Selasa, 14 Juli 2015

Pencarian 'Rumah' baru (Mitsui-Bussan Scholarship)

Yang dimaksud dengan 'Rumah' adalah sekolah. Kenapa sekolah? Soalnya sekolah adalah rumah kedua. Dan berhubung saya lulus SMA, rumah kedua saya nanti adalah Universitas.

Pencarian univ ini dimulai agak terlambat karena saya belum menentukan jurusan kuliah. Awalnya, semua hal terlihat oke di mata saya. Lalu lama kelamaan, semuanya menjadi tidak oke. Intinya, tetap bingung. Sampai akhirnya meyakinkan diri sendiri untuk mengambil matematika.

Lalu pencarian pertama dimulai dari NTU. Karena pikiran saya belum terbuka, keinginan untuk kuliah di luar negeri dan yang terpikirkan hanyalah Singapur. Universitas yang top ada 3, NUS, NTU dan SMU. 
NUS butuh rata-rata IELTS minimal 6,5 dan 6,5 untuk setiap bidang. Rata-rata IELTS saya 7 tapi ada yang 6 juga. Makanya saya memilih untuk tidak mendaftar NUS.
Saya kurang berminat di bidang management, makanya saya tidak tertarik dengan SMU. 
Akhirnya saya mendaftar NTU. Tapi, saya tidak ikut les A level sama sekali. Sebenarnya saya malas, dan tidak mau membuang uang untuk les. Padahal itu kan investasi ya, hahaha. Kemudian saya memfotokopi materi A level dari Telung a.k.a. Stella yang les di De Angelique beserta satu buku tebal yang isinya soal dan jawaban. Tapi tetap saja, latihan soal dan bukunya tidak saya baca. Cuma dibawa-bawa saja. Hahaha sampai akhirnya saya stress parah menjelang hari tes. Karena tiba-tiba saya berpikir, "Ngapain ya gw daftar di NTU?" Ya karena sudah terlanjur bayar, dan nggak enak sama orang tua, saya tetap ikut tes tanpa belajar. 
FYI, kalkulator scientific aja saya minjem. Dan lucunya lagi, saya nggak tau cara pakai kalkulator scientific. Jadi ya pas ngerjain soal mat, cuma bisa ngerjain 1% nya. Sisanya kalo nggak kosong ya salah. Inggrisnya lumayan sih, gak separah mat. Fisikanya juga lebih oke, karena multiple choice jadi bisa nembak. 
Tapi saya tahu, saya gak akan diterima. Cuma beberapa orang termasuk orang tua saya menganggap saya bisa dan masih ada kemungkinan diterima. Jujur aja, saya nggak suka. Apalagi setelah ternyata gak diterima, saya dipaksa banding. Percuma. Hati saya nggak di situ. Dan memang nggak diterima juga. Ya iyalah, jawaban mat kosong begitu masa bisa diterima?

Setelah pengumuman NTU, saya langsung kontak Kak Devina yang saya kenal lewat OSN Mat 2013. Kak Devina ini mendapat beasiswa ke Jepang dari Monbusho. Kemudian saya konsultasi dengan dia dan muncul sebersit harapan untuk kuliah di luar negeri. Selain Monbusho, saya juga diberi tahu soal Mitsui-Bussan Scholarship yang belum banyak diketahui.
Pendaftaran Mitsui-Bussan Scholarship dibuka lebih awal dibandingkan dengan Monbusho, yaitu sekitar bulan Maret. Saya pun mendaftar dan mengirim dokumen ke UNSADA. Kemudian pada tanggal 23 April, saya diberi tahu melalui e-mail bahwa saya lolos seleksi dokumen. Tanggal 10 Mei saya mengikuti tes tertulis (Mat dan bahasa Inggris). Kali ini saya mempersiapkannya dengan baik. Saya belajar dari catatan SMA saya dan juga rumus-rumus turunan dan integral dari fotokopian A level. Alhasil, dari 14 soal yg beranak, totalnya jadi 20, saya mengisi 17. Meskipun 2 di antaranya saya ngasal. Bahasa Inggrisnya cukup sulit, tapi ya itu, bisa nembak.
Sebetulnya saya nggak terlalu yakin lolos karena pernah baca di internet, yang lulus itu yang bisa ngerjain semua soal. Jadi saya nggak terlalu banyak berharap. Eh, tiba-tiba pada tanggal 15 Mei, saat saya sedang jalan-jalan di CP bersama teman-teman saya, tepatnya di Taimei, saya lihat ada missed call dari nomor tak dikenal. Berdasarkan blog nya Kak Tsani -> https://wrappedindreams.wordpress.com/ diumuminnya memang ditelpon. Jadi saya telpon balik dan ternyata itu adalah nomor Pak Katsunishi. Saya langsung mengenali suara dan aksennya karena beliau ada saat tes tertulis. So... YEAY LOLOS KE TAHAP BERIKUTNYA! Begini nih muka saya setelah ditelpon Pak Katsunishi :

