Rabu, 09 Mei 2018

Liburan

Yak, setelah aktif ngepost di bulan Februari, gw istirahat 2 bulan. Bukan karena gw lelah atau gw males... Tapi memang gw sibuk mulai dari akhir Februari sampe sekarang wkwkwk. Ya gak sesibuk Pak Jokowi sih, tapi untuk ukuran gw yang biasanya kalo liburan lumutan di rumah, bangun-mandi (kalo inget)-sarapan-main komputer-makan siang-main komputer-mandi (kalo inget)-makan malem-main komputer-tidur. Main komputer bisa diganti baca komik atau nonton DVD bajakan atau main ke rumah Elke. Tetapi, sejak pergi ke Jepang, liburan gw berubah. Entah kenapa setiap liburan agak panjang yang gw lalui itu punya ciri khas sendiri.
Mulai dari libur musim dingin gw yang pertama tahun 2015. Keluarga gw dateng ke Jepang sehingga liburan tersebut jadi liburan yang sibuk nganterin keluarga.
Liburan musim semi 2016, gw sibuk bantuin orang pindahan, mungut barang, dan nganterin senpai-senpai pindahan.
Liburan musim panasnya gw sibuk belajar buat ujian Waseda #asik. Gw hampir tiap hari ke perpus sekolah yang buka biarpun sekolahnya libur. Di sana gw ngerjain soal-soal tahun sebelumnya Waseda yang susah :' hiks, ngerjainnya kalo gak sambil liat buku cetak tuh gak bisa. Pernah juga gw saking stressnya cuma ke perpus, naro tas berisi buku-buku dan soal-soal dan kertas bekas buat coretan jam 9 pagi, dan gw tinggalin gitu aja sampe jam 9 malem dan perpusnya udah mau tutup wkwkwk. Jadi kangen masa-masa itu... Liburan terproduktif yang pernah ada, karena biasanya gw gak pernah belajar pas liburan.
Oke lanjut lagi, liburan musim dingin 2016, gw banyak main sama Aaron dan sibuk nulis kartu tahun baru. Aaron udah kayak iblis emang. Gw yang harusnya belajar buat tes Keio malah diajak main coba. Ckckck.
Liburan musim semi 2017... Ini adalah liburan gw yang ehm bisa dibilang cukup sedih, karena gw kesepian bangetttt... Gw pindah ke apartemen baru dua hari setelah gw kelulusan sekolah. Tapi masa-masa itu semua orang masih pada tinggal di asrama... Dan gw yang gak terbiasa tinggal sendiri, nangis di kamar gara-gara saking sepinya. Masalahnya internet hp udah lemot dan belom ada wifi. Kebayang gak betapa terisolasinya gw? Tapi ya untungnya sempet piknik atau jalan-jalan sama anak Indo Jasso beberapa kali pas itu. Setiap kali balik ke rumah setelah pergi tuh langsung pengen nangis lagi. Gak betah deh pokoknya.
Next, liburan musim panas 2017. Pertama kalinya gw balik ke Indo setelah hampir 2 tahun. Ini liburan ter-nggak produktif deh pokoknya. Gw di rumah kerjanya bangun siang, sarapan, tidur siang, makan siang, makan malem. Mandinya di antara koma itu lah. Udah kayak hewan ternak kan, kerjanya makan tidur doang. Abisnya temen-temen udah pada kuliah lagi. Bokap kerja, nyokap nganter adek sekolah trus main saham. Sempet ke mall beberapa kali sih. Tapi yaudahlah, tujuan gw pulang kan emang untuk makan lol.
Liburan musim dingin 2017. Ini singkat banget sih kayak cuma seminggu gitu. Liburan ini gw manfaatkan buat main sama temen-temen Indo Jasso yang dateng dari jauh wkwkwk. Terus gw juga pertama kalinya ngajar bahasa Indonesia ke orang Jepang.
Liburan musim semi 2018. Nah ini dia nih liburan terproduktif kedua. Sesuai dengan resolusi tahun ini, gw pengen banyak nyoba hal baru. Nah liburan musim semi ini adalah kesempatan besar buat gw.
- Pergi mancing
- Nginjek-nginjek gandum (bukan karena gw marah, ini emang tujuannya biar gandumnya tumbuh gede)
- Bikin kastengel sama lidah kucing
- Ngajar bahasa Indonesia lagi
- Jalan-jalan ke Hokkaido
- Dandan niat buat ke acara Mitsui (ini suatu pencapaian lho... gw seneng make up gw bagus wkwkwk tapi sayang rambutnya agak berantakan)
- Ke Minamisanriku (motong rumput laut, nebang pohon)
- Masak-masak n makan-makan sama temen Indo, 3 kali ada kayaknya hahaha
- Bikin Youtube Channel! Bakal gw tulis di post selanjutnya.
- Main angklung dan MASUK TV JEPANG CUY!!!

