Hai, hai. Post berikut ini isinya kurang lebih sama kayak yang kemarin, tapi ini adalah bagian-bagian yang sebenernya gak pentingnya gitu. Kayak perasaan gw dll lah. Anyway gw nulis post ini sambil maskeran :
Lol, udah pake masker, trus pake kacamata. Maskernya dari mamanya Isselin, btw. Makasih, Tante!
Mulai dari mana ya... hmm...
Oh, sebenernya gw gak optimis-optimis amat sih waktu daftar beasiswa ini. Karena yang daftar 2700 lalu ujung-ujungnya yang diambil cuma 2 atau 3 orang.
Waktu tes pelajaran yang diikuti 149 murid IPA dan 20 murid IPS, gw gak terlalu yakin lolos, mungkin karena sempet gagal tes NTU dan itu menghantui gw. Semacam ketakutan tak beralasan gimana gitu deh. Nah, kalo gak salah malem sesudah tes atau beberapa hari setelahnya, gw mimpi kalo gw lolos. Gw lupa sih, lolosnya tes pelajaran doang apa lolos beasiswanya hahaha. Hari-hari sebelum pengumuman, kalo ada yang nanya gw, gw bilangnya, "Di mimpi sih lolos. Tapi gak tau deh aslinya gimana."
Kemudian, tanggal 15 Mei, gw ditelpon dan dinyatakan masuk ke tahap berikutnya, yeay! Di tahap ini tersisa 18 orang. Tanggal 21 itu psikotes. Tes IQ sama kepribadian biasa terus yang menarik, ada tes diskusi. Kita dibagi ke dalam 3 kelompok. Ada yang 7 orang, 6 orang, sama 5 orang. Kita dikasih suatu kasus dan harus ngurutin jawaban gitu. Awalnya kita kerjain sendiri, baru kemudian diskusi didampingi 3 psikolog.
Tanggal 22 itu medical check up. Lucu sih karena ini pertama kalinya gw medical check up yang ada tes urine sama tes faeces. Selain itu, ada juga yang belum pernah cek darah dan mungkin agak takut sampe dia nanya, "Nanti darahnya diambil pake jarum?". Ada juga yang terlalu cuek, setelah darahnya diambil, kapasnya langsung dia copot kayaknya, terus darahnya berceceran gitu hahaha.
Kan ada tes THT, pas selesai tes pendengaran, gw dibilangin kalo gw gak boleh sering-sering pake headset soalnya kemampuan pendengaran gw sudah agak menurun, meskipun masih bagus. Sejak saat itu, gw gak pernah pake headset lagi.
Hari itu gw minta kontak semua peserta. Eh gak semua sih, ada 2 atau 3 orang yang gw lupa minta trus keburu pulang. Gw minta kontak maksudnya biar bisa tanya-tanya gitu. Kita sempet foto bareng juga biarpun gak lengkap.
Anyway, tanggal 25 Mei, Monbusho buka pendaftaran. Gw daftar dong, secara gw memang mencari beasiswa ke Jepang. Tapi kemudian, muncul ketakutan kalo gw daftar dua-duanya gw bisa aja ditolak sama Mitsui-Bussan. Gw pun nanya ke Kak Devina, yang tahun lalu nerima beasiswa itu daftar monbu juga apa nggak. Katanya, nggak. Wah ini semakin mencekam. Biarpun gw belum tentu lolos ke tahap wawancara, kan tetep aja jadi beban pikiran.
Lalu, gw dinyatakan masuk ke tahap wawancara bersama 10 orang lainnya. Ceweknya cuma 2 nih. 9 orang lainnya cowok. Gw pun mencari tempat les speaking bahasa Inggris karena dulunya pernah trauma. Kemudian gw les sama Bu Maryana. Beliau guru privat bahasa Inggris, tapi bisa les speaking aja. Nah, gw ngumpulin pertanyaan2 yang mungkin keluar dan nyari jawabannya pake bahasa Indonesia dulu. Baru kemudian konsultasi sama Bu Maryana dan diterjemahkan. Oh, sebelumnya gw juga udah mulai les privat bahasa Jepang di Yudisa di BSK. Gurunya sensei Chrisanti. Ya baru dasar banget sih belajarnya dan gw belum lanjut lagi sampe sekarang. Tapi yang penting bisa memperkenalkan diri dalam bahasa Jepang secara singkat. Siapa tau jadi nilai plus.