Sori alay

Oke lanjut, saya dipanggil untuk ikut psikotes dan tes kesehatan tanggal 21 dan 22 Mei. Nah di sini tinggal 18 orang. Semua berasal dari tempat yang beda-beda. Ada yang dari Makassar, Purwokerto, Bandung, Palembang, Pontianak, Jogja, Medan, Banyuwangi, Jakarta, Bekasi. Nah waktu psikotes udah mulai kenalan dikit-dikit. Ceweknya cuma 4 btw. Dan saya kenalan sama yang cewek dulu. Ada yang sudah kuliah di Unpad juga ternyata. Lalu, karena saat tes saya tidak sengaja menginjak kotak pensil seseorang, ya sudah saya minta maaf sekalian kenalan waktu makan siang. Namanya Joevandi. Terus berlanjut deh kenalan sama yang lain. SKSD gitu ceritanya, tapi nyambung juga hahaha. Kemudian ada tahap wawancara dengan psikolog. Saya dapat jadwal jam 3 padahal yang lain mulai jam 1 atau jam 2. :') Sambil menunggu, saya ngobrol dengan peserta lain. Asik juga sih, hahaha saya sudah merasa nyaman di kelompok itu. 

Besoknya adalah tes kesehatan. Ini juga menarik. Ada saja kejadian lucu yang terjadi. Sambil menunggu sesi-sesi tertentu, saya meminta kontak peserta lain. Saya mulai menyadari bahwa relasi sangat penting. Makanya saya meminta kontak mereka.

Oh iya, kita juga diminta mengirimkan beberapa dokumen sebelum tanggal 15 Juni. Nah jadinya setiap ada yang nanya, "Gimana Step Jepangnya?" Saya cuma bisa bilang, "Pokoknya pengumumannya setelah tanggal 15 Juni." Masa-masa penantian itu memang mendebarkan. Hp saya yang biasanya di-silent jadi nggak. Oh iya, saya sempat les selama 8 hari di De Angelique. Persiapan untuk tes Monbusho ceritanya karena kalau dilihat-lihat, soalnya lebih susah dari tes Mitsui dan saat tes Mitsui, 3 soal yang tidak bisa saya kerjakan itu karena saya sama sekali tidak mengerti soalnya. Jadi saya pikir saya harus les supaya terbiasa.

Tanggal 19 Juni, saya menanti telpon dari Pak Katsunishi. Sebenarnya ini hanya perkiraan saya saja. Karena bisa antara tanggal 19-23 Juni. Sepulang kerja, saya mengecek e-mail dan mendapati kalau saya lolos untuk tes wawancara! Saya sangat senang karena dua hal :
1. Saya tinggal selangkah lagi menuju beasiswa ini
2. Saya terbukti sehat!

Saya dipanggil untuk wawancara tanggal 30 Juni. Saya betul-betul mempersiapkannya dengan browsing pertanyaan-pertanyaan umum yang sering keluar dan mencari jawabannya. Dibantu dengan les bahasa Inggris bersama Ibu Maryana. Kenapa? Karena saya pernah trauma dengan wawancara. Someday I'll write about this. Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang saya persiapkan :
  Please introduce yourself!
 Tell me about your family!
      Why do you want to continue your study in Japan?
      Why do you choose Math? What are the advantages for your career and your future?
    What are the advantages for your country?
  What university do you plan to study in Japan?
   What do you want to do after your graduate?
      What do you think about Japan?
  Are you ready to live and study in Japan?
 How will you adapt there?
 After you come back to Indonesia, how will you apply your knowledge?
   What are your strength points?
   What are your weaknesses?
   Have you been accepted in other university or not? If yes, where is it?
   Are you willing to resign from that university?
   Can you speak Japanese?
  What are your motivations for this scholarship?
   Are you applying for another scholarship?
 What are the problems in Indonesia that needs to be solved?
  Your biggest achievement? What makes you proud of yourself?
   Me 10 years from now? 
    Why do you deserve this scholarship?
   What will you do to other people after you finish the scholarship program?
   Non-academic activity at school
   Why don’t you apply for American Scholarship?