Bisa kebayang kan gimana sibuknya gw? Tapi ya gw seneng sih. Karena liburang gw tidak terbuang percuma. :D

Setelah liburan yang produktif dan menyenangkan tersebut, gw masuk kuliah lagi. Kalo boleh jujur, gw semangat banget mau kuliah pas lagi liburan hahaha. Ceritanya karena gw mau memulai hidup baru di dunia perkuliahan. Gw mau lebih rajin belajar dan tidak belajar demi nilai, tapi belajar demi ilmu. Mau lebih aktif ikut ekskul. Mau ambil pelajaran marketing bla-bla-bla yang pada akhirnya gak kesampean juga wkwkwkw.

Anyway, minggu lalu gw abis libur lagi. Libur Golden Week. Di Jepang, ada 1 tanggal merah (29 April), diselang 3 hari trus ada 3 tanggal merah lagi (3-5 Mei). Karena hampir libur seminggu penuh makanya disebut Golden Week. Biasanya orang kerja ambil cuti di tanggal yang gak merah biar dapet libur panjang dan bisa jalan-jalan. Tapi apa daya ya, univ gw cuma libur pas tanggal merahnya. Jadi gak dapet libur seminggu penuh hahaha. Nah liburan kali ini, gw tadinya gak ada rencana sama sekali. Tapi seminggu sebelum Golden Week, mendadak semua rencana masuk di tanggal merah. Mulai dari ke Minatomisaki, makan sama Theo, ketemu Quincy n Jung, nengok anak Mas Yurio yang baru umur seminggu, dan ke Hakone. Entah kenapa seminggu itu luar biasa capeknya. Haft. Ya tapi lumayanlah gw bisa checklist tempat wisata di Jepang wkwkw.

Sekian post yang kurang berfaedah ini wkwkwk.


Jumat, 16 Februari 2018

My Neighbors (not Totoro)

Before moving to apartment, I had asked my friends and seniors about their relationship with their neighbors. All of them do not really know their neighbor. However, since there are only 4 people living in my apartment, I want to be friend with them. Within the first week after I moved to the apartment, I bought Alfort chocolate and rang each room bell. I introduced myself and said, "これからよろしくお願いします”. We did not talk much, but at least, I knew their faces. It turned out that 101 is also a freshman in Keio, 201 has been living there for 7 years and is studying at Keio , while 202 is not a Keio student (he is quite mysterious, lol).

Since I had lived in a dorm for one and a half year, I often shared snacks and food with my friends in the dorm. So, I wanted to do the same thing to my neighbors. I gave them Unagi Pie (Eel Pie) after I got back from Shizuoka on the end of March. But at that time, I was too tired to ring their bell and have a little chat with them. So I decided to write a message and put the pie inside their mail box. I was so happy when I got a reply from 201. She wrote that she really liked Unagi Pie and offered her help if necessary.

202 once rang my bell to said that his friend was going to stay in his room for a day, so it might be noisy. He had also accidentally dropped his just-washed bed sheet and it fell on my balcony. He rang my bell and I gave it to him. Actually, he is quite noisy while walking and cleaning his room. His vacuum cleaner even sounds like a drill (or is it a real drill?). He is a clean and neat person, I think. He always puts his futon on his balcony once a week and well, clean his room more than once a week.

201 will always be remembered for her cries. Sometimes she cries and screams inside her room. She often comes back home late like at 1 AM or even 3 AM. My assumption is that she is so busy with her research and sometimes get stressed. Other than that, she likes to sing along with English songs.