Trus gw juga sempet 'simulasi' wawancara sama Telung. Niatnya simulasi, tapi jadinya konsultasi haha. Tapi jadi banyak jawaban yang diperbaiki.
Tibalah hari wawancara, 30 Juni. Jeng jeng jeng....
Gw pake baju batik pinjeman dari Elke's Wardrobe yang katanya sudah di jampi-jampi hahaha.
Wah Elke's Wardrobe memang top banget deh. Selain foto yearbook SMP dan SMA, untuk wawancara aja gw disponsori oleh Elke's Wardrobe. Ckckckck
Gw juga pake iket rambut ini, oleh-oleh dari Elke :
Selain itu pake celana bahan hitam sama flat shoes.
Tadinya pilihan gw ada dua, antara batik atau blus/kemeja gitu. Setelah nanya-nanya dan mikir-mikir, kayaknya batik lebih baik. Seakan menunjukkan kalo, "I Love Indonesia!" dan coraknya yang ramai, bikin kita terlihat berbeda dan mudah diingat.
Oh iya, gw pake iket rambut itu juga supaya lebih mudah diingat. Soalnya dulu temen gw yang mau tes beasiswa, Noni, pake iket rambut yang ada pita merahnya supaya dia diingat dari sekian banyak peserta wawancara. Bener juga, sih. Buktinya dia dapet beasiswanya. Tapi ya itu hanya salah satu faktor pendukung aja. Bukan berarti mutlak. Bisa juga kita mudah diingat karena kepribadian atau latar belakang kita yang memang unik.
Padahal, setelah dipikir, peserta cewek kan tinggal 2, selain itu gw pake kacamata + behel dan yang satu nggak. Harusnya bisa dibedain kan hahaha.
Wawancaranya nggak kaku atau pun menegangkan. Banyak ketawanya. Gw inget banget pas ditanya, "How many best friends do you have?" "Around 5-10." Terus bapak yang berasal dari Jepang ketawa dan melanjutkan, "Me? Three." Lalu ketawa lagi... Hahahaha sebenernya gw gak terlalu ngerti lucunya di mana, tapi ya ketawa aja. :D
Lalu, gw yang memang gak daftar UI atau ITB, ditanya, "Kenapa kamu gak daftar?" Gw bilang karena memang gak tertarik. Ditanya lagi, "Jadi lebih tertarik di UnPar?" Gw jawab iya. Setelah dipikir-pikir, harusnya gw jawab "Saya lebih tertarik ke Jepang!" Itu juga menjadi beban pikiran.
Selain itu juga, waktu ada pertanyaan "How is your involvement in community?" Entah kenapa kata 'involvement' itu tidak terdengar oleh gw. Hanya seperti gumaman tak jelas... Sempat panik dan minta diulang lagi pertanyaannya. Untung akhirnya terdengar.
Oh trus sekitar 5 menit terakhir, sempat hening sejenak.Sampai-sampai, yang memimpin wawancaranya bilang, "You ask her some question." ke pewawancara lain. Hahaha... Tapi kan gw yang takut. Gw berasusmsi, kalo nggak pertanyaannya yang abis, gwnya sudah tidak
bisa ditanya lagi (karena membosankan, atau sudah terlalu jelas), atau
mereka sudah mendapatkan jawabannya (gw pasti diterima atau pasti
ditolak). Tapi akhirnya selesai juga beberapa detik sebelum 20 menit nampaknya.
Beban-beban pikiran itu lagi-lagi menghantui gw, ya. Menjadi pertanyaan-pertanyaan yang gak tau gimana jawabannya.
