Jumat, 05 Desember 2014

Don't judge a book by its cover



Judul post ini, mungkin udah familiar banget, ya. Bahkan banyak orang udah bosen dengernya. Tapi baru bulan lalu gw menyadari betul makna dari kalimat tersebut.
“Don’t judge a book by its cover” -> “Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya” -> “Jangan menilai orang dari penampilannya”
                Kisah ini bermulai dari seorang guru. Di sekolah, guru ini mempunyai cara mengajar yang agak berbeda. Sebetulnya tidak ada yang salah dari cara mengajarnya. Tetapi, ada beberapa murid yang tidak sreg dengan cara seperti itu. Lama-kelamaan, efeknya semakin terlihat. Banyak murid menjadi kurang hormat pada guru tersebut.
                Kemudian, suatu hari saya iseng mencari blog milik beliau. Saya tidak menyangka, ketika membaca post di blog itu, saya seperti melihat beliau dari sisi yang berlawanan 180°. Beliau adalah seorang yang hebat. Beliau adalah seorang yang tangguh. Beliau bukan ‘berbeda’ tetapi ‘unik’. Apa yang saya lihat sehari-hari dalam diri beliau sama sekali tidak memperlihatkan apa yang sudah beliau lalui sepanjang hidupnya. Saya baru tahu bahwa beliau orang yang berpikir kreatif dan bijaksana. Dan apa yang telah dilaluinya adalah pengalaman berharga yang sesungguhnya.
                Saya merasa sangat sedih saat itu. Selain merasa bersalah pada beliau, saya juga sedih karena membayangkan orang hebat seperti beliau kurang dihormati oleh orang lain. Tidak ada bedanya dengan karunia Tuhan yang diremehkan banyak orang. Bagaimana kalau seandainya itu terjadi pada kita sendiri? Ketika kita sudah mengembangkan talenta kita sebaik mungkin, berusaha sekeras yang kita bisa, merasakan asam garam dunia sesungguhnya yang akhirnya membentuk kita menjadi pribadi yang luar biasa, tetapi kita diabaikan dan tidak dianggap. Tidakkah menyakitkan?
                Apa yang saya lakukan selanjutnya, pasti sudah bisa kalian tebak. Mengubah cara pandang saya terhadapa guru tersebut. Kini saya lebih menghargai beliau dan tidak hanya beliau, karena semua orang memang pantas dihargai.


Rabu, 03 Desember 2014

Random thoughts, crazy idea



Post ini hanyalah pikiran-pikiran spontan yang muncul ketika dihadapkan pada sebuah persoalan. Dari pikiran-pikiran itu, muncullah ide-ide gila yang mungkin tidak akan terpikirkan oleh orang lain. Tapi mungkin saja yang 'gila' inilah yang tepat untuk mengatasi masalah.

Masalah yang harus kita hadapi selama beberapa tahun ini adalah korupsi. Terutama korupsi yang dilakukan para pejabat negara, seperti para menteri, pengurus partai dll. Menurut saya, penyebab utama dari korupsi ini adalah keserakahan manusia. Tetapi dibalik itu semua, kampanye partai adalah hal yang harus diperhatikan. Kampanye yang dilakukan selalu menghabiskan biaya yang sangat besar. Baik untuk spanduk, baliho, kaus, dll. Karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan, keserakahan mulai menguasai pikiran orang-orang yang mengeluarkan biaya tersebut. Sehingga mereka menginginkan uang mereka kembali. Bahkan dalam jumlah yang berlipat ganda. Hingga pada akhirnya, posisi di pemerintahan menjadi alat untuk memperkaya diri dengan cara yang tidak halal.

Ide saya sebagai solusi untuk memecahkan masalah ini adalah mengubah cara kampanye yang mahal. Tujuan utama kampanye, selain mengenalkan diri pada masyarakat juga untuk mengajak masyarakat agar memilih calon tertentu. Mengapa cara itu harus dilakukan dengan memasang ribuan spanduk, bendera, atau bahkan konvoi yang menimbulkan kemacetan? Bahkan memasang iklan di media cetak atau pun media elektronik. Media umum seperti itu seharusnya netral dan tidak memihak. Karena bagi calon yang tidak semakmur calon lainnya, tentu akan kalah pamor. Hal ini tidak adil menurut saya. Iklan-iklan tersebut, bagi saya, tidak lebih dari keinginan untuk menyombongkan diri dan secara tidak langsung memaksa masyarakat untuk mengenal dirinya sebagai orang yang baik, bertanggung jawab, dsb.