101 is the closest one to me. Though we have only met each other around 10 times (when I say 'meet', it means see each other face and not talking more than 10 minutes) and had dinner once, I think he is a nice person. He came from Ibaraki Prefecture and is studying in the faculty of Business. He joins many college clubs such as guitar, piano and coffee lovers. He plays the guitar almost everyday and sometimes sings. It is nice to wake up hearing guitar sounds beside my room (FYI, our apartment is not soundproof). He never complains if I am noisy or my voice is so bad that it hurts his ears. I am really noisy when I talk with my friends on the phone and sing to release stress, but there is not even a single complain has ever come out from his mouth. *standing applause

Maybe I think too much about this, but our relation is quite weird. When I gave him the chocolate, he asked me to have lunch or dinner together next time. However, our first meal was 9 months after that. We added each other on Line after 6 months living in the apartment but now, I lost his contact.

Our conversation often ended awkwardly. Like while we were eating dinner and talking about movies. He told me that 'Kimi no na wa' would be aired on TV that night. I told him that I didn't have TV. Then he asked me to watch the movie in his room. He was being kind, but I did not feel right to go to his room. Moreover, Nia was staying in my room that day, so I politely reject his invitation. But after that, things went really awkward. He said he had to go to the supermarket and we didn`t talk much...
After that dinner, I met him twice but he only said 2 sentences. "I forgot something." and "I'm in a hurry." So I thought that my response made him think that I did not want to be his friend or what.
But maybe I am wrong. On the night after I got back from Disneyland, I found a white paper bag hanging on my door. There was a paper with message written on it that said, "There is so many leftover bread from my part time job's shop today. You can have them if you don't mind. If you don't need them, just throw it away. From your neighbor 〇〇." Inside the paper bag, there were white bread, walnut bread, chocolate eclairs, and two madeleines I guess. Yes there were a lot and I was so happy. Not only because I got free food, but it also means that he didn't intend to avoid me (this is only an assumption). Then, I gave him dim sum and chocolate dessert with the same way (put it inside a paper bag and hung it on his door with message on it.)
Actually I really want to ask him how does it taste, but well, I don't have the courage and too afraid that it will be awkward again. Maybe I have to try sometimes... I should improve my Japanese so that I can speak more honestly just like in Bahasa.




Wrong Decisions

Recently, I have been thinking a lot about the decisions I had made. Most of them were not the best decision and I am really annoyed since I keep regretting them. Though there were no big thing (fortunately), I still blame myself for one day or even one week after.

I usually make wrong calculation while cooking. Like, putting to much garlic in dim sum, weird combination of food, too much salt or water or oil, etc. I will regret this while I am eating the food.

I went to Disneyland last Tuesday with my friend, Hitomi. There was a projection show in front of the Cinderella Castle at 19:40. However, after riding an attraction that finish at 19:20, I asked her to go to souvenir shops and took some pictures with the headbands. In the end, when we got out of the shop, it was already 19:39 and the show started immediately. We ran to the castle, but there were already a lot of people there and we could only see the castle from the left front side. I thought that it would be better if we moved to the back side so we can see the castle from front. However, we moved to a location where the castle was more difficult to see. I really regretted that we could not really enjoy the show.

On the way home from Disneyland, I saw a woman threw up inside the train (only a little, not all over the floor). She wrapped her puke (?) with tissue and tried to clean herself but she ran out of it. I gave her mine, but I did not think to give her plastic bag too. After I gave her the tissue, I realized that I should give her plastic bag. However, I hesitated to do that, because maybe she was embarrassed to be seen and helped by other people. So, I did not give her the plastic bag and regretted it for the next 24 hours until I told Isselin about this.

Yesterday, when I went to supermarket with my senpai to buy ingredients for CNY dinner, I insisted to buy more meat because I thought it would not be enough for everyone. It ended up too much.
I also asked my senpai to cook rice because I wanted to eat the meat with rice. In the end, no one ate the rice except me, and well, there was still a lot of rice when we left. In the first hand, I should not eat rice since I am on a diet...

I feel like there are more wrong decisions I made recently. Though Ihsan once said that there are no wrong decisions, the right ones are what most people thinks right. Still, in those condition, my decisions were wrong...

Rabu, 14 Februari 2018

The Lowest Point of My Life

Cerita ini terjadi tanggal 14 Februari 2012, tapi gak ada hubungannya sama sekali sama Valentine. Gw sudah menunda 6 tahun buat nulis soal ini. Tapi ya gw memutuskan buat nulis soal titik terendah dalam hidup gw.

