, saya tidak menyangka kalau panjang kuku diatur
dengan satuan ukuran. Sebetulnya hal itu tidak menjadi masalah untuk saya, sih,
saya cuma merasa agak aneh. Tapi sekarang, saya menyukai sekolah ini karena
alasan yang kurang lebih sama.
Hari-hari
saya menjadi murid kelas 10 mulai dipenuhi ulangan dan tugas. Kemudian banyak
teman-teman saya yang mulai mengeluh dan mengatakan bahwa sekolah di Sanur itu
berat. Bukan bermaksud sombong, tapi menurut saya sama saja. Karena SMA lain
juga memiliki materi yang kurang lebih sama dan lagi, saya tidak pernah
merasakan sekolah di SMA lain, sehingga saya tidak bisa membandingkan.
Cara belajar saya dalam menghadapi
ulangan tidak banyak berubah dari SMP. Saya mulai belajar sehari sebelum
ulangan dan pada pagi hari dalam perjalanan ke sekolah. Tetapi, ada saat-saat
di mana ada ulangan biologi dengan materi yang sangat banyak. Saya adalah orang
yang tidak bisa begadang. Saya selalu tidur jam 9 malam. Akhirnya untuk
mengantisipasi hal tersebut, saya bangun lebih pagi. Biasanya saya bangun jam
empat pagi. Akan tetapi, jika saya belum selesai belajar, saya akan menyetel
alarm saya jam tiga atau bahkan jam dua pagi.
Karena di Sanur siswi diwajibkan
untuk mengambil satu Humaniora dan satu Bahasa Asing, saya memilih Fashion
Design dan bahasa Mandarin.
Saya
yang sejak dulu suka menggambar design baju, sangat senang belajar Fashion
Design. Ya biarpun hasil karya saya tidak terlalu bagus, yang penting saya suka
dan menikmati prosesnya.
Belajar
bahasa Mandarin adalah suatu kesulitan untuk saya. Saya tidak bisa menghafal
kanji dan nada pada tiap kata sehingga nilai Mandarin saya saat kelas 10
semester 1 pas-pasan. Pada pertengahan semester 2, saya menyadari bahwa
kemampuan saya adalah hal-hal yang berhubungan dengan angka, seperti
matematika. Lalu saya mencoba menciptakan gaya belajar yang unik untuk saya
sendiri. Saya memang hafal dengan nomor urut setiap siswi di kelas, saya
menggabungkan memori itu dengan nada pada kata-kata bahasa mandarin. Jika kata
itu memiliki nada 2, saya akan menghubungkannya dengan siswi nomor urut 2 di
kelas saya. Jika kata itu memiliki nada 1 dan 4, saya akan menghubungkannya
dengan siswi nomor urut 14 di kelas saya. Cara ini sangat efektif dalam
menciptakan ingatan jangka pendek untuk mengerjakan ulangan Mandarin.
Tahun berikutnya, di kelas 11 IPA,
saya mulai merasakan sedikit perubahan, yaitu saya menjadi lebih sibuk.
Buktinya? Saya meminjam novel dengan jumlah yang lebih sedikit. Karena saya
tahu saya tidak akan belajar atau pun mengerjakan tugas jika ada sebuah novel
menarik yang belum saya baca, maka saya menahan diri untuk tidak meminjam
novel.
Di kelas sebelas juga, saya mulai
menyadari betapa pentingnya teman. Sebelumnya, saya tidak terlalu menghiraukan
pertemanan, kecuali dengan teman SMP saya. Waktu kelas 10, saya tidak memiliki
teman dekat sama sekali. Saya berpikir, semua teman sama saja, tidak dekat,
tidak jauh. Barulah saya menyadari bahwa mereka tidak sama. Mungkin sama pada
awalnya, tetapi berbeda pada kelanjutannya. Teman yang memang cocok dengan saya
pasti akan tetap menjaga hubungan, baik dengan cara menyapa setiap bertemu,
atau pun menyapa lewat media sosial.
Saya
tidak lagi mengatakan bahwa ada orang tertentu yang tidak mau berteman dengan
saya. Tapi itu masalah kecocokan saja. Ibaratnya seperti mencari sepasang
sepatu. Semua orang tentunya mencari sepatu yang cocok dengannya. Baik ukuran,
maupun modelnya. Kalau memakai sepatu yang tidak cocok, tentunya tidak akan
nyaman. Saya mencari teman yang membuat saya merasa nyaman dan bahkan, terasa seperti
saudara kandung. Saya yang tidak memiliki saudara perempuan jadi tahu rasanya
punya saudara perempuan. Kami membicarakan hal-hal yang aneh dan
menertawakannya tanpa henti, kami bisa bercerita panjang lebar tanpa merasa
bosan dan kami juga saling meminjam pakaian serta aksesoris. So this is how it feels to have sisters.
Sahabat-sahabat
saya adalah mereka. Mereka adalah yang berjuang bersama saya di sini. Mereka
adalah yang mau mendengarkan dan menghargai saya. Mereka adalah yang mau
menerima saya sebagai saya dan tetap berada di samping saya dibalik
kesalahan-kesalahan yang pernah saya perbuat. Intinya, saya menyayangi sahabat-sahabat
saya.