Kampanye yang menurut saya lebih tepat adalah mengumpulkan calon pada satu tempat, dan disediakan kamera dari stasiun televisi. Pada acara tersebut, setiap calon akan memperkenalkan dirinya, menyebutkan visi misinya dan menunjukkan bakat masing-masing. Menyanyi, memainkan alat musik, berpuisi, stand up comedy, atau apa saja asalkan tidak menghina peserta lain. Lalu bisa ditambah dengan debat antar calon dan juga wawancara. Tidak membutuhkan biaya yang banyak kan? Dan saya rasa, adil untuk semua calon.

Itulah sebutir ide aneh yang muncul dalam pikiran saya ketika melihat berita tentang korupsi yang merajalela.
Semoga bisa menginspirasi orang lain untuk mengutarakan ide-ide unik yang tak pernah terpikirkan.

Selasa, 02 Desember 2014

Tips memilih jurusan



Kelas 12 ini, gw dapet tugas untuk bikin desain web. Kelompok gw memutuskan untuk memilih tema jurusan karena gak kepikiran tema lain dan semua anggota kelompok setuju dengan tema tersebut. Nah, karena itu, gw membuat artikel tentang tips memilih jurusan. Silahkan dibaca, ya! Semoga bermanfaat…

TIPS MEMILIH JURUSAN

1.       Mulai sedini mungkin!
Jangan memilih jurusan pada tahun ketigamu di SMA. Lakukanlah pemilihan itu sejak awal SMA atau bahkan sejak SMP.  Dengan begitu, jika kamu sempat berubah pikiran, masih ada cukup waktu untuk memilih.


2.       Jangan ikut-ikutan!
Kamu adalah kamu. Orang lain adalah orang lain. Tidak ada manusia yang sama. Oleh karena itu, jangan mudah terpengaruh dengan orang lain. Biarkan mereka menjadi apa yang mereka mau dan kita menjadi apa yang kita mau. Cita-cita mereka bukanlah cita-cita kita. Jadilah dirimu sendiri dan temukan jati dirimu.


3.       Tentukan tujuan hidupmu!
Setiap manusia memiliki tujuan yang berbeda dalam hidupnya. Tujuan tidak hanya satu, kamu bisa menentukan lebih dari satu, misalnya : gaji besar, jabatan tinggi, pekerjaan aman, memiliki banyak waktu untuk keluarga, menolong orang lain, terkenal, cepat mandiri dan lain-lain. Urutkan tujuan hidup tersebut mulai dari yang paling kamu inginkan.
Tujuan itu akan menjadi salah satu faktor yang menentukan jurusanmu. Jika kamu ingin cepat mandiri, tentunya jurusan kedokteran bukan hal yang tepat. Jika kamu menginginkan pekerjaan yang aman dan tidak menantang atau berisiko, jurusan bisnis tidak cocok denganmu.

4.       Galilah dan kembangkanlah talenta dirimu!
Temukanlah kemampuan yang kamu miliki. Mungkin kamu sudah menemukannya sejak dulu, seperti menyanyi, memainkan alat musik, berhitung, menggambar, olahraga dan masih banyak lagi. Tetapi, jika kamu tidak merasa memiliki talenta dalam hal-hal di atas, cobalah hal-hal baru yang belum pernah kamu lakukan. Seperti misalnya, berbisnis kecil-kecilan, berpartisipasi dalam suatu organisasi, magang di hotel, majalah atau restoran.  Mungkin saja bakatmu adalah berbicara di depan umum, bernegosiasi, atau hal-hal lain yang jarang disadari.

Selain itu, mengikuti psikotes juga bisa menjadi salah satu cara untuk menemukan talentamu. Psikotes biasanya cukup mahal, tetapi ada juga psikotes gratis yang bisa kamu akses di internet seperti :

Hasil tes tersebut bukanlah hal yang mutlak dan 100% benar, tapi bisa dijadikan langkah awal untuk mencari informasi. Setelah menemukan talenta itu, kembangkanlah!


5.       Cocokkan talentamu dengan aktivitas yang kamu sukai!
Terkadang, kita menyukai kegiatan tertentu meskipun kita tidak terlalu ahli di bidang itu. Tetapi, dalam menentukan jurusan, usahakan bidang yang kamu pilih adalah bidang yang kamu kuasai dan kamu sukai. Sehingga ketika kuliah hingga bekerja nanti, kamu akan menikmatinya dan tidak merasa terbebani. Selain itu, kamu juga bisa lebih berprestasi di sana. Dari hobi atau kegiatan yang kamu sukai, carilah yang merupakan salah satu talentamu juga. Itulah yang kira-kira bisa menjadi acuan untuk mencari jurusan.

Kamu juga bisa membayangkan dirimu yang menjalani suatu profesi tertentu di masa depan. Apakah sesuai dengan tujuan hidupmu? Apakah kamu akan menyukainya?