Waktu gw kelas 3 SMP, gw daftar beasiswa Singapur (CHIJ n SJI). Gw dan beberapa anak lain dari SMP gw ikut tes tertulisnya. Kemudian, 4 orang yang lolos tes tertulis, ikut tes wawancara tanggal 13 Februari. 4 orang itu adalah, gw, Vania, Frenka dan Julius. Detail tes wawancaranya gw udah gak terlalu inget. Intinya kalo menurut gw, wawancara gw berjalan lancar.
Malamnya, pengumuman beasiswa tersebut bisa dilihat di internet. Gw, bokap nyokap dan kakak gw berkali-kali cek websitenya malam itu sampai akhirnya pengumumannya keluar. Dan ternyata, gw gak lolos. Gw sedih banget, karena gw pikir tinggal satu langkah lagi menuju beasiswa tersebut. Gw berusaha terlihat tegar di depan keluarga gw. Tapi tetep aja gw belom bisa menerima kenyataan. Waktu itu yang kepikiran sama gw adalah, gw nggak cukup baik buat diterima. Malem itu, gw dengan penuh rasa sedih dan kecewa, gw ngerjain PR bahasa Sunda yang tadinya gak mau gw kerjain di kamar tamu. Gw gak ngerti PR nya dan gw mulai nangis. Air mata gw mengalir deras dan jatoh ke buku gw. Terus orang tua gw masuk ke kamar dan menghibur gw. Ya pasti mereka kecewa juga sih karena batal hemat beras.

Malam itu untungnya gw bisa tidur dan sedikit merelakan kegagalan gw. Gw bangun dan berusaha terlihat biasa aja di sekolah. Gw samperin Vania dan bilang selamat karena dia diterima.
Sampai akhirnya pelajaran dimulai. Hari itu jam pertama gw adalah Geografi. Gurunya adalah Bu T. Entah apa yang dipikirkan Bu T hari itu, dia menyuruh gw dan Vania maju ke depan kelas untuk menceritakan pengalaman wawancara kemarin. Kita berdua jujur aja bingung mau cerita apa. Akhirnya Bu T melemparkan pertanyaan ke kita berdua. Seperti, gimana caranya kalian masuk ke ruangan. Vania bilang, "Saya ketuk pintu, buka pintunya, beri salam terus duduk." Gw sendiri yang udah terlalu sedih gak diterima, udah gak bisa berpikir jernih dan memutar otak gw untuk mengingat wawancara kemarin. Gw bilang dengan jujur, "Saya lupa saya bilang salam atau nggak." Lalu mulailah Bu T ceramah soal betapa pentingnya mengucapkan salam karena orang Singapur sangat menjunjung tinggi kesopanan dan etika. Setelah gw balik ke tempat duduk gw, gw gak bisa tahan air mata gw dan akhirnya gw nangis lagi. Gw cuma bisa nutupin muka gw pake buku cetak geografi yang warnanya biru muda dan ada gambar bola dunia di sampulnya. Satu-satunya hal yang ingin gw lakukan adalah ngambil buku latihan UN yang udah 6 bulan gw pinjem dari perpus (karena gw cipe) dan gw pukulin ke muka Bu T sampe lipstik merahnya meleber ke mana-mana. Untung pelajarannya cuma 1 jam dan beliau segera keluar dari kelas. Tapi gw masih nggak ngerti sih, apakah si Ibu ini tidak sadar kalau beliau baru saja membanding-bandingkan gw yang gak diterima beasiswa dengan teman gw yang diterima? Apakah beliau gak tahu kalau gw sedih dan lagi down banget karena gak diterima? Apakah beliau tidak tahu kalau gw nangis di kursi gw sementara temen-temen gw yang lain sadar?

