Jumat, 26 Agustus 2016

Little parts of life

First of all, I want to warn you. I am going to write this post in English (with my broken English) because mine is getting worse than before (it wasn't good) but I have an English exam for Waseda next week. If you are worried that this post will ruin your English, please don't hesitate to skip and wait for the next Bahasa or Japanese posts.

Recently, I realized that although I update my blog every month since I came to Japan, I have never written about my daily life. The little, silly, funny, boring or whatever it is. I only wrote about my thoughts and the big things that happened. I forgot that my life is also made of tiny dots. Every second of my life, I mean. So now I'm going to introduce you to my daily life.

Let's start with the people.
1. Joe
He gets the same scholarship as me. I can say he is my comrade in Japan. We fight together against EJU, JLPT and university exams (soon).   
He is.... unique. I have never met someone like him. A combination of neat, perfectionist, narcissistic, complicated, noisy, etc. It is hard to understand the way he thinks. Sometimes he is a little bit annoying, however I usually ignore him. I know I am not a good friend, yeah I know. But here is the thing, though I ignore him, never answer his call (they were not on purpose), there are times when I thank God that I came to Japan with him. It's rare though.


2. Kak Tsani
She is my senpai from the MBS. Actually, she is only 1 month older than me. But since she only spent 2 years in JHS and so mature (compare to me), I can't call her without 'kak'.
She came from Jakarta and now she is studying at Tokyo Institute of Technology. 
Oh, and she is the one whose blog I read during the MBS selection! wrappedindreams.wordpress.com



3. Kak Adrian
He is Kak Tsani's comrade. He is too old, I don't even know his age. Look at his face! I'm just kidding. He is 21. Pokemon lovers. Beyonce and Pentatonix's fan. A good singer. He loves to do or say things that are disgusting (jijik) in my opinion. The reason why I say "jijik" in the best way I could is him. He is a student at University of Electro-communication Tokyo. I don't know much about him because he keep his story secretly. But I would like to recommend him as an adviser. Though most of the times he jokes around, only when you really really need him, he is all the thing you need.


Here is a picture of us! This photo was taken the night before our guarantor's birthday. We made him a birthday card. Kak Adrian put the tape as the frame and thought what we should write, Kak Tsani drew the pinky tree, Joe wrote the card and I drew our faces!
Among the senpais, two of them spend the most time with me and Joe. Since we used to live on the same dorm for six months, we often had dinner or went for karaoke together. After they moved to their new apartments, we don't hang out much. Oh, by the way, we buy each of us a birthday present. It starts from Kak Adrian's birthday on March. We gave him a shaver and a Pikachu doll. Next, Joe's birthday. We gave him an Olaf onesie and a book, "How to stop worrying and start living". On August, we paid Kak Tsani's new watch. We had no idea what to buy, so we just paid her watch. Anddd, next month is my birthday! I hope they remember it.
This one is the Ramadan edition!

3. Kak Danny and Kak William
They are 2 years older than me. Kak Danny came from Surabaya while Kak William came from Pontianak. Kak Danny is studying at Waseda University and Kak William go to the same university as Kak Adrian. Kak Danny is really funny. He has a unique way of thinking and facing life problems. Kak William is a master of yoyo.






4. Kak Martina
She is too unique too be true. Also my senpai from MBS. She is just 2 years older than me, but she will graduate from university next year. I believe the way she thinks and her life story is hardly found in this world. 







Okay, now I'm tired of writing... What a shame... :'(
I will continue this post later. Bye!

Sabtu, 13 Agustus 2016

人生は単になればいい

もう疲れちゃった… 面倒臭い考えばかり思っている。考えなくてもいいのに、なんとなく気になって、眠れなくなったり、集中できなかったりしている。もっと大事なことがあるのに。やっぱり気持ちは複雑なものだなぁ… この考え方、より単になってほしい!

Kamis, 11 Agustus 2016

Butuh teman curhat

Akhir-akhir ini gw merasa sepi di tengah keramaian. Asrama gw rame, tapi gw merasa sepi. Gw butuh temen curhat. Yang ada di deket gw, dan gw bisa cerita apa pun. Entah kenapa, orang-orang yang ada di sekitar gw, kurang cocok untuk dicurhatin. Mungkin cuma 1-2 orang. Tapi ada hal-hal yang gak bisa gw curhatin ke mereka. I need my best friends... Here, beside me. Gw mau cerita banyak banget. Biarpun kebanyakan hal yang kurang baik. Ketakutan, kekesalan, keputusasaan, dsb. Kadang gw capek sama manusia di sekitar gw. Dengan segala sifat dan kelakuan mereka yang ngeselin. Yang bikin emosi gw naik turun. Dasar manusia!