6.       Carilah informasi sebanyak-banyaknya!
Dengan adanya internet, mencari informasi adalah hal yang sangat mudah. Yang penting adalah bagaimana manusia menggunakannya. Carilah informasi tentang jurusan-jurusan yang sempat terbayangkan olehmu karena sesuai dengan bakat dan hobimu. Jika ternyata kamu merasa tidak cocok dengan jurusan itu, jangan berhenti mencari. Jumlah jurusan yang tersedia tidak hanya satu atau sepuluh saja, melainkan ratusan atau bahkan ribuan. Hanya saja, tidak semua jurusan itu banyak diminati. Jurusan yang kurang diminati bukan berarti tidak memiliki prospek kerja yang bagus. Mungkin saja, banyak masyarakat yang tidak mengetahui peluang kerja  jurusan tersebut. Justru, dengan sedikitnya peminat di bidang tersebut, sainganmu akan berkurang.

Contoh website yang memberikan informasi mengenai jurusan :

Kemudian, jika kamu sudah menemukan jurusan yang pasti, carilah universitas yang mempunyai program studi di jurusan tersebut!


Catatan tambahan :
Ada kalanya kita khawatir jika karir kita nanti tidak sesuai dengan jurusan kuliah kita. Itu bukan masalah. Karena yang penting adalah kita mempelajari apa yang kita suka dan menyukai apa yang kita pelajari. Jika nantinya kita menjalani karir yang tidak sesuai dengan jurusan kita, itu adalah masa depan. Yang penting adalah kita menikmati setiap momen dalam hidup kita dan bahagia menjalaninya.

SELAMAT MENCARI JURUSAN!!!


Minggu, 30 November 2014

Kembali




Halo blog-ku tersayanggg… Udah lama banget gak nge-post (klise banget kata-katanya). Memasuki kelas 12, gw dan teman-teman seangkatan semakin sibuk dan tingkat kemalasan gw juga meningkat sepertinya. Hahaha… Padahal gw suka nulis di blog.
               
Nulis di blog itu kayak curhat dan curhatnya unlimited. Gw bebas nulis sepanjang apa pun dan tentang apa pun yang gw mau, dengan bertanggung jawab, tentunya. Dan lagi, gw gak perlu capek ngomong atau ngetik berkali-kalI ke orang-orang yang berbeda. Cukup ketik sekali, dan orang-orang yang mau tahu tinggal baca. Sayangnya, curhatnya belum tentu dapet tanggapan. Hahaha 
                 
Masih banyak kok kelebihan blog. Misalnya, gw bisa masukin gambar, link web, video, lagu dan bahkan gw bisa hias sendiri. Ya, di buku harian juga bisa sih. Tapi kan sayang kalo harus nge-print gambar banyak-banyak buat di tempel di diary. Iya, gw cipe. Selain itu, nulis link web di diary kan makan waktu dan ribet banget ya. Susah juga kalau mau masukin video atau lagu ke diary. Btw, ini kenapa jadi paragraph perbandingan ya? Hahaha, efek belajar kayaknya.
                 
Nah, supaya blog ini bangkit dan hidup kembali, gw akan nge-post sebanyak-banyaknya yang gw bisa selama libur Natal ini. Keep reading, guys!

Minggu, 06 Juli 2014

Pojok Jendela Kelas

Temen.... Gw bukan tipe orang yang mudah berteman dengan orang lain, bahkan mempertahankan pertemanan. Misalnya waktu kelas 9, gw malah ninggalin temen baik gw hanya karena gw merasa diterima oleh kelompok lain. Pada akhirnya, gw sendiri, tanpa temen. Dan temen2 SMP yang masih deket sama gw bisa dihitung dengan dua tangan. Yang lain? Udah jadi orang asing. Cuma sekedar tau, tanpa komunikasi. Mungkin itu juga menunjukkan, orang2 yang bener2 temen atau yang 'temen'.

Masuk SMA, gw mulai ngeliat, teman itu penting. Karena mereka yang berjuang bersama kita, mendukung kita, dan membantu kita dalam setiap kondisi. Dari dulu gw selalu mencoba berteman dengan semua orang. Tapi, kalo ada tanda2 bahwa orang itu gak suka sama gw, atau kita emang gak nyambung, ya gw mundur. Gw emang gak friendly. It's not easy to make a new friend, for me. Dan yah, gw emang galak dan sangat egois. Makanya banyak orang yang nganggep gw sombong, gak mau ngajarin dll. Ya, terserah mereka.

Di kelas 10, belom ada yang jadi sahabat deket. Kayak... semua orang sama gitu. Gak ada yang lebih deket, gak ada yang lebih gak deket. Sampe akhirnya, surprise ultah ke-16 gw. Gw langsung mikir, orang2 yang ngasih surprise itu menganggap gw sahabat dan termasuk kelompok mereka. Jadi, gw semacam menutup diri dari temen2 di kelas gw karena gw merasa udah menemukan yang cocok. Ujung-ujungnya, gw tau kalo gw salah. Gw gak dianggap sahabat oleh semua orang yang ngasih surprise. Cuma beberapa yang iya. Sisanya? Entahlah. Sakit hati sih, karena ditolak gitu. Tapi gw telat. Itu udah bulan Oktober dan satu kelas udah nemuin sahabat masing2.