Pelajaran berikutnya adalah bahasa Sunda yang diajar oleh Bu Narti. Tapi sebelum Bu Narti masuk kelas, Pak Joko, wali kelas gw, dateng ke kelas dan manggil gw sama Vania. Beliau kaget ngeliat gw lagi nangis, dan akhirnya beliau ngajak gw sama Vania buat duduk di ruang BK. Beliau nanya kenapa gw nangis. Apa karena gw gak diterima? Awalnya gw cuma nunduk, nangis dan gak mau ngomong sama sekali. Tapi beliau tetep keukeuh nanya dan nunggu sampe gw mau ngomong. Akhirnya dengan terbata-bata, gw cerita apa yang baru saja terjadi dan kenapa gw itu bikin gw nangis. Di situ juga ada Vania yang bantu jelasin detailnya. Sepertinya Vania juga gak tau kenapa gw nangis, jadi ya dia bisa jelasin secara netral lah. Di situ Pak Joko menghibur gw dan bilang kalo gw bisa menuntut Bu T atas apa yang beliau lakukan. Pak Joko tadinya manggil gw dan Vania untuk bilang, "Kalian sudah berusaha." dan lain-lain lah. Tapi gara-gara gw nangis, jadi panjang deh obrolannya. Setelah itu, Pak Joko pergi menemui kepala sekolah (atau Bu T langsung ya?) untuk membicarakan masalah ini. Setelah istirahat pertama (atau kedua ya?) Bu T nyamperin gw di depan kelas. Beliau bilang kalo beliau gak bermaksud membandingkan gw sama Vania. Beliau cuma pengen temen-temen gw tau, wawancara itu kayak gimana. Intinya, beliau gak mau gw tersinggung gara-gara itu. Beliau minta maaf sih akhirnya. Tapi kalo gw boleh jujur, gw gak sepenuhnya memaafkan beliau saat itu.

Sampai sekarang pun, kalau gw inget kejadian itu, mata gw bakal berkaca-kaca dan air mata gw menetes beberapa kali. Tapi yang lebih parah adalah akibat dari kejadian itu. Gw sebagai orang yang sensitif dan gampang terluka, sempet trauma. Gw gak trauma daftar beasiswa, gw juga gak trauma ketemu sama si Bu T. Tapi gw trauma sama wawancara.
Beberapa bulan kemudian, gw daftar buat ASEAN Scholarship, yakni beasiswa buat ke Singapur juga. Gw berhasil lolos tes tertulis dan dipanggil buat tes wawancara. Tes wawancara kali ini, gw berusaha inget untuk mengucapkan salam sebelum masuk ruangan. Tapi, setelah itu, gw gak bisa ngomong apa-apa sama sekali. Gw cuma diem aja di ruangannya sampe disuruh keluar.
Masalahnya adalah, orang tua gw, terutama nyokap gw terlalu ambisius dan meng-expect keberhasilan. Nyokap gw gak tau kalo gw trauma sama wawancara gara-gara kejadian itu. Sementara gw udah tau kalo gw gak bakal diterima, nyokap gw tetep ngotot buat optimis dan akhirnya gw nangis lagi.

Gw berusaha sebisa mungkin untuk gak mengungkit-ngungkit kejadian ini lagi. Tapi ya, akhirnya gw cerita juga ke beberapa temen gw. Juga cerita ini pas ret-ret SMA karena temanya adalah trauma. Dan well, butuh waktu 6 tahun buat gw untuk bisa nulis ini di blog. Ya, ini emang bukan sesuatu yang mau gw inget-inget terus. Tapi biar bagaimanapun juga, ini adalah bagian dari hidup gw. Gw yang tadinya selalu lancar-lancar aja hidupnya dari kecil, jadi belajar untuk gagal juga. Dan ternyata, Tuhan punya rencana lain untuk memberangkatkan gw ke Jepang.
Gw udah nggak mikir, "Seandainya gw diterima waktu itu..." tapi gw bakal tetep inget soal kejadian ini. Sampai kapanpun.