Semakin nggak ngerti dengan manusia. Kok bisa ya ada yang kayak gini? Kok bisa ya mereka jadi seperti ini?
Buat satu orang yang gak pernah puas dan selalu iri. Kamu bilang, kamu butuh uang. Ketika kamu dapat pekerjaan, kamu ngeluh gak punya waktu untuk belajar. Tapi ketika kamu punya waktu, kamu gak pakai untuk belajar atau hal yang penting. Kamu pakai untuk yang lain kan? Lalu kamu kembali mengeluh. Iri sama orang lain, selalu merasa orang lain tuh beruntung banget, bisa begini, bisa begitu. Tanpa menyadari betapa beruntungnya juga kamu.

Buat satu orang yang baper. Thanks udah memberikan contoh nyata dari yang namanya 'baper'. Plis deh, namanya juga manusia, makhluk sosial, butuh bersosialisasi. Kamu gak bisa melarang dia untuk temenan dengan yang lain, kamu kan juga gak dilarang temenan sama yg lain. Dan gak usah memperbesar masalah kecil. Katanya kamu udah dewasa, kamu ubah penampilan, kamu lebih perhatian sama diri sendiri, tapi jujur aja, kamu masih sama aja kayak aku. Kita masih anak-anak.

Buat orang yang suka ngeluh dan bilang, "Sial!"
Sadarlah, semakin sering kamu bilang, "Sial!" dan mengeluhkan hidupmu, semakin 'sial' juga hidupmu. Cobalah menerima kenyataan dan melihatnya dengan lebih positif. Gak semua hal yang terjadi itu sial. Tapi ya kalo melihatnya seperti itu, dia jadi sial beneran.

Gw pengen banget masuk Keio University. Univ ini tuh kayak pas banget dengan yang gw mau.
Jurusan yg gw mau, ada. Kampusnya bagus, enak. Termasuk univ bagus dan merupakan univ tertua di Jepang. Dan paling ngena di hati dibanding univ lain. Tapi... Masuk situ susah... Lebih susah dari Waseda... Sementara gw ngerjain tes masuk Waseda aja gak bisa.
Gw ngeliat Senpai2 Mitsui tuh alumni Todai, Keio, Kyoto. Univ top semua. Tapi beberapa tahun terakhir, gak ada lagi yang masuk tiga univ top itu. Apakah ada pengaruh persaingan dengan negara lain, atau proses seleksi yang emang makin susah? Atau ada pengaruh smartphone juga? Gw bisa ngebayangin sih dulu senpai tachi gak punya hiburan lain selain belajar. Dan mereka menghabiskan tiap malam dengan belajar di kamar. Sementara gw, tidur-tiduran, main hp, dan hal yang gak berguna-guna amat. Gw udah coba berusaha, tapi tetep gak bisa ngerjain soal2 nya. Apakah ini udah batas gw? Limit gw? Apa gw gak bisa masuk keio? Sedih.

Rabu, 03 Agustus 2016

Manusia

Manusia...
Masih adakah?
Sepertinya tidak

Zaman sekarang, tidak ada yang namanya manusia
Adanya wanita, laki-laki atau gay
Adanya Cina, Bule, Jawa
Adanya Muslim, Yahudi, dan lainnya

Sudah seperti barang di toko
Ada labelnya
Ada komposisinya
Ada kemasannya

Punya harga juga
Dilihat darimana?
Ya semua itu tadi

Oh bikinan Amerika
Mengandung unsur 'alergi' tidak?
Wah kemasannya menarik!
Lalu mulailah dihitung harganya

Kenapa?
Pendapat saya aneh?
Lalu mulai mengaitkannya dengan label saya?
Oh pantas, dia Cina, dia perempuan, dia orang Indonesia
Begitu?