Awalnya gw pikir gw akan sendirian lagi selama sisa kelas 11 ini, tapi nggak.
Kali ini gw beruntung, ada 8 orang yang mau menerima gw bersama mereka :
1. Isselin Moektijono
28 September 1996
Astronot-wanna-be, kayak cowok korea, hobi bermulut ikan, dipanggil 'Cici' karena dia paling tua, atau bisa juga 'Koko'


2. Anna Jeanne
14 November 1996
Si mungil yang paling kawaii, gambarnya bagus... BANGET.



3. Irene Natalia
11 Desember 1996
Jago gambar, teman mem-bully Cornel dan Issel


4. Jeanne Sigit
17 Desember 1996
Ahli gambar, SUPER TINGGI, bentar lagi pindah ke Inggris :'''''''''' Kita kehilangan seorang yang tinggi... Pokoknya oleh2 buat gw harus Benedict Cumberbatch


5. Cornelia Praditha Lyman 
23 Februari 1997
Satu SMP, peminjam buku terbanyak ketiga di marsud dan... agak sulit mendeskripsikan dia. Silahkan tebak sendiri. 


6. Veronica Adeline
23 Juni 1997
Narsis, pusing kalo jalan sama dia, karena setiap dua meter ada barang lucu. Hahahaha 


7. Tamara Susanto
5 September 1997
Berpengalaman dalam relationship hahahaha, multi-talented, tulisannya super bagus, aksennya keren, apalagi kalo ngomong bahasa Jerman.


8. Priska Reysa
14 November 1997
Temen ngomongin cogan, pemain angklung, bekelnya roti.


Seneng banget bisa sekelas sama mereka dan berteman tentunya. Mereka asyik dan saling pengertian dan mendengarkan. Kita kompak terutama dalam hal-hal tertentu seperti mem-bully Cornel. :P 
Eight months are not enough. But forever will never enough too.



I've never had a sister, but now I have eight. :')













I LOVE YOU ALL...

I'm back!

6 bulan gak nulis. Ckckckck males.
Banyak banget yang mau ditulis tapi gak pernah nyata. Mirip sama ide2 gw yang gak direalisasikan atau yang gak direalisasikan dengan baik.

Gw udah dinyatakan naik kelas 12. Saat gw akan mengikuti Ujian Nasional lagi. Dengan materi yang lebih banyak.... ._. Tapi gw gak ikut les apa2. Karena waktunya mepet dan gw males. Misalnya BTA, buat masuk universitas negeri, lesnya hari MINGGU! Hari minggu adalah satu2 nya hari yang memperbolehkan gw bangun siang dan agak santai. Gw butuh itu. Banget.

Selama 6 bulan, banyak yang terjadi, banyak yang gw alami, dan dari situ juga gw banyak belajar. Terutama tentang temen.

Di semester 2 ini, gw merasa nilai2 gw turun. Dan gw menyiapkan diri untuk turun ranking. Meskipun takut, gw berusaha rela dan menerima. Tapi Tuhan berkata lain. Peringkat gw naik, mukjizat... Puji Tuhan. Walau sebenernya cuma kebetulan. Gw belajarnya gak sungguh2, ngerjain tugas juga gak maksimal, ya.... Itulah mukjizat dan juga kebetulan.

Lalu gw pergi live in ke Kalirejo. Guru2 gw banyak cerita tentang pengalaman tahun2 sebelumnya dan juga karakter masyarakat di sana. Padahal, keluarga angkat gw di sana itu... beda banget sama yang diceritain guru2. Perbedaannya bisa dibilang negatif. Ah, tapi itu kan pengalaman.
Keluarga ini adalah keluarga besar. Rumah mereka juga besar. Terdiri dari Kakek, Nenek, Ibu, Paman, Tante, dan 3 cucu laki2. Agak salah sebenernya kalo gw yang ditaro di situ. Karena gw udah enek sama adek cowok. Yang satu umurnya setahun di atas gw, dua lagi kelas 2 sd dan tk. Alhasil, anak2 kecil itu membenci gw. Tentu saja. Cerita live in ini panjaaaaaaaaaaannnnnggggggggg banget. Tapi gak semua bisa gw ceritain di sini. Ada hal2 yang memang harus dirahasiakan.
Hal terpenting yang gw pelajari dari live in ini :

BAHAGIA = PILIHAN

Mengapa mereka bahagia?
Karena mereka memilih untuk bahagia.
:)