 Lalu ini daftar pertanyaan yang saya ingat ditanyakan pada saat wawancara selama 20 menit :
Introduce yourself (5 min)
Why do you want to go to Japan?
Why do you apply for this scholarship?
What do you think about the written test?
Have you ever gone abroad, where, what do you learn from it?
What's your plan after you graduate?
Why do you choose math? What is your alternative major?
What university do you plan to go in Japan? Why?
Can you speak Japanese?
What is your weakness?
How do you spend your spare time?
How will you spend your spare time there?
What Japanese culture do you like?
Where will you continue your study if you are not accepted in this scholarship program?
How is your involvement in community?
What do you do to get accepted by a community?
When did you know about this scholarship program?
Do you like sports? 

I think these are personal questions (Different for each person) :
How often do you meet your friends?
You only have a few friends. Why? How many?
Can you still study in a bad mood?
You are only 17. Have you ever been accelerated at school?

I have done my best but I'm not really sure with it. Hari-hari setelahnya benar-benar mendebarkan. HP yang biasanya di-silent, jadi disetel cukup kencang. Kemudian pada tanggal 3 Juli, saya pikir pengumumannya akan dilakukan siang hari, seperti biasa. Saya bete sepanjang hari karena saya tidak ditelpon-telpon. Pada sore harinya, sepulang kerja, saat adzan maghrib dan buka puasa dimulai, saya iseng melihat hp saya. Dan ada missed call dari Pak Katsunishi. Saya telpon beliau, dan SAYA DITERIMA!!! YEAHHHH!!! XD

Saya benar-benar merasa lega saat itu karena pencarian 'rumah' baru telah selesai. Memang sebenarnya saya sudah diterima di Universitas Parahyangan, Bandung dan sudah bayar. Tapi impian saya tetap ke luar negeri. Puji Tuhan, impian saya ini akan terwujud pada bulan September nanti. 

Saya ingin berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segalanya yang diberikan pada saya. Kepada Kak Devina yang memberi informasi Mitsui-Bussan Scholarship pada saya. Kepada kedua orang tua saya yang memfasilitasi saya. Kepada kakak saya yang memasang wifi di rumah dan juga meminjamkan dan mengisi Bolt untuk saya. Kepada semua teman-teman saya yang mendoakan dan mendukung saya. Sangat banyak dan sulit disebutkan satu persatu. Kepada para blogger yang menuliskan pengalaman masing-masing dan menjadi referensi untuk saya. 

Selain itu, saya juga minta doanya agar saya bisa menjalani sekolah bahasa selama 1,5 tahun dengan nilai yang baik dan lulus JLPT N1 sehingga saya bisa melanjutkan kuliah di Jepang. :D

Kamis, 18 Juni 2015

Till we meet again

If somebody asks me about my love life, I will say, "Just imagine a straight line that doesn't have an end. It has no ups or downs or drama at all. Well, at least until now."

Yeah, my love life has never been like romance novels or whatever I love to read and watch. It is really believable if you ever meet me in real life.
1. I won't say that I'm fat or overweight, because it is an opinion. The fact is I am 63 kg (the last time I weigh myself) and my height is around 153 cm. So, you can decide.
2. I don't pay much attention to my appearance. My hair is messy, my everyday clothes are t-shirt and jeans (or shorts), acne, no make up, etc.
3. I can live a day or a week maybe, without my phone. Due to the lack of messages or calls I received, which most of it are from my female friends and my parents.
4. I don't even use any internet package for my smartphone. Yes, I am Stichi, stingy chinese (no, it is not racism).