Masih adakah yang melihat manusia sebagai 'manusia'?
Ketika mereka berbuat baik atau berbuat jahat
Coba lihat mereka sebagai manusia!
Mereka baik bukan karena ras
Mereka jahat bukan karena agama
Mereka hina bukan karena jenis kelamin
Ya itu karena apa yang mereka perbuat
Sebagai manusia

Penampilan melulu yang dinilai
Salahkah manusia punya mata?
Kita punya mata untuk melihat
Tapi bukan untuk menilai yang dilihat

Karena bukan cuma soal apa yang terlihat
Isi juga penting

Sayangnya
Men'judge' itu hal biasa
Biarpun sudah dibilang jangan
Tanpa sadar tetap melakukan
Kenapa?
Mungkin karena sudah terbiasa
Iya, terbiasa menilai penampilan
Dan juga dijudge

Coba deh
Singkirkan label
Abaikan kemasan
Kenali isinya

Setelah tahu isinya
Ingat dia sebagai isinya
Tak usah hubungkan dengan komposisi
Komposisi sama, isinya bisa jadi berbeda

Perbedaan itu akan selalu ada
Dan tolong, terimalah perbedaan itu
Hidup bukan melulu berlomba-lomba
Komposisi saya lebih baik
Kemasan saya lebih bagus
Bukan

Tidak ada yang tahu kapan kita expired
Ujung hidup ini siapa yang tahu?
Kalau diibaratkan roller coaster
Tiap orang punya rel yang berbeda
Nggak ada yang relnya sama
Kita lahir sendiri, mati juga sendiri bukan?
Nggak tahu relnya habis di mana
Bagaimana caranya supaya kita menikmati roller coaster tersebut?
Bukankah menikmati setiap titiknya?
Mau naik, turun, berputar
Kalau kita kerjanya membandingkan dengan orang lain terus,
Apa jadinya?
Ketika rel kita posisinya di atas mereka, kita menunduk bangga melihat mereka?
Ketika kita di bawah, kita iri melihat ke atas?
Ketika sudah di ujung, barulah kita sadar bahwa kita tidak hidup sepenuhnya?

Untuk yang tidak bisa menerima perbedaan
Maunya kita sama?
Karena anda yang paling benar?
Coba saja tarik roller coaster kami supaya setara
Bukannya susah sendiri?

Hidup bukan tentang benar dan salah
Seperti postulat Einstein
Tidak ada yang benar-benar benar dan tidak ada yang benar-benar salah
Benar dan salah siapa yang menentukan?
Tidakkah manusia itu sendiri?
Siapa yang bilang harus berhenti saat lampu merah?
Bagaimana kalo pendahulu kita membuat lampu hijau sebagai tanda stop?
Itu hal yang nyata
Apalagi hal yang abstrak
Bagaimana caranya kamu tahu kamu yang paling benar?

Komposisi apa ada benar salahnya?
Kentang itu salah, gandum itu benar!
Memangnya kamu siapa bisa seenaknya mengubah keripik kentang jadi roti coklat?!
Keduanya enak kok!
Enak apa adanya
Makanya
Biarkan kripik kentang dan roti coklat jadi dirinya sendiri

Kalau memang tidak cocok dengan rasanya, kan kamu bisa memilih yang lain
Ketidakcocokan pasti ada
Tinggal bagaimana menanggapinya
Mau meninggalkan, atau mau membiasakan diri dengan yang tidak cocok itu
Meninggalkan, berarti membiarkan dia apa adanya tanpa mengganggu
Atau
Mengenali lebih dalam sampai akhirnya terbiasa



By Stephanie
4 Agustus 5.40 Waktu Jepang





Jumat, 29 Juli 2016

恵み

恵み artinya berkat, karunia. Itulah satu kata untuk menggambarkan bulan Juli yang hampir berakhir ini. Berikut ini adalah berkat-berkat yang gw terima di bulan Juli ini. Sebetulnya, tentu saja setiap hari yang kita lalui itu dipenuhi berkah. Seperti nafas kehidupan, makanan, teman, keluarga dan lain-lain. Tapi pertama-tama, gw akan membahas tentang berkah yang cukup besar di bulan ini.

Daehan, Minguk, Manse! Sebenernya gak ada hubungannya sama gambar ini, sih. Tapi lucu aja mereka. Sekalian biar post gw isinya gak tulisan bakari.