Kamis, 08 Februari 2018

Lose Weight - Make Up Challenge

Tahun lalu, entah serius atau nggak, Joevandi berkali-kali nyuruh gw make up. Tujuannya, biar gw dapet cowok katanya. Gak masuk akal sebenernya. Karena cewek yang gak pake make up pun tetep dapet cowok.
Menurut gw, make up itu ngerepotin. Gw cuma mau make up kalo ada acara formal atau khusus. Dan dibilang kayak gitu berkali-kali sama si Joevandi, bikin gw kesel. Gw cerita ke temen-temen gw, termasuk Shao, orang Singapur. Terus Shao bilang, "Bilang aja ke si Joevandi, suruh dia turunin berat badan dulu baru lw dandan." Nah, gw ikutin sarannya. Pas gw lagi ngantri restoran Korea sama Aaron dan Joevandi, Joevandi lagi-lagi nyuruh gw pake make up biar dapet cowok. Gw balas sesuai sarannya Shao. "Lo kurus dulu baru gw pake make up!" kata gw dengan sinis. Ya gw gak serius nantangin dia lah. Gw cuma pengen menekankan kalo gw pake make up tuh sama mustahilnya dengan dia kurus.
Eh, tapi ya, si Joevandi nganggep itu serius dan dia sampe nentuin dia harus turun berapa kilo, kalo dia berhasil kurus, gw musti pake make up selama berapa lama, dan dia bakal mengadakan pengecekan berkala secara mendadak. Hasil dari diskusi kita saat itu adalah "Jika Joevandi turun 10 kg, Stephanie harus pake make up setiap hari selama setahun." Aaron saksinya, tapi gw masih menganggap itu semua bercanda.
Berikutnya kita ketemu pas pesta akhir tahun di JASSO. Dia kembali mengungkit masalah challenge itu dan mengumpulkan dukungan dari temen-temen gw yang lain kayak Ihsan, Franklin dll. Dan mereka semua mendukung Joevandi. -_- Pas gw berusaha supaya isi perjanjian gak merugikan gw, gw nawar supaya definisi make up nya cuma bedak dan lipstik. Eh gak taunya cowok-cowok itu ngerti banget soal make up. Kayak Ihsan contohnya. Dia bilang, "Lo harus tebelin alis juga, Step. Kalo lo bedakan doang, alis lo ilang." Ada lagi yang nyaut, "Jangan lupa pake eyeliner." "Blush on juga tuh." "Maskara juga woy." Karena hidup gw semakin dibahayakan, gw nanya balik ke Franklin, temen gw yang udah punya pacar. "Emangnya cewek lu dandan???" "Nggak." "Terus kenapa kalian pada ngedukung Joevandi???" "Ya, kita pengen liat yang beda aja Step."
Jawaban macam apa itu.
Tapi ya mereka kan emang sering bercanda. Jadi gw gak anggep serius lah. Paling besok juga pada lupa.

Tetapi... Beberapa hari kemudian Joevandi tulis resolusi tahun 2018 dia adalah turun 10 kg dan dia share di Insta Story.
Dua minggu kemudian pas gw telponan sama si Joevandi, di tengah-tengah telpon, tiba-tiba dia bilang, "Eh, akhir-akhir ini gw belom sempet nimbang lagi. Berat awalnya pake 102 kg aja gapapa ya?"
Besoknya lagi, dia lapor kalo dia udah turun 3 kg abis jogging.
Terus pas dia pergi ski, dia juga cerita ke temen-temen dan guru dia yang orang Jepang soal tantangan ini...

Gw bingung dong ya... Kok ni orang serius banget nanggepin kata-kata gw yang waktu itu. Padahal gw cuma sinis doang. Karena penasaran, gw tanya langsung ke orangnya lewat telpon. Jawabannya aneh banget.
"Pas ski kemaren, kan malemnya cowok2 pada ngobrol di kamar. Terus gw bilang gini... 'Menurut gw , cewek yang gak pake make up itu pure. Dan kalo gw ngeliat cewek yang gak pake make up, menurut gw mereka tuh kawaii.'"
Lah ya gw makin bingung lah. Kan gw gak pake make up, berarti gw kawaii... Tapi dia malah nyuruh (pengen?) gw pake make up. Apakah gw terlalu jelek sampe-sampe muka gw musti dibenerin pake make up??? Ataukah gw terlalu pure kayak asam sulfat murni yang membahayakan?

Kalo kata Isselin sih, pendapat Joevandi untuk cewek gak bermake-up tidak berlaku buat yang mukanya jelek. Intinya, si Isselin cuma mau bilang muka gw jelek.
Kalo kata Shao, mungkin karena dia cowok, makanya merasa harga dirinya diragukan waktu gw tantang.

Tapi mungkin aja, sebenernya dia cuma iseng dan gwnya terlalu banyak mikir.

Sekarang yang bisa gw lakukan cuma satu, mencegah berat badan Joevandi turun. Hahahaha


Rabu, 07 Februari 2018

Ngapain sih peluk-peluk?!