Ngomong-ngomong, malam tanggal 2 Juli, gw mimpi lagi. Gw mimpi kalo gw dapet beasiswa ini. Tapi tanggal 3 Juli itu, gw nungguin hp gw bunyi tapi gak bunyi-bunyi. Gw sampe bete di kantor karena gw pikir gw gak dapet nih. Sampai akhirnya, pas adzan maghrib di radio selesai dan gw nelpon Mr. Katsunishi balik, dan gw dinyatakan lolos, semuanya terjawab. Bener-bener lega. :')
Saran untuk yang mau daftar Mitsui-Bussan Scholarship dll. (ada yang penting, ada yang nggak) :
- Sedia amplop besar untuk kirim dokumen
- Kirimkan dokumen paling lama 1 minggu sebelum tenggat waktu yang diberikan. Misalnya, tenggatnya 15 Juni, usahakan tanggal 8 Juni udah ngirim. Kalau ngirimnya pas-pasan mungkin saja jadi bahan penilaian. Selain itu, kalau ngirim dari jauh-jauh hari, kesalahan atau keteledoran bisa diperbaiki.
- Dokumen yang dikirim lewat pos jangan lecek atau kotor. Mirip-mirip kayak ngelamar kerja lah. Amplop dan kertas mencerminkan kepribadian. Ya, kalau sudah dikirim lewat jasa emang gak bisa diawasi, tapi setidaknya, dari awal kita sudah mengirimkan yang terbaik.
- Sebelum tes pelajaran, jangan lupa belajar! Kalo kata Bu Surti, "Jangan malas, jangan sombong, neng!"
- Psikotes dan tes kesehatan gak perlu belajar, sih. Tapi saran aja, untuk tes diskusi, jangan terlalu diam tapi jangan terlalu memaksakan pendapat juga. Untuk tes kesehatan, sehari sebelumnya lebih baik minum yogurt atau yakult gitu supaya pas hari H, faecesnya keluar.
- Untuk tes wawancara, browsing pertanyaan-pertanyaan umum yang mungkin keluar dan siapkan jawabannya. Kalo bisa, latihan dulu di rumah. Terserah mau di depan cermin atau mau direkam (tapi gw gak dua-duanya sih) atau mungkin simulasi dengan orang lain. Minta tolong keluarga atau teman atau guru yang sudah berpengalaman untuk menanya-nanyai kamu dan juga minta pendapat dan saran mereka.
- Jangan grogi saat wawancara. Caranya? Tanamkan di pikiranmu kalau ini bukan sesuatu yang harus didapat. Semakin diharuskan, biasanya semakin grogi. Semakin grogi, pikiran kita tidak bisa bekerja normal. Anggap saja ini hanya bincang-bincang biasa dengan orang yang ingin mengenal kamu.
- Ketuk pintu dulu sebelum masuk, kemudian ucapkan salam sambil membungkuk (?)
- Jangan menjelek-jelekkan apa pun pada saat wawancara. Apa pun. Tunjukkan kalo kamu adalah orang yang berpikiran positif.
- Jawablah pertanyaan dengan jujur dan apa adanya. Karena umumnya, wawancara itu untuk mengenal diri kamu lebih dalam.
- Ketika ditanya soal kekurangan kamu, jawab saja apa adanya, tapi berikan solusi dari kekurangan kamu. Maksudnya dari kekurangan itu, ada pengaruh positifnya.
- Rapi pada saat wawancara. Rambut, baju, sepatu.
- Be yourself!
- Pikirkan matang-matang sebelum mendaftar, apakah kamu benar-benar ingin atau tidak. Kalau memang tidak akan mengambil setelah lolos, lebih baik jangan mendaftar.
- Pastikan orang tua mu setuju dan mendukung. Karena tanpa restu orang tua, tidak akan mudah.
- Berdoa dan minta didoakan.
- Do your best and let God do the rest!
Sebelum tes wawancara, gw minta doa ke keluarga besar gw dan temen-temen gw. Elke malah bilang, "Kayaknya lw dapet deh. Ih beneran deh. Pasti dapet." berkali-kali. Kok yang dapet firasat malah dia, ya?
Dan kebanyakan dari keluarga gw bilang, "Kalau memang jalannya kamu ke sana, pasti dapet." Well, kalau memang sudah jalannya tapi gw gak berusaha dan mempersiapkannya, gw yakin jalannya bisa berbelok tiba-tiba. Jadi, usaha itu tetap perlu dan sama pentingnya dengan doa, ya.