Satu, tanggal 3 Juli, sebelum gw pergi ke Meiji University buat tes JLPT N2, gw (yang sudah sarapan) menemani Joevandi makan di Sukiya. Pas lagi makan, tiba-tiba muncul orang TU sekolah. Awalnya cuma senyum aja, tapi pas kita berdua udah selesai makan, beliau menghampiri kita dan ngajak ngobrol. Cuma kayak, "Kalian tes JLPT juga? Tes di mana? Ambil level berapa?" dan seterusnya. Eh tiba-tiba! Dia ngambil bon pesenan kita, dan bilang dia yang bayar. Gw kaget lah. Berusaha mencegah, tapi akhirnya menyerah. Sebenernya merasa nggak enak karena dibayarin, tapi nolak kebaikan orang juga gak enak. Mungkin bagi orang yang udah kerja seperti beliau, ngebayarin makan di Sukiya itu bukan hal besar. Tapi gw merasa diberkati saat itu. Rezeki anak soleh gitu. Hahahaha Well, inilah the first megumi of the month.


Dua, listening ulangan semesteran sekolah, yang biasanya paling gw takuti karena susah bangettt, entah kenapa gak susah-susah amat. Antara soalnya memang gampang atau kemampuan gw yang meningkat. Tapi kayaknya yang kedua itu lebih mungkin. Karena demi EJU, wali kelas gw, Koike sensei, selalu kasih latihan listening tiap minggu sejak bulan April. Di sini gw sadar, EJU mungkin adalah suatu tantangan, rintangan yang harus gw lalui untuk masuk universitas, tapi tanpa disadari, EJU ini juga menjadi alat yang mendidik gw. Tanpa latihan soal-soal EJU, mungkin listening kemaren gak akan semudah itu buat gw. Dari EJU dan JLPT gw juga belajar untuk membaca passage bahasa Jepang. Kalo gak ada dua tes itu, apa yang gw udah pelajari di sekolah mungkin gak akan dimanfaatkan. Gw merasa sangat beruntung dengan adanya EJU dan JLPT yang meski membuat hidup gw agak menderita, tapi merekalah yang menempa gw untuk berkembang.

Tiga, setelah selesai 一斉試験, gw dan temen-temen sekelas pergi makan yakiniku all you can eat. Sebenernya harusnya ada sensei juga, tapi karena Gary telat dan harus ikut susulan hari itu juga, sensei, dia dan ada orang lain gitu yang gak jadi ikut. Tapi setelah itu, pada pergi karaoke dan malemnya makan sama sensei. Nah, pas makan-makan ini, mulailah kita ngegosip tentang pasangan ngehitz yang gw ceritain di post sebelumnya. Jadi cerita ini ada kelanjutannya guys guys sekalian. Si cowok udah diterima di suatu universitas dengan program bahasa Inggris sejak bulan April atau Mei gitu. Makanya dia rada males-malesan gitu di sekolah. Lalu, si cewek yang tadinya mau masuk jurusan Biologi-biologi gitu, tiba-tiba daftar ke univ yang sama kayak cowoknya, jurusan Psikologi. Dan diterima. Terus bulan September ini mereka akan keluar sekolah bareng. Gw kayak... WHAT??? Kenapa lw korbanin mimpi lw demi cowok??? Well, I don't know if it is really her dream or not. Tapi apa yang udah dia perjuangin selama ini, usaha dia, masa iya segitu mudahnya terlupakan karena satu orang? Menurut gw sih ya, ini mungkin pikiran yang agak egois, "Kita dilahirkan sendiri, mati juga sendiri. Bukankah itu artinya dalam hidup kita ini, yang paling penting adalah diri kita sendiri?" Yang namanya pasangan hidup itu ada untuk melengkapi, tanpa merusak cita-cita atau mimpi kita. Oh terus ada lagi, cerita yang mendukung cerita ini. Di dunia maya, ada seorang anak muda Indonesia yang lagi jadi bahan omongan karena gaya pacaran dia yang vulgar, dll. Lalu dia putus sama cowoknya. Terus dia upload video ke youtube dan cerita beberapa pengorbanan yang pernah dia lakukan buat cowoknya sambil nangis-nangis. Lagi-lagi gak masuk akal. Pake kunci jawaban buat UN lah, gak jadi kuliah kedokteran, beli rumah biar deket cowoknya. Melihat pengalaman dia dan pasangan yang tadi, gw kembali merasa beruntung. Sampai saat ini, hidup gw masih milik gw.