Memasuki
kelas 12, jumlah novel yang saya pinjam semakin berkurang. Berganti dengan
buku-buku nonfiksi untuk bahan Paper.
Selain itu, saya juga bertambah lelah dengan adanya pelajaran tambahan tiga
kali seminggu dan praktikum seminggu sekali. Semakin sore saya pulang dari
sekolah, semakin lama waktu saya yang terbuang di jalan. Sampai-sampai pada
suatu hari saya pulang dari sekolah pukul setengah empat sore dan saya sampai
di rumah pukul delapan malam. Benar kata orang-orang… Saya tua di jalan.
Tapi
saya cinta Sanur, kok. Saya mencintai dengan tulus semua yang ada di dalamnya.
Hal
pertama yang saya sukai dari sekolah ini adalah toilet. Sebagai orang yang
cukup sering ke toilet, toilet dalam jumlah banyak merupakan fasilitas yang
sangat penting. Selain itu, toilet Sanur juga bagus dan bersih. Mungkin ini
terdengar agak remeh, tapi saya jujur sejujur-jujurnya.
Hal
kedua yang membuat saya semakin cinta adalah perpustakaan. Saya sangat kagum
melihat perpustakaan yang terdiri dari empat lantai tersebut dengan koleksi
yang sangat banyak. Maklum, Sanur kan sudah berusia 155 tahun, wajar saja kalau
buku perpustakaannya banyak. Saya pernah menemukan buku terbitan tahun 1902,
saat oma saya bahkan belum lahir. Hal lain yang saya sukai adalah pegawai
perpustakaan yang ramah dan siap membantu kapan saja serta sistem peminjamannya
yang sudah canggih dan teratur.
Hal
ketiga dan seterusnya adalah semuanya. Teman, guru, pengalaman yang tak
ternilai harganya dan masih banyak lagi. Tidak ada sedikit pun penyesalan dalam
diri saya karena dua kali tidak diterima beasiswa ke luar negeri. Bersekolah di
Sanur adalah hadiah terindah yang pernah saya terima.
Kalau
ditanya apakah sekolah di Sanur berat, saya selalu menjawab biasa saja. Tetapi
jika ditanya bagaimana sekolah di Sanur, saya selalu menjawab lelah. Bagaimana
tidak lelah? Saya harus bangun pagi setiap harinya dan melalui perjalanan
selama 1 jam untuk sampai ke sekolah. Untuk pulang ke rumah juga membutuhkan
waktu 1 jam jika tidak macet. Sayangnya, jika sekolah di kota yang berbeda, mau
tidak mau macet adalah hal yang biasa. Kalau sudah macet, saya bisa sampai di
rumah setelah duduk di mobil selama dua atau tiga jam, seperti yang saya
ceritakan sebelumnya. Tetapi kenyataannya saya bisa melaluinya juga selama dua
setengah tahun dan untuk setengah tahun lagi.
Sekarang
yang menjadi ganjalan untuk saya adalah ketika melihat alumni-alumni yang
sukses. Saya ragu, apakah saya bisa menjadi ‘seseorang’ seperti mereka? Saya
merasa bahwa saya tidak boleh menjadi orang yang biasa-biasa saja, harus
menjadi seseorang yang luar biasa dan membawa nama baik Santa Ursula. Saya
takut saya tidak bisa. Saya ingin suatu hari nanti, saya diundang menjadi
pembicara di SMA saya ini dan saya bisa menginspirasi siswi-siswi Sanur yang masih
bersekolah. Saya tidak tahu, apakah saya memiliki kemampuan untuk itu? Saya
tidak mau tidak menjadi ‘apa-apa’.
Kemudian
saya menemukan jawabannya. Saya tidak mungkin tidak menjadi ‘apa-apa’, karena
saya adalah seorang Stephanie yang akan menjadi Stephanie yang lebih baik di
masa depan. Biar saja kalau saya tidak sesukses alumni lain atau teman-teman
saya. Toh definisi ‘sukses’ tiap orang berbeda-beda. Menjadi diri sendiri
adalah anugerah dari Tuhan. Seorang Stephanie Dwiputri adalah cukup untuk kembali
sebagai seorang alumni angkatan 2015.
Saya
tidak akan lupa bahwa kelebihan saya adalah pantang menyerah. Untuk itu, saya
akan berusaha untuk membanggakan Santa Ursula.
Saya
janji Pak, Bu. Saya akan kembali ke sekolah ini. Saya tidak akan melupakan SMA
Santa Ursula Jakarta dan meninggalkannya tanpa kembali. Saya akan ingat apa
yang pernah terjadi di sini, apa yang pernah membuat saya bahagia. Semua hal
yang pernah terjadi di sini, baik dan buruk, adalah yang membentuk saya menjadi
saya yang sekarang ini dan merupakan bagian dari diri saya di masa depan.
Untuk
SMA Santa Ursula Jakarta 2015