Okay, stop talking about me. Let's go back to my love life.
My first crush is a boy in my kindergarten. But please don't take it seriously because it's just because we were best friends. Nah, he is not my first crush.
Actually, I don't really remember who is my first crush. Haha

Let's just start with JHS love life time.
I liked A, then he liked another girl and asked her to be his girlfriend and she said yes. I felt sad for a week, lol, before I liked B. B liked another girl, I thought that I had no chance, there, I let go. Another sad week, but there's him. Whom I call '83' or 'jayus' when I talk about him with my friends. These posts are containing things about him :
1
2
3
4
5
6
7
8
9

If you read all of it, you will know that I had tried to forget him and move on. But it failed. Now, I would like to continue the story.

You might say I am a coward and I think that's true. After I had an android smartphone that have many social media apps, I didn't have the courage to add him even though I knew his ID. When I had some free time, I searched his ID and saw his profile picture. The end. That's it. Pathetic.

I was afraid that he would not recognize me and left my messages unread. That would really hurt me.

A few months ago, I promised to my friend that I would add his ID if I lost some weight. She asked, "When will that happen?" I said, "On May." It's June and I'm still 63 kg so I shouldn't add him.

But I did. At first, it is because my parents wanted to run a restaurant yet they found some difficulties. I remembered that my friend told me that his mother had her own restaurant. Then I tried to pluck up my courage by saying to myself things like : "He is not your future husband." "You will find another guy that is much more perfect than him." "You are just friends and everything will be alright if he doesn't reply. You are going to university and there is where you will meet your soulmate." "YOLO.", and those worked well.

I added his Line, I chatted him, HE REPLIED, and so on.

Btw, it ended up I knew that his mother doesn't run any restaurant. ._.

The next chat, we talked so much and I realized that he was becoming more perfect than before. Everything I want for my future husband is in him. Patient, friendly, independent, would do the chores, humble, and many more. At first, I was happy that I fell for the right guy, not a useless or bad boy. On the next thought, I was depressed. I like the right guy, but I seemed to be the wrong person for him. He is right, yet I am a fault.

Another thing in my mind, I am not sure if I still like him. I used to be so happy and smile every time we chatted years ago, now I am not. Okay, I smiled a little. However, my heart doesn't beat as fast as it did in the past.

I think, maybe this feeling is like when I see a really beautiful dress that I can't try in the fitting room. It is dazzling and fascinating. The only problem is, I am not sure that it will fit me perfectly and still look beautiful when I wear it. It is the dress in my dreams though I doubted it was made for me. Should I change myself the way I think will fit the dress or should I search for another dress?

I chose the first.


To you, 
Till we meet again, I hope to be one step closer to you.

August 18th 2017
I have reread this post. And honestly, I am a bit confused with Stephanie who wrote those sentences. Why did I feel so inferior? Why did I put myself under other person? Or why did I put him above me as if he is a king? I am awesome too. Not yet a great person, but I know I can be one. Though I don't really know the good things in me, I believe that I am attractive enough (at least the mosquitos bite me many times. So I think I am attractive to mosquitos, right?)
I think I don't like him anymore. I even forget the reason why I liked him. Well I remember that he was kind and seemed to be perfect (just because he did the chores...) But, hey, after living in Japan for almost two years, everyone do the chores. So it is a very common thing. When I read this post on May or June, I thought that this post is kinda disgusting. LOL. After all, we don't talk anymore. So yeah, why should I care that much about a person who doesn't even think about me? Then, I decided to find another guy.  You are right, Telz. Thanks for the comment.

Jumat, 24 April 2015

Sonder


Selasa, 21 April 2015

Tiba-tiba

Tiba-tiba aku sudah SMA
Pergi subuh
Pulang sore

Tiba-tiba aku sudah kelas sebelas ipa
Tidak ada lagi ekonomi, sosiologi dan kawan-kawannya
Yang ada hanya MaFiA Biologi

Tiba-tiba aku sudah kelas dua belas
Tahun terakhir di SMA
Waktunya mencari 'rumah' baru

Tiba-tiba pelajaran tambahan dan praktikum dimulai
Kami pulang semakin sore
Ditambah macet yang memperparah

Tiba-tiba kami seangkatan pergi ret-ret
Untuk merefleksikan dan menemukan jati diri
Katanya