Empat, tanggal 25 Juli kemaren, hasil EJU dibagi coy!!! Hasilnya sangat di luar dugaan! Terutama bahasa Jepangnya. Berikut nilai gw :
Listening  143/200
Reading   165/200
Writing      50/50
Fisika        65/100
Kimia        65/100
Mat         160/200
Listening + Reading biasanya yang dilihat oleh univ sebagai seleksi dokumen. Dan di EJU yang bulan Juni ini, total nilai gw 308! Ini bagus banget menurut gw. Gw pikir reading gw 140 an, dan listening gw... duh berapa ya, 100 aja udah bagus kayaknya. Tapi kenyataannya bisa dapet segini! Gw merasa ini ada faktor hoki dan campur tangan Tuhan.
Writing juga! Gw pikir writing gw berantakan dan gak jelas. Tapi ternyata, dapat nilai sempurna! I will post about this later.
Fisika kimia, udah sempet nyocokin sama kunci jawaban tempat les orang tembok, dan nilainya memang kira-kira segitu sih.
Matematika sebenernya dibanding try out dan perkiraan gw lebih rendah, tapi gapapa, aku akan belajar lagi supaya bisa dapet nilai sempurna!

Lima, rapot gw bagus! Biarpun yang maksud cuma selembar kertas yang gak dipake buat daftar univ, tapi gw seneng banget. Listeningnya lumayan bagus daripada yang sebelum-sebelumnya! Writing sama speaking juga bagus banget. Padahal speaking gw hancur menurut gw. Reading sama kanji agak turun sih, tapi gw sudah melakukan yang terbaik! Matematika lumayanlah, masih perlu latihan. Fisika, kata Ooki sensei, harus lebih banyak latihan soal. Kimia... nilainya turun sih, tapi haft, gimana ya... soalnya memang susah menurut gw. Bahasa Inggris gw jelek, tapi gw gak terlalu peduli sebenernya. Karena semua dapet nilainya rata-rata segitu juga. Kemudian, gw ranking 2 dari 40 anak (2 kelas) dan ranking 1 di kelas A4. Yeay!!! Sebenernya beda nilainya dikit banget sih, tapi gapapa, ini juga berkat.

Enam, di QR bulan April-Juni gw mencoba curhat ke Inoue san. Gw ceritain beberapa uneg-uneg gw, dan ternyata, beliau adalah tempat curhat yang tepat :'). Jawabannya bijaksana banget. Kayak misalnya pas gw cerita ortu n adik gw pergi jalan-jalan. Gw sedih karena mereka jalan-jalan setelah gw di Jepang. Kenapa gak pas dulu gw di rumah? Gw inget banget liburan gw yang seringkali gw lalui dengan lumutan main komputer di rumah. Apa karena gw makannya banyak jadi ngabisin uang jalan-jalan gitu? Tanggapan beliau adalah : Pikiran yang menarik, tapi daripada memikirkannya secara negatif, seharusnya kamu berpikir bahwa dengan mendapatkan beasiswa, keluargamu jadi punya uang lebih untuk jalan-jalan. Itu artinya, kamu sudah berkontribusi untuk kebahagiaan keluarga kamu. Nanti ketika kamu pulang ke Indonesia, pastinya kamu akan disambut dengan hangat. Saat itu, bermanja-manjalah sepuasnya pada orang tuamu.
Kurang lebih isinya begitu. Bijaksana banget kannnn... Gw rada menyesal gak curhat di report sebelumya. これから、相談に乗ってほしいです。よろしくお願いします。

Yak, kira-kira itulah berkah yang gw terima bulan ini. Sejujurnya waktu awal nulis, gw cuma kepikiran tiga hal, tapi sambil menulis, muncul 3 hal lagi. やっぱり、書き方の一番は書き始めることだ。

Jumat, 01 Juli 2016

Tentang Pacaran

Akhir-akhir ini pandangan gw mengenai 'pacaran' berubah.
Dulu gw kebanyakan baca novel remaja yang isinya cinta-cintaan, nonton film romantis, dsb. Pacaran itu kayak hal yang harus dilakukan mulai dari usia belasan tahun. Kalo jomblo tuh bayangannya menyedihkan gitu. Malem minggu gak ngapa-ngapain, gak ada yang meluk kalo lagi sedih, dan hal-hal yang berkebalikan dari novel-novel romantis itu. Sebagai jomblo, gw merasa sedih datta.