Gw orangnya gak terlalu suka bersentuhan kulit sama orang yang belom deket. Kalo cuma salaman sih gapapa ya. Tapi kalo lebih dari itu, kayak misalnya nyender pundak atau lengan (gw tau lemak gw banyak di sana) atau rangkul atau gandeng, biarpun dia cewek, gw pasti merasa aneh.
Nah apalagi kalo sama cowok. Menurut gw, rangkul, gandeng sama peluk tuh buat orang yang pacaran. Kecuali pas foto, dirangkul sama temen yang udah akrab masih gapapa. Ya mungkin gw terdengar sangat kuno atau kolot ya hahaha. Tapi gak tau kenapa gw dari dulu mikirnya kayak gini. Waktu gw SMP, temen-temen cewek gw sering banget ngajak foto cowok dan minta gandeng, padahal bukan pacarnya. Gw ngeliat mereka dengan tatapan aneh sambil bilang, "Kok cowoknya mau aja gandengan ya?" dalam hati.

Tapi waktu SMP, gak ada juga cowok yang gandeng atau meluk gw (ini bukannya ngenes ya). Si Bryan pernah bercanda ngerangkul gw dan dia pulang dengan entah pukulan cubitan atau tendangan dari gw. Masuk SMA pun gw luar biasa aman. Faktanya, gw gak punya temen cowok pas SMA.
Nah, tapi setelah gw pergi ke Jepang dan melalui satu setengah tahun di sekolah bahasa, mulailah ada yang aneh-aneh. Hahahaha.

Pertama
Hari itu adalah hari kelulusan sekolah bahasa. Malamnya, anak-anak kelas gw pergi makan yakiniku bareng di daerah Takadanobaba. Setelah makan, kita ngobrol-ngobrol sebentar di jalanan. Di situ gw ngobrol sama You, temen gw orang Taiwan. Percakapannya kurang lebih kayak gini :
Gw : Cepet banget ya. Gak berasa udah satu setengah tahun.
You : Iya. Abis ini kita semua bakal jarang ketemu.
Gw : Sedih, ya. Nanti bakalan susah banget buat kumpul-kumpul kayak gini.
You : *merentangkan tangan buat meluk*
Gw : Eh... chotto... (kalo di bahasa Jepang, chotto itu menunjukkan keengganan)
You : Kenapa?
Gw : Gak usah pelukan lah... Kita gini aja *membuat formasi tangan yang sejajar kayak lagi megang kotak. Terus ngajakin dia pelukan tangan aja. Ngerti gak?*

Kayak gini nih :     | I I |
I itu tangan si You
| itu tangan gw

Emang gak jelas. Tapi yang penting gw gak dipeluk. Lol.
Rada gak enak juga sih, soalnya dia kayak tersinggung gitu.

Kedua
Pas libur kuliah, gw main ke JASSO. Nah di sana gw ketemu lagi sama si You. Gw nyapa dia, "EH UDAH LAMA GAK KETEMU!" Dan kalian harus tahu, dia lagi-lagi merentangkan tangan mau meluk. Dan kali ini yang gw lakukan adalah gw meluruskan tangan dan megang pundak dia. Jadi biar bagaimanapun dia mau meluk gw, gak bakalan kepeluk. Hahahaha. Akhirnya dia ikutan megang pundak gw dan kita dorong-dorongan sambil ketawa hahahaha.

Ketiga
Pas tahun baru dan naik Gunung Takao, dan sebelum-belumnya mungkin pernah juga sih, Joevandi juga merentangkan tangan mau meluk, tapi dari jarak 3 meteran gitu sih. Mungkin dia bercanda ya, tapi respon gw adalah "Jijik lu!"

Keempat
Kemaren gw ke JASSO dan ketemu sama Evan, orang Filipin. Gw jujur aja ketemu dia paling baru 10 kali dan kalo gw ketemu dia pun paling ngobrolin soal universitas. Eh, pas ketemu dia, dia merentangkan tangan buat meluk dan udah deket banget jaraknya sama gw. Jadi gw meluruskan tangan ke depan dan bilang, "NO HUG!". Dia bingung, dan nanya "Kenapa? Oh, lw lagi sakit ya?" Emang hari itu gw pake masker, tapi itu karena dingin. Akhirnya gw gak sempet menjelaskan alesan kenapa gw gak mau dipeluk. Tapi ya semoga dia gak tersinggung.

Apakah gw harus berubah? Apa gw harus mau kalo dipeluk orang?