Tiba-tiba sudah bulan Desember
Classmeeting terakhir kami
Yang sebelumnya tak kuanggap menarik

Tiba-tiba libur Natal dan Tahun Baru selesai
Malas-malasan kami ke sekolah
Tapi jadi bersemangat karena teman

Tiba-tiba sudah H-99
Tinggal dua digit lagi
Rasanya baru kemarin aku menginjakkan kaki di sekolah ini
Baru kemarin aku menjadi murid SMA

Tiba-tiba pelajaran tambahan dan praktikum selesai
Berkurang sedikit beban kami
Namun tidak terasa

Tiba-tiba Ujian Akhir Semester berlangsung
Pertama kalinya kami pegang buku Olah Raga
Dan kami mulai prihatin dengan nilai kami

Tiba-tiba Ujian Sekolah dilaksanakan
Terakhir kalinya kami pegang buku yang tidak di- UN - kan
Tetapi kata guru-guru, nilai kami masih kurang memuaskan


Tiba-tiba kami pergi ke Dufan
Bersenang-senang melepas penat
Bersama merajut kenangan

Tiba-tiba Try Out dimulai
Kami belajar sekenanya
Yang penting usaha

Tiba-tiba semua jadi serba terakhir
Hari Kamis terakhir
Hari terakhir belajar di kelas
Foto kelas terakhir dengan seragam putih hijau kotak-kotak
Bahkan mungkin terakhir kalinya kami belajar pelajaran tertentu

Tiba-tiba sudah Ujian Nasional
Kami belajar kok
Kami berusaha

Tiba-tiba Ujian Nasional selesai
Kami berpencar mencari hiburan
Ada juga yang langsung melanjutkan kuliah

Tiba-tiba kami menganggur
Dari sibuk luar biasa
Sampai tak ada kerjaan sama sekali

Tiba-tiba kami sudah tak boleh lagi meminjam buku di perpus
Sedih rasanya
Karena sudah tak dianggap

Tiba-tiba kami akan lulus SMA
Menuju universitas yang berbeda-beda
Namun berjanji untuk tetap bersahabat

Tiba-tiba aku harus berpisah
Dengan kamu

Untungnya aku tidak mencintai kamu tiba-tiba

To : SMA Santa Ursula Jakarta dan Angkatan 2015

I have loved you since the very first day

Sabtu, 28 Februari 2015

Jogja 2014

Karena tujuan dari wisata ke Cirebon, Jogja dan Semarang adalah kuliner, foto-fotonya gak terlalu banyak. But, I won't write about the trip, so just enjoy the photos.











Jumat, 27 Februari 2015

Ulangan Terpadu

Hari Jumat ini, kelas 12 sudah menjalani tiga hari Ulangan Terpadu Semester 2. Mari kita bahas satu persatu...

Hari Pertama
  •  Bahasa Indonesia : lumayan susah
  •  Religiositas : (y)
Hari Kedua
  • PKn : (y)
  • Biologi : HAHA, gak tau 9 dari 40. Udah ada yang salah gara-gara lupa ngafalin kalo Amfibi ruang jantungnya 3
Hari Ketiga
  • Olahraga : Essai nomor 5 nampaknya jawaban gw salah. Harusnya zat tenaga, pembangun sama pengatur, gw malah jawab zat-zat kimia dan fungsinya.
  • Matematika : Lebih berkualitas dibandingkan soal kelas 10 dan 11 dulu, gw gak sempet meriksa. Anyway, ada soal integral yang gw gak bisa ngerjainnya, untungnya, soalnya PG. Maka gw menurunkan option jawaban yang ada dan ketemu di option A. Tapi kata Venna jawabannya B. Lalu gw galau dan berpikir sepanjang perjalanan pulang. Ketika nanya ke Cici (Isselin), dia jawab apa. Guess what? JAWABAN KITA SAMAAAAA!!!! KYAAAA!!! And... you know what.... dia milih jawaban A karena dia pake cara yang sama kayak gw! IT'S SISNECTION, BRO!!! Memang saudara seotak.


 Pendapat kawan-kawan seperjuangan :



Masih ada 4 hari lagi... MANGADH GUYS!


Semakin ke sini, gw semakin gak mau lulus. Gw mau tetep di Sanur karena gw bahagia di sini...