Tapi sekarang, kalo gw ngeliat orang pacaran, yang lagi icha icha suru gitu ya, itu JIJIK. Gw yang dulu mungkin mikir, "Ih romantis banget ya... Unyu bangettt..." Tapi sekarang pengen muntah.
Bermula dari satu pasangan di asrama. Keduanya orang tembok. Mereka hampir tiap malam bermesraan di asrama. Gak parah-parah amat sih sebenernya. Paling pelukan, senderan ke bahu, pegangan tangan. Yang gelinya adalah, setiap pagi, gw selalu ketemu si cewek, dengan muka bantal baru bangun tidur, nyiapin sarapan buat dia dan cowoknya. Rajin banget, pikir gw. Masak buat si cowok pagi-pagi. Gw masak buat diri gw sendiri aja belom tentu mau. Apalagi buat orang lain. Rasanya kok jadi agak enggan pacaran ya.

Yang kedua, cowoknya orang tembok, ceweknya orang jajahan tembok. Mereka itu sering banget bermesraan di area asrama. Misalnya, tidur di paha pacarnya, pelukan, ceweknya benerin dasi cowoknya, dan yang paling parah, ciuman. Parahnya, mereka suka ciuman di tempat-tempat yang tidak terduga. Kayak misalnya di tangga lantai 2. Malem-malem, pas gw mau mandi dan ngelewatin pintu yang mengarah ke tangga, kan berasa gitu ya kalo ada orang. Pas nengok, eh ada mereka lagi ciuman. Pernah juga di pojokan deket vending machine. Pojokan itu gelap, dan tentunya gak bakal nyangka dong kalo ada orang di situ. Kenyataannya ada mereka lagi ciuman. Geli banget. Mereka kayak gitu hampir tiap malem. Gw sama dengan mereka, masih murid sekolah bahasa. Ya walaupun mereka bakal lulus duluan, tapi kok kayaknya mereka santai banget ya. Gak belajar, gak review, gak ngurusin daftar-daftar kuliah atau apa gitu.

Ketiga, pasangan yang baru jadian. Dua-duanya orang tembok dan sekelas sama gw sejak bulan April. Waktu awal masuk, mereka kayaknya masih temenan. Keliatannya belum terlalu deket. Anyway, gw kenal sama si cewek udah dari tahun lalu. Dan dia baiiikkkkk banget. Kayak malaikat gitu, cantik, selalu senyum, mau nyapa siapa aja. Bulan Mei, mereka sering kelihatan berdua. Setelah pulang sekolah, mereka masih suka duduk-duduk di kelas, ngobrol-ngobrol.
Suatu hari, gw lagi jalan pulang ke asrama malem-malem. Hari itu hujan, dan gw melihat ada dua orang yang lagi berdiri sambil payungan deket pagar asrama. Ternyata itu adalah mereka berdua. Nah, sejak saat itu mereka semakin parah. Si cewek jadi menjauh dari temen deketnya di kelas. Gak cuma temen deketnya sih. Semua orang sebenernya. Setiap jam istirahat siang maupun sela antar jam pelajaran, mereka selalu ngobrol berdua atau pergi entah ke mana. Warna baju mereka sama. Item item atau putih putih atau pernah juga si cowok pake atasan putih bawahan item, ceweknya pake atasan item, bawahan putih. Geli kan? Terus gw pernah liat lagi, mereka malem-malem nongkrong di depan asrama, entah ngapain padahal udah hampir jam 11 gitu. Lanjut lagi... Di kelas mereka saling ngobrol lewat chat. Jadi gak merhatiin pelajaran, tapi asik main hp. Untungnya guru gw peka, jadi beliau sering negur dua anak itu.
Kemudian, mereka udah mulai berani ciuman. Biasanya di jam istirahat mereka pergi ke kelas yang kosong dan ya tau sendiri lah ya. Lalu, berita paling baru yang gw denger adalah, mereka ciuman sambil jalan. Nah ini dia yang menurut gw paling jijik.
Lalu, pernah juga pas lagi latihan listening di ruang audio visual, si cewek meninggalkan sahabatnya dan duduk bersama si cowok. Terus kalian harus tau guys, mereka gak pake headphone dengan cara biasa. Headphone yang harusnya ditaruh di kepala, malah ditaruh di atas meja, volumenya digedein, dan didengerin berdua. Apa mereka gak tau cara pake headphone??? Gw bete ngeliatin mereka, dan temen gw yang orang Thailand sampe nanya, "Stephanie, kamu gapapa?" Hahaha muka gw kayaknya gak bisa menutupi perasaan deh. Tapi ya, lebih parahnya lagi, si cewek ini tiba-tiba menghampiri sahabatnya buat ngeliat jawaban sahabatnya -_- plis deh, kalo gitu mah 練習の意味が無い。
Oh iya, sebentar lagi ada perayaan Tanabata. Tentang dua bintang (Hikoboshi dan Orihime) yang hanya bisa bertemu setahun sekali di tanggal 7 Juli. Dan biasanya orang-orang akan mengajukan permohonan-permohonan. Nah, di sekolah gw, ditempel kertas yang bisa dipake buat nulis permohonan itu. Dan kedua orang itu nulis sesuatu entah apa pake bahasa Inggris, maaf tulisannya jelek banget gw gak bisa baca, intinya ada kata-kata 'be this moment'. Trus tanda tangan mereka berdua, ditulis di atas kertas warna pink. Plis deh. Di antara kertas-kertas lain yang isinya memohon kesehatan, lulus ujian, kesuksesan kouhai-kouhainya supaya bisa belajar ke Jepang, ada aja yang isinya kayak gitu.

Oke, balik ke topik utama. Karena ketiga pasangan itu, gw jadi jijik sama pacaran. Kayaknya gak cuma gw sih, banyak orang yang merasa jijik juga datte.

Pandangan gw sekarang, pacaran tuh mengekang kebebasan. Lw pake baju diatur-atur, tiap hari harus sediain waktu buat pacar, lw gak bisa bebas nentuin lw mau ke mana, ngapain, hidup lw kayak bukan punya lw lagi.
Ditambah lagi, baru-baru ini gw nonton drama Jepang. Judulnya 私結婚できないんじゃなくて、しないんです atau dalam bahasa Inggris, "It's not that i can't marry. I don't marry." atau dalam bahasa Indonesia, "Saya bukannya tidak bisa menikah, tapi tidak menikah."
Cerita singkatnya, si cewek pemeran utama adalah dokter kecantikan yang punya klinik sendiri. Usianya udah 39 tapi dia belum menikah. Rencananya dia mau menikah sebelum umur 40. Lalu dia berusaha mengejar gebetannya waktu SMA dulu.

Ceritanya waktu SMA, dia itu anak yang rajin banget, bisa dibilang nerd. Kerjanya belajar mulu. Tapi pada akhirnya, dia bisa buka klinik sendiri dan sukses.

Lalu gw sadar, oh iya ya. Harusnya gw kayak dia. Berusaha keras di masa muda. Pasangan hidup gak usah dipikirin segitunya. Yang penting itu mengejar cita-cita, sukses, membahagiakan orang tua. Masalah pasangan itu cuma satu bagian dari hidup. Dan yang namanya jodoh kan gak kemana. だから、心配することはない!

でも、多分日本で留学しているため、私の考えは変わった。Sejak datang ke Jepang, gw bebassss. Gw gak pernah mendapat kebebasan kayak gini sebelumnya. Gw bisa pergi ke mana aja sendiri, gak usah izin, gak usah dianterin. Gw bebas mau makan apa tiap hari. Gak makan pun, gak ada yang peduli. Gw bebas mau melakukan apapun dengan cara gw. Mungkin karena golongan darah B kali ya. Yang katanya gak suka diatur. Dulu gw gak pernah percaya dengan hal itu karena gw gak suka melanggar peraturan sekolah atau peraturan rumah. Sampai akhirnya gw mendapat kebebasan. Tenang aja, gw tetep bertanggung jawab kok, bukannya jadi liar gitu. Nah, mungkin karena gw senang dengan kehidupan yang kayak gini, gw jadi takut kalo punya pacar, gw gak akan sebebas ini lagi. 今はこの自由を楽しめているところ。できるだけこの時を大切にしようと思ってる。At least